Postingan

naik kereta

Kesan dan pesan dari seorang ibu lansia pengguna jasa PT KAI... Dari sekian banyak moda transportasi yang ada, aku merasa lebih nyaman dan aman menggunakan kereta.  Bukan hanya karena harga tiketnya yang terjangkau, namun para petugasnya juga sudah dibekali dengan pengetahuan dasar tentang bagaimana menghadapi pelanggan. Sehingga, tidak hanya informatif, tetapi juga cepat tanggap dan ramah pada lansia. Selain itu, stasiunnya pun cukup bersih dan terawat. Tidak ada calo atau preman yang berseliweran di dalam area stasiun.  Aku sungguh mengapresiasi kinerja mereka.  Terimakasih PT KAI. Aku merasakan langsung manfaatnya. Keberadaan PT KAI memungkinkan kami, warga masyarakat biasa, bisa bepergian dengan nyaman dan tenang tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.  Semoga PT KAI terus maju, mempertahankan kinerjanya, melayani dengan hati, menjaga kepercayaan, dengan tetap mendukung mobilitas warga masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, tanpa rasa was-was.  Terim...

menua dan sakit

Menua dan Sakit Menjadi tua, tubuh melemah dan melapuk, kemudian meninggal, merupakan siklus yang pasti akan dilalui.  Sejak dari masa muda dulu, aku sudah sering mendengar tentang ketidak-kekalan.  Namun semakin menua ini, aku baru bisa memahami kedalaman makna dari kata-kata itu. Ada perasaan aneh yang menyusup pelan dalam hatiku. Mungkin perasaan sedih. Tiba-tiba menyadari, betapa cepatnya waktu berlalu. Sekarang sudah 60 tahun lebih aku hidup di muka bumi ini. Saat kecil dulu, aku ingin cepat-cepat jadi orang dewasa. Karena sebagai anak, merasa capek diomeli terus. Disuruh belajar ini itu. Harus menuruti perintah orang tua. Sembari dalam hati bertekad, kalau aku besar dan punya anak sendiri nanti, tidak akan segalak orang tuaku dalam mendidik anak-anakku.. .  Hahaha. Dasar pikiran bocah ya. Setelah punya anak sendiri, baru mengerti, ternyata jadi orangtua itu sangatlah tidak mudah. Pada kenyataannya, aku juga galak pada anak-anakku. Walaupun dengan alasan, demi pendis...

jj ciater

Temu Kangen di Ciater Tanggal 28 Oktober 2026 nanti kami merencanakan temu kangen di Ciater. Rencana ini tercetus begitu saja. Diawali dengan ngobrol-ngobrol biasa di grup Jurnalistik '85. Ditambah rencana Helly yang mau turun ke Bandung dari Bali. Kami makin semangat mematangkan rencana. Saling tarik menarik dan mengajak teman-teman lain untuk ikut bergabung. Demi terwujudnya rencana tersebut. Memasuki usia 60 tahun, memang sudah banyak di antara kami yang memasuki dan menjalani masa pensiun. Anak-anak sudah beranjak dewasa. Sehingga mulai berpikir untuk menggagas sebuah acara bersama, untuk sekedar kumpul dan ngobrol-ngobrol ringan.  Saat muda, kita disibukkan dengan berbagai macam tuntutan tanggung jawab. Membangun karir dan keluarga.  Setelah menua, saat anak-anak satu per satu meninggalkan rumah dan membangun masa depannya sendiri, kita pun mulai merasakan kerinduan untuk bertemu dan mengenang masa-masa muda kita dengan teman-teman lama. Mengenang masa di mana kita melaku...

keseleo

Keseleo Selama tiga hari, aku terpaksa berbaring, dan tak bisa  melakukan apa-apa. Waktu terasa melambat. Sesekali aku putar mantra atau doa.  Berharap hati dan pikiranku lebih tenang. Mendengarkan lagu-lagu country klasik, atau membaca pesan-pesan yang masuk. Untuk mengalihkan perhatian agar tidak terfokus terus pada rasa sakit yang mendera di pergelangan kaki kiriku. Rasa tidak nyaman itu sudah mulai terasa saat aku balik dari Jakarta dua minggu lalu. Waktu itu memang beberapa kali transit dan naik turun tangga di stasiun. Sambil membawa tentengan. Terasa sih kalau kaki tuaku ini sudah tak selincah dulu lagi. Refleknya melambat. Tapi begitulah, hati seorang ibu. Yang ada di pikirannya hanya makanan kesukaan anaknya. Mumpung ketemu. Jadi ya dibuatkan dan dibawakan, sekalian untuk bekal makanku sendiri di jalan.  Sebenarnya, yang aku siapkan itu makanan yang sangat biasa. Nggak rumit gimana-gimana sih. Dadar telur, ayam goreng dan tumisan sayur labu siam mini dicampur den...

pesan n kesan anak-anak.

Pesan dan kesan dari Abhinyano, putera tertua.  Bagi saya, Mama, Lim Ho Lian atau Ratnavati, adalah ibu terbaik di dunia. Kalau saya melihat kembali perjalanan hidup Mama, saya merasa hidup Mama itu penuh sekali dengan perjuangan. Dari muda, Mama sudah hidup dalam banyak keterbatasan. Tapi Mama tidak pernah menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk menyerah. Dari Tanjung Balai, Mama belajar mati matian karena ingin mengubah hidup. Mama tahu bahwa kalau ingin punya kehidupan yang lebih baik, Mama harus berjuang lewat pendidikan. Sampai akhirnya Mama bisa keluar dari Tanjung Balai dan berkuliah di Universitas Padjadjaran di Bandung. Buat saya, itu bukan hal yang sederhana. Apalagi pada zaman itu, dengan segala keterbatasan yang ada. Dari situ saja saya sudah bisa melihat seberapa kuat kemauan Mama untuk memperbaiki hidup. Setelah berkeluarga pun perjuangannya tidak berhenti. Mama membesarkan lima orang anak dengan segala keterbatasan yang ada. Ada masa ketika Papa harus bekerj...

semua orang bisa berubah

Semua Orang Bisa Berubah Beberapa hari ini, aku lelah sekali. Sampai ketiduran di kursi. Baru juga pulang dari nengokin anak-anak di Jakarta, sudah disambut dengan beberapa masalah.  Mulai dari pohon pisang dan bambu yang roboh. Menghalangi jalan keluar masuk menuju rumah. Sampai tumpukan daun mahoni, plastik-plastik, dan sterofom yang memenuhi got depan pagarku. Bekas orang makan dan dilempar sembarangan.  Belum lagi teman lama suamiku semasa di SMA dulu tiba-tiba  menelepon. Dia ingin membangun rumah di sebelah lahan kami. Memang berbatasan langsung. Dan meminta pohon tinggi yang tumbuh dekat dengan bangunannya itu,  segera dipotong. Dia khawatir pohon itu akan roboh dan menimpa rumahnya. Aku menyanggupi, sambil terus berpikir, ke mana harus mencari tukang tebangnya. Aku menarik nafas dalam-dalam...  Saat itu aku sedang sendirian di rumah. Anak ketigaku mendadak harus ke Jakarta. Ada gangguan di bagian produksi. Kakak keduanya butuh back up segera. Sementara p...

disengat tawon

Disengat Tawon Hari ini aku cepat berangkat tidur.  Pukul 19 sudah mengantuk. Tengah malam aku terbangun. Tubuh terasa segar kembali. Kantukku hilang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu. Setelah menyiapkan sarapan tadi pagi, aku ke depan untuk sapu-sapu. Pukul 06.30.  Daun mahoni mulai berguguran. Selain membawa sapu lidi dan pengki, aku juga membawa arit untuk nyicil nebas alang-alang dan tanaman rambat yang tumbuh liar. Meski tidak tau kapan baru akan selesai dan bersih semua, aku tak ingin memikirkannya. Cukup lakukan apa yang aku bisa. Andai cuma bisa menebang dua pohon pete cina pun, tidak apa-apa. Yang penting, aku sudah berusaha. Terus bergerak. Tanggal 24 Juli 2026, anak-anak pindah dari kontrakan. Sewa apartemen tidak diperpanjang lagi. Anak sulungku menempati rumah yang dia ambil secara mencicil. Beberapa bulan lalu sudah serah terima kunci. Semoga jadi awal yang baik untuk semuanya. Semesta memberkahi. Anak ketigaku di rumah menemani. Dia juga baru balik...