Postingan

Memenuhi Janji

     Aku lega sekali. Akhirnya satu per satu masalah terselesaikan. Aku bisa penuhi janjiku pada almarhum suamiku.      Sudah bayar uang kuliah semester akhir anak ketigaku, perpanjang kontrakan di Jakarta, dan beli lap top untuk si bungsu.           Benar-benar bersyukur. Lega rasanya. Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, sampai juga pada satu keputusan final. Dalam berbagai hal, kami memang sudah terbiasa mendiskusikannya terlebih dahulu.      "Apa nggak bisa tunggu sampai gajian bulan depan? Mau beli sesuatu ya beli yang bagus sekalian. Jangan nanggung. Perubahan teknologi itu cepat sekali, Ma. Pikir jangka panjangnya. Pilih yang awet. Jadi tetap bisa dipakai sampai dia kuliah. Nggak ketinggalan. Kan sayang, kalau cepat jadi barang rongsokan? Pilih yang bisa buat gaming juga. Nggak mungkin dia belajar terus. Dia juga butuh refreshing. Nanti aku bantu beli." Ujar si sulung mengemukakan penda...

Beruntung...

     Listrik mati. Gelap sekali. Pemadaman meliputi seluruh wilayah. Tidak tau kenapa. Mungkin ada perbaikan atau perawatan jaringan.             Aku baca status WA teman-teman dengan caption beragam. Ada yang memaki-maki kesal, mengeluh kepanasan. Namun, ada pula yang bisa melihat sisi positif dan lucu dari keadaan ini. Aku senyum-senyum saja membacanya. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain menunggu.            Suara nyamuk terdengar mendengung di telinga. Panas luar biasa. Aku berusaha tetap tenang sambil berkipas-kipas menggunakan buku anakku yang sudah tak terpakai. Ah, lama sekali listrik padam hari ini. Aku bangkit dari dudukku. Dengan penerangan lilin, aku menuju dapur. Mencuci piring-piring kotor bekas makan malam kami. Setelah selesai, aku kembali ke ruang tamu, bergabung dengan anak-anak, sembari ngobrol ngalor ngidul.      "Minggu depan sudah mulai pembelajaran tatap muka lho. Kamu...

Selalu Ada Jalan

     Daun mahoni berguguran. Sekarang memang musim ganti daun. Butuh waktu lebih lama untuk membersihkannya. Ada empat pohon mahoni besar berusia puluhan tahun, berdiri berjejer di pinggir jalan, tepat berada di luar pagarku. Pelan-pelan aku menyapu. Tumpukan daun-daun kering yang kusapu itu, berbentuk seperti barisan gunung. Aku nyalakan korek, kemudian membakarnya. Cepat sekali api melahap habis daun-daun itu.      Di sudut pagar ada beberapa bungkus plastik sampah. Sampah rumah tangga dari orang yang lewat dan sengaja dibuang di tempat kami. Mungkin mereka pikir tempat kami tak berpenghuni. Sehingga mereka buang sampah seenaknya.  Kebetulan ada truk sampah lewat. Aku minta pada bapak-bapak itu untuk mengangkut bungkusan-bungkusan sampah plastik itu, lalu memberinya upah sepuluh ribu rupiah. Kadang aku jengkel sekali. Kok bisa ya buang sampah sembarangan begitu? Apa mereka tidak pernah berpikir, bagaimana bila hal itu terjadi pada diri mereka sendiri...

Bodhi Anakku

Gambar
    Saat dia lahir, tubuhnya begitu mungil. Tampak ringkih. Beratnya hanya 2,75 kg. Semalaman tak henti menangis. Di antara kelima anakku, dia yang paling kecil. Dia memang lahir prematur. Karena aku jatuh dan mengalami pendarahan yang sangat hebat. Bersyukur kami selamat. Alam masih melindungi.      Anaknya pendiam. Nurutan. Selalu  mengamati. Dia sukanya nonton Teletubbies. Saat sekolah, dia tidak banyak merepotkanku. Tiga bulan masuk TK sudah bisa lancar baca dan dikte kata-kata yang mudah, seperti : sepatu mamaku, baca buku cerita, matahari pagi, dll. Tanpa disuruh, dia punya kesadaran sendiri untuk belajar.       Saat SD, kesukaannya pada hitung menghitung kian menonjol. Diawali dengan menang lomba sempoa. Berlanjut ke Cerdas Cermat sampai Olimpiade Matematika. Pintar berhitung, tapi tulisannya jelek sekali. Aku selalu menemaninya berlatih menulis tegak bersambung. Meski tak indah, setidaknya tulisannya harus...

Ketan dan Kentang

Kota Baru, Jumat, 24 September 2021 (Pk 15:33)       Semenjak aku mulai sakit-sakitan sampai hilang pendengaran, aku tak diizinkan pergi belanja sendiri. Selalu diantar. Terlebih setelah aku nyaris tertabrak motor saat hendak menyeberang. Kalau bukan suamiku yang mengantar, pasti anak-anakku.       Saat itu stok beras sudah menipis. Anakku yang sulung menawarkan diri untuk keluar belanja. Tumben. Biasanya dia malas ke luar. Dari mulai sampai rumah, sampai waktunya balik lagi ke Jakarta, dia lebih banyak tidur di kamar atau main game dengan adiknya. Dia benar-benar ingin nyantai kalau ada di rumah.       "Kerja di Jakarta capek banget, Mah. Tekanannya luar biasa. Pulang ke rumah tujuannya ya memang benar-benar untuk refreshing. Istirahat total." Dia selalu berkata begitu. Sebagai mamanya, aku selalu berusaha memahami. Makanya aku tidak mau mengganggunya. Untuk minta tolong mengerjakan ini dan itu. Sebisanya, aku kerjakan sendiri. Aku...

Menggali Ingatan

Kota Baru, Kamis, 23 September 2021 ( Pukul 10:50)      Yang khas kuingat dari dirinya adalah, kurus jangkung, berkulit terang, murah senyum, dengan model rambut gondrong berponi, seperti Adi Bing Slamet. Sedikit pemalu.      Setelah 30 tahun lebih tak bersua, banyak perubahan fisik yang terjadi pada teman-temanku. Arief, Anto, Didi, Gebi, Pepih, semua berubah drastis. Aku benar-benar tak bisa mengenali mereka lagi. Termasuk Yuyus. Kemana perginya rambut hitam lebat milik mereka dulu? Apa betul ini foto diri Yuyus? Aku tak percaya. Setelah Gebi membagikan foto Yuyus saat muda, aku baru percaya.       Yuyus merupakan salah satu orang teman yang baik padaku. Ramah dan lucu. Kami selalu bertukar cerita. Dia pun memberi dukungan moral padaku. Menghibur dan menguatkan, saat awal-awal kepergian suamiku.       "Aku benar-benar tak bisa mengenalimu. Sekarang kau terlihat seperti seorang pejabat lho. Staf ahli menteri. Aku ben...

Deti Maida

Kota Baru, 22 September 2021 (Pk 22:32).      Bukannya aku tak ingin bertemu dengan Deti. Aku sangat menghargai niat baiknya itu. Bagaimana aku harus mengatakan pada Deti agar dia bisa mengerti dan tidak sakit hati? Di grup maupun lewat percakapan pribadi, aku sudah coba jelaskan, dan beri gambaran tentang keadaanku yang sesungguhnya.      "Aku ingin bertemu denganmu. Bukan mau lihat rumahmu." Berkali-kali ia coba meyakinkan diriku. Entah mengapa, aku masih belum bisa mengiyakan keinginannya itu. Maafkan aku, Deti. Aku benar-benar takut dan belum siap. Takut dinilai, takut direndahkan. Aku pun belum siap bila harus kehilangan teman-teman yang baru kutemukan lagi, setelah 30 tahun lebih terpisah oleh jarak, waktu dan kesibukan masing-masing.      Aku benar-benar takut, Deti. Setelah kalian datang dan melihat keadaanku, kalian akan menjauh dan tidak mau kenal lagi dengan diriku. Untuk sementara waktu, biarlah ngobrolnya di WAG dulu. Sampai hati...