memasuki usia 60 tahun


Memasuki usia 60 tahun
Mengenang Nenekku Yang Penyayang 

Beberapa hari lagi, aku akan genap berusia 60 tahun.
Aku berpikir lama, sambil mengingat-ingat. Apa saja yang telah kulalui dari waktu ke waktu dalam fase hidupku, hingga saat ini... 

Aku terlahir di sebuah keluarga sederhana sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, di sebuah desa kecil, Kab.Asahan Sumut.

Sosok yang melekat erat di ingatanku sampai hari ini adalah nenekku, dari pihak ibu. 
Bagiku, nenek sosok perempuan tangguh, ulet, sabar, pekerja keras, dan sangat penyayang. Menyelesaikan masalah tanpa banyak mengeluh. Ciri khas perempuan Jawa yang berhati lembut. Selalu mengenakan samping dan kebaya, dengan rambut disanggul. Seluruh hidupnya diperuntukkan untuk keluarga.

Dari nenek, aku banyak belajar.
Salah satu hal yang masih kuingat dan kurindukan sampai hari ini adalah saat makan bersama. 

Nenek selalu memastikan seluruh anggota keluarga kumpul semua di meja kayu yang besar dan panjang itu, baru akan memulai makan. Cucunya diabsen satu per satu. Baik saat makan siang maupun makan malam.

Semangat kebersamaan dibangun di atas meja makan lewat cerita-cerita ringan dan kejahilan-kejahilan kami di masa kecil. Satu rumah terdiri dari tiga keluarga. Semua berjumlah 19 orang.

Aku belajar tentang keadilan juga dari nenekku. Melihat langsung dari contoh nyata yang dilakukan oleh beliau.

Kami selalu dapat jatah makan yang sama. Contohnya, saat sarapan kolak pisang. Kami berbaris rapi dari yang tertua sampai yang termuda, sambil memegang piring seng bercorak bunga-bunga. Lalu nenek membagikan rata kolak itu ke piring-piring kami. Nenek selalu memastikan cucu-cucunya kebagian semua, baru kemudian menyendok untuk dirinya sendiri dan kakek. Disusul ibu, dan anggota keluarga yang sudah dewasa.

Kami memakan kolak itu dengan perasaan riang gembira. Penuh rasa syukur. Padahal makanan biasa, tapi bagi kami, itulah kolak terenak. Mungkin karena pisangnya dari kebun sendiri, begitu juga dengan kelapanya, dipetik langsung dari pohonnya. 

Sekeliling rumah kami ditanami pohon kelapa. Dua minggu sekali kelapa-kelapa itu diturunkan untuk dijual ke kota.

Abang sepupuku yang kebagian tugas memanjat dan memetik buah kelapa itu. Sekali petik, bisa turun sejanjang. Terkadang sekalian dengan degannya, untuk dinikmati di siang yang terik. Kami yang perempuan-perempuan, kebagian tugas memarut kelapa-kelapa itu.

Gula merahnya juga dari pohon aren yang tumbuh di belakang rumah. Dua hari sekali Wak Keliling mengirimkannya ke rumah, sebagai ganti dari nira yang dideres dari pohon-pohon aren kami, dan diolah menjadi gula merah.

Hidup di desa itu murah. Semua sudah disediakan oleh alam. Asal kitanya rajin dan mau usaha, dipastikan tidak akan sampai kelaparan.

Belajar hemat, memanfaatkan barang yang dianggap sudah tak bernilai menjadi sesuatu, juga kupelajari dari melihat langsung ketelatenan nenek. 

Nenek suka mengumpulkan kain perca, dari tetangga kami yang berprofesi sebagai penjahit, Wak Warno, dan  mengubahnya menjadi selimut atau keset dengan motif yang indah.

Nenek pun rajin mengumpulkan pelepah kelapa, lalu merautnya, menjadi sapu-sapu lidi. Dijual ke pabrik minyak goreng tempat ayahku bekerja. Uang hasil dari menjual sapu lidi itu, dipakai untuk membeli jajanan kami. Lontong Wak Marisa, atau beli kerang dagok sekaleng gede, direbus, untuk kemudian dimakan sama-sama dengan sambal yang pedas, menggelar tikar di bawah pohon rambutan belakang rumah. Pesta kerang. 

Kadang, bikin serundeng kerang atau dimasak taoco campur kacang panjang atau terong. Lagi-lagi sayur yang ditanam kakek dan nenekku. Kami para cucu menunggu dengan sabar. Berjongkok mengelilingi tungku.

Di momen-momen tertentu, biasanya habis panen, keluarga kami bikin lemang dan wajik/nasi manis dari beras ketan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang didapat, dalam setahun penuh bisa dilewati dengan baik, tanpa kekurangan. 

Belukang kelapa, dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Di tangan nenek, semua bisa berubah jadi sesuatu yang bernilai. Tidak ada yang terbuang sia-sia. Dimanfaatkan secara maksimal.

Tidak berpendidikan tinggi. Namun keteguhan prinsipnya dalam menjalani hidup, sangat menginspirasiku. Mengajari tanpa banyak berkata-kata, cukup dengan memberikan contoh secara nyata. Nenekku memang perempuan hebat.

Aku masih ingat, bagaimana aku menangis di pangkuannya saat aku mau dititipkan tinggal di rumah paman, untuk melanjutkan sekolah menengah di kota.

"Aku takut, Nek. Takut sekali. Apa keluarga paman akan bisa menerima aku dengan baik?" Ujarku sedih. Aku merasa seperti akan kehilangan kasih sayang nenekku di tempat baru nanti.

"Jangan takut. Kamu pasti akan bisa belajar dan menyesuaikan diri di sana. Harus kuat, demi cita-cita dan masa depan yang lebih baik. Kamu pasti bisa..." Nenek meyakinkanku sembari mengusap-usap punggungku. Kata-katanya terdengar sejuk dan menenangkan.

Memang, di kampungku belum ada sekolah SMP yang proper waktu itu... 
Satu-satunya sekolah menengah yang ada SMP Daerah, swasta, berada di ibukota kecamatan. Beberapa kilometer dari kediaman kami. SPP-nya terbilang mahal untuk kebanyakan warga desa kami. Yang sebagian besar hidup dari bertani dan kerja serabutan. Makanya banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikannya setamat dari SD. Lebih memilih membantu orangtuanya mencari nafkah. Seperti menderes karet, ke sawah, atau pekerjaan kasar lainnya.

Saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun SD Inpres di beberapa titik desa dalam satu kecamatan. Seingatku, ada tiga SDN Inpres yang dibangun dalam waktu berdekatan. Yakni, SDN Inpres No 010027, SDN Inpres 010028, dan SDN Inpres No 010035. Mungkin untuk pemerataan dan  peningkatan mutu SDM yang ada di daerah, lewat jalur pendidikan.
Dulu, aku bersekolah di SDN Inpres No 010028.

Sebelum sekolah kami dibangun, kami belajar dan menumpang di gedung sekolah SDN 01. Satu-satunya sekolah SDN yang ada dan terbilang masih dapat  dijangkau dari tempat tinggal kami. Kami kebagian masuk siang. Dan disebut sebagai anak-anak SDN 02. Setelah Inpres turun, jadi punya gedung sekolah sendiri, dan terpisah dari SDN 01. 

Setelah menikah dan punya anak, aku pernah beberapa kali mencