Postingan

pesan n kesan anak-anak.

Pesan dan kesan dari Abhinyano, putera tertua.  Bagi saya, Mama, Lim Ho Lian atau Ratnavati, adalah ibu terbaik di dunia. Kalau saya melihat kembali perjalanan hidup Mama, saya merasa hidup Mama itu penuh sekali dengan perjuangan. Dari muda, Mama sudah hidup dalam banyak keterbatasan. Tapi Mama tidak pernah menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk menyerah. Dari Tanjung Balai, Mama belajar mati matian karena ingin mengubah hidup. Mama tahu bahwa kalau ingin punya kehidupan yang lebih baik, Mama harus berjuang lewat pendidikan. Sampai akhirnya Mama bisa keluar dari Tanjung Balai dan berkuliah di Universitas Padjadjaran di Bandung. Buat saya, itu bukan hal yang sederhana. Apalagi pada zaman itu, dengan segala keterbatasan yang ada. Dari situ saja saya sudah bisa melihat seberapa kuat kemauan Mama untuk memperbaiki hidup. Setelah berkeluarga pun perjuangannya tidak berhenti. Mama membesarkan lima orang anak dengan segala keterbatasan yang ada. Ada masa ketika Papa harus bekerj...

semua orang bisa berubah

Semua Orang Bisa Berubah Beberapa hari ini, aku lelah sekali. Sampai ketiduran di kursi. Baru juga pulang dari nengokin anak-anak di Jakarta, sudah disambut dengan beberapa masalah.  Mulai dari pohon pisang dan bambu yang roboh. Menghalangi jalan keluar masuk menuju rumah. Sampai tumpukan daun mahoni, plastik-plastik, dan sterofom yang memenuhi got depan pagarku. Bekas orang makan dan dilempar sembarangan.  Belum lagi teman lama suamiku semasa di SMA dulu tiba-tiba  menelepon. Dia ingin membangun rumah di sebelah lahan kami. Memang berbatasan langsung. Dan meminta pohon tinggi yang tumbuh dekat dengan bangunannya itu,  segera dipotong. Dia khawatir pohon itu akan roboh dan menimpa rumahnya. Aku menyanggupi, sambil terus berpikir, ke mana harus mencari tukang tebangnya. Aku menarik nafas dalam-dalam...  Saat itu aku sedang sendirian di rumah. Anak ketigaku mendadak harus ke Jakarta. Ada gangguan di bagian produksi. Kakak keduanya butuh back up segera. Sementara p...

disengat tawon

Disengat Tawon Hari ini aku cepat berangkat tidur.  Pukul 19 sudah mengantuk. Tengah malam aku terbangun. Tubuh terasa segar kembali. Kantukku hilang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu. Setelah menyiapkan sarapan tadi pagi, aku ke depan untuk sapu-sapu. Pukul 06.30.  Daun mahoni mulai berguguran. Selain membawa sapu lidi dan pengki, aku juga membawa arit untuk nyicil nebas alang-alang dan tanaman rambat yang tumbuh liar. Meski tidak tau kapan baru akan selesai dan bersih semua, aku tak ingin memikirkannya. Cukup lakukan apa yang aku bisa. Andai cuma bisa menebang dua pohon pete cina pun, tidak apa-apa. Yang penting, aku sudah berusaha. Terus bergerak. Tanggal 24 Juli 2026, anak-anak pindah dari kontrakan. Sewa apartemen tidak diperpanjang lagi. Anak sulungku menempati rumah yang dia ambil secara mencicil. Beberapa bulan lalu sudah serah terima kunci. Semoga jadi awal yang baik untuk semuanya. Semesta memberkahi. Anak ketigaku di rumah menemani. Dia juga baru balik...

Legacy.

Prakata Legacy Sudah lama sekali aku tidak menulis. Hampir 30 tahun. Tiba-tiba saja muncul kerinduan untuk menulis kembali. Anak-anak sudah besar, ibu mertua dan suami juga sudah tiada. Aku tak sesibuk dulu lagi. Awal-awal, aku sangat takut untuk memulainya. Tidak percaya diri. Takut dicibir sebagai tulisan sampah. Gebi mendorong dan terus menyemangati. Waktu itu dia sedang giat-giatnya mempersiapkan terbitnya buku angkatan kami yang berjudul: Jejak Sekeloa. Dia minta agar aku bersedia mengirimkan tulisanku juga. Waktu itu aku ragu. Satu sisi, ingin berpartisipasi dengan mengirimkan tulisanku. Tapi di sisi lain, ada rasa takut yang sulit untuk dijelaskan. Lama aku menimbang-nimbang. "Nggak harus nunggu bagus dan sempurna dulu, Ho. Sesuatu itu indah bukan karena dia sempurna. Itu soal  bagaimana kita tetap bisa menerima ketidaksempurnaan, sebagai sebuah kewajaran. Justeru yang berharga itu, bagaimana kamu mau mulai mencoba menulis kembali. Ayolah, kamu pasti bisa..." ujarnya, ...

