Postingan

Bersyukur dengan porsi diri sendiri

Bersyukur dengan Porsi Diri Sendiri Kemarin, aku kirimkan foto ke Gebi saat aku sedang menebang ranting-ranting pohon di halaman. Belum sempat aku memberi keterangan pada gambar itu, pesan dari Gebi masuk. "Memang apa yang ingin kau katakan lewat foto itu, Ho?" "Tidak ada maksud tertentu sih. Aku cuma mau bilang, lagi bersih-bersih halaman. Sekalian ingin tanya kabar dan mengucapkan selamat pagi. Itu aja. Memangnya nggak boleh ya Geb?" "Oooh... Aku pikir kau sedang ingin membuktikan sesuatu." "Membuktikan apa? Tidak ada yang perlu aku buktikan. Keseharianku ya memang seperti itu, nggak jauh-jauh dari golok, sapu dan pengki..."  "Itu namanya self acceptance..." Gebi menimpali. "Iya. Penerimaan diri. Memang ini porsiku. Aku akan jalani bagianku dengan sebaik-baiknya. Dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab. Jalan hidupku memang seperti ini. Aku tidak malu mengakuinya. Tidak juga berusaha menyembunyikannya." Aku mengatakannya d...

Mengumpulkan Pecahan-pecahan Genteng

Mengumpulkan Pecahan-pecahan Genteng Sudah kurencanakan dari jauh-jauh hari untuk menimbun jalan masuk menuju rumahku. Sebentar lagi puncak musim hujan. Jalannya rusak parah, setelah dilalui oleh mobil saat bolak-balik mengangkut kayu tebangan di kebun. Waktu itu pemborongnya berjanji akan memperbaiki kembali jalan yang rusak. Namun, setelah menunggu sekian lama, dia tak kunjung menepati janjinya juga. Selalu mengulur waktu. Dengan berbagai alasan. Aku pun jadi malas untuk bertanya lagi. Awalnya aku marah. Merasa dibodohi. Tapi sudahlah... Apa ada gunanya? Jalan tetap rusak, sedangkan datangnya musim hujan itu sesuatu yang pasti. Akhirnya aku putuskan untuk perbaiki sendiri. Sedikit demi sedikit. Semampuku... Setelah pembagian raport, aku langsung pulang. Si bungsu kubawa serta. Selama libur sekolah, biarlah dia di rumah merajut. Sementara aku membereskan beberapa urusan.  Jalan setapak ini dibuat tak lama setelah aku dan suamiku menikah. Pecahan-pecahan genteng diangkut menggunaka...

Berkunjung

Berkunjung Oleh : Ratnavati Hari ini aku jalan pagi lagi, setelah dua hari absen. Dapat lima balikan. Kira-kira setara dengan 1,5 km. Cukuplah untuk hari ini. Aku nggak mau terlalu forsir. Kakiku belum sembuh betul. Jalanku sudah nggak nyeret lagi sih. Tapi masih ada sisa rasa sakit di bagian lutut. Melati di samping rumah bermekaran. Baunya harum, menenangkan. Aku petik, dan dapat segenggam. Kemudian, aku duduk untuk cooling down, sambil menyeka keringat di dahi dan leherku. Aku amati sekeliling. Menarik nafas panjang beberapa kali. Setelah itu, perlahan-lahan memejamkan mata. Mulai memperhatikan keluar masuknya nafasku. Aku dapat merasakan sejuknya hembusan angin menerpa pipi, tangan dan menerbangkan anak rambutku. Hatiku terasa ringan. Aku buka mata, lalu bangkit dari dudukku. Kemudian berjalan ke belakang dapur. Memunguti buah kueni yang jatuh. Harum kueni menambah suka citaku. Pagi ini dapat sembilan buah. Lebih dari cukup untukku dan kakakku. Terimakasih Semesta untuk semua berka...

KTP

Lega rasanya. Akhirnya KTP putriku selesai juga, tepatnya pada hari ini, Rabu, tanggal 5 Juli 2023. Terimakasih Semesta. Terimakasih Mama Rama yang baik hati dan tidak sombong. Yang sudah mau barengan ke kantor Disdukcapil dan memberi tumpangan kepada kami. Awalnya, aku sudah berencana untuk naik kereta saja, berdua dengan anakku, untuk mengurus KTP-nya. Ndelala malah ditawari sama Mama Rama untuk berangkat bareng. Bersyukur, selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang siap membantu. Sehingga urusanku menjadi lebih mudah. Jauh-jauh hari sebelumnya, saat aku mengurus KK dan surat keterangan janda di desa, aku sudah cari info tentang persyaratan pembuatan KTP baru bagi pemula. Tahun ini anakku sudah berusia 17 tahun. Aku berencana akan mengurusnya saat libur sekolah. "Ayo, bareng aja Mi. Aku juga mau urus KTP Mas Rama. Biar Mami nyaman. Nggak kecapean. Lha wong sekalian jalan kok, Mi," ajaknya.  Awalnya aku sungkan juga. Takut merepotkan. Tapi dia meyakinkanku. "Nggak...

Pagar

Pagar Saat membaca pesan itu, aku tidak tau, apakah harus merasa senang atau sedih. "Ci, Pak Ali meninggal. Tgl 29Juni 2023, pukul 21.45 di RS Gatot Subroto." Pak Bani Salim, teman sekolah suamiku dulu, mengabari. Dia asli orang Cikampek, tinggal di dekat stasiun. Aku sungguh tak mengira akan mendapat berita seperti itu. Aku hanya menjawab singkat.  "Oooh..." Ingatanku membawaku kembali pada kejadian 14 bulan lalu. Saat di mana pagarku dirusak oleh lima orang anggota sebuah LSM, orang suruhan Pak Ali.  Saat itu, aku marah, kecewa dan sedih. Kenapa bisa setega itu? Aku buat salah apa? Dengan bercucuran air mata, aku berucap dalam hati. "Semoga Semesta akan memberi hukuman yang setimpal. Aku benar-benar tak rela. Ini sangat tidak adil buatku." Setelah kejadian itu, aku berusaha mencari tahu tentang Pak Ali. Sampai akhirnya aku berhasil mendapatkan nomor kontaknya. Aku pun sudah melaporkan kejadian tersebut pada polisi pembina desa di desa kami. Aku minta ber...

Didi

Kisah tentang Serda Ucok, Intelijen Kopassus yang menghabisi empat orang napi di Lapas Cebongan Sleman, Yogyakarta pada tahun 2013, memicu rasa penasaranku untuk mengetahui gambaran jelas tentang penjara. Apakah semengerikan Nusakambangan, atau Alcatraz yang ada di film-film dan tulisan yang pernah kubaca? Di grup kami, ada seorang teman yang tengah terkena musibah, dan terpaksa menghabiskan waktu untuk beberapa lama di lapas. Namanya Didi. Didi ditahan di Lapas Cipinang. Dinilai melakukan kelalaian yang mengakibatkan kerugian negara. Menanda tangani laporan bawahan tanpa melakukan check dan recheck. Sebagai atasan, dia harus bertanggung jawab. Dan dia membayar semua itu dengan kebebasannya sendiri.  Sebagai teman, jujur, aku sedih dengan masalah yang tengah melilitnya itu. Aku hanya bisa mendoakannya. Aku pun dapat  memahami, seperti apa kesedihan yang dirasakan oleh isterinya. Mereka berdua sama-sama teman semasa kuliah dulu. Aku merasa tidak berhak untuk menyalahkannya. Toh...

Sakit

Sakit Kota Baru, Rabu, 4 Januari 2023 (Pk 21:33). Sebenarnya aku sudah merasa agak meriang-meriang, jauh sebelum tahun baru tiba. Cuaca ekstrim membuat tidurku tidak nyenyak. Dingin luar biasa. Saat membuka kain jendela di pagi hari, aku  mendapati jendela kaca penuh dengan tetesan embun. Pola makanku pun agak terganggu. Aku tidak merasa lapar sama sekali. Tidak ada selera. Meski begitu, aku tetap berusaha mengisi perutku. Aku tak ingin jatuh sakit. Banyak PR yang belum selesai. Aku berusaha beraktivitas seperti biasa. Tolak angin sangat membantu. Aku sudah sedia satu pak.  Akhir-akhir ini, banyak kejadian datang menghampiri. Di luar prediksi. Mulai MCB terbakar, bangunan sayap kiri, bekas dapur mertuaku di sebelah barat, rubuh. Mungkin kejadian-kejadian itu yang membuatku kehilangan selera makan. Sampai di titik ini, aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa. Mati rasa. Namun, aku tetap berusaha menjaga kesadaranku. Apa pun yang datang padaku, harus kuhadapi dan kuselesaikan, ...