Disengat Tawon

Disengat Tawon Hari ini aku cepat berangkat tidur.  Pukul 19 sudah mengantuk. Tengah malam aku terbangun. Tubuh terasa segar kembali. Kantukku hilang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu. Setelah menyiapkan sarapan tadi pagi, aku ke depan untuk sapu-sapu. Pukul 06.30.  Daun mahoni mulai berguguran. Selain membawa sapu lidi dan pengki, aku juga membawa arit untuk nyicil nebas alang-alang dan tanaman rambat yang tumbuh liar. Meski tidak tau kapan baru akan selesai dan bersih semua, aku tak ingin memikirkannya. Cukup lakukan apa yang aku bisa. Andai cuma bisa menebang dua pohon pete cina pun, tidak apa-apa. Yang penting, aku sudah berusaha. Terus bergerak. Tanggal 24 Juli 2026, anak-anak pindah dari kontrakan. Sewa apartemen tidak diperpanjang lagi. Anak sulungku menempati rumah yang dia ambil secara mencicil. Beberapa bulan lalu sudah serah terima kunci. Semoga jadi awal yang baik untuk semuanya. Semesta memberkahi. Anak ketigaku di rumah menemani. Dia juga baru balik...

cinta dalam diam (ver 2)

Cinta Dalam Diam Akhir-akhir ini listrik sering padam. Bergantian di beberapa wilayah. Seperti hari ini. Apakah pemadaman ini ada kaitannya dengan kenaikan BBM per 11 Juni 2026, pk 00.00 WIB? Entahlah. Aku tidak terlalu mengikuti berita. Lebih kepikiran sama harga-harga kebutuhan pokok yang naik drastis. Sebagai rakyat biasa, hanya bisa pasrah dan menerima keputusan tersebut, sembari berharap, semua akan baik-baik saja. Situasi perekonomian akan kembali stabil. Dari Seputar Info Cikampek, PLN menyatakan, pemadaman dilakukan dalam rangka kegiatan pemeliharaan dan penguatan jaringan distribusi. Listrik mati, berarti pekerjaan akan jadi tertunda. Orderan yang masuk tak bisa diproses. Ada kekhawatiran juga sih. Tak terbayangkan kalau kena pinalty lagi... Semua akan hangus. Kerja keras selama ini akan jadi sia-sia. "Tapi, masih ada satu kesempatan. Semoga situasi tak menentu ini cepat berlalu, dan segala sesuatunya dimudahkan jalannya..." gumamku dalam hati. Harap-harap cemas. Dal...

Bunga teratai

Bunga Teratai Dari kecil aku sudah menyukai bunga teratai. Menurut ayahku, namaku masih ada kaitannya dengan teratai. Dengan memberi nama Ho Lian, yang secara harafiah dapat diartikan sebagai teratai yang baik, bisa tumbuh di mana saja.  Ayah berharap, aku akan tumbuh jadi sosok perempuan yang kuat, mudah beradaptasi dengan berbagai situasi.  Dulu, banyak teratai yang tumbuh di sawah dan tanah rawa belakang rumah kami. di antara pohon besiang. Di pinggirnya, banyak berjajar pohon sagu yang besar-besar dan menjulang tinggi. Di situ airnya tak pernah surut. Kami tak pernah diperbolehkan mendekati tempat itu. Airnya sedalam dada orang dewasa. Nenekku khawatir kami jatuh terpeleset dan tenggelam di sana. Pematangnya kecil dan licin. Akupun suka makan biji teratai. Rasanya manis.  Nenek dan abang sepupuku suka membawakannya bila habis pulang dari sawah. Nenek dan abang sepupuku yang menanam padi di sawah. Ibu dan kakak ipar, mengawasi anak-anak,  mengurus keperluan rumah,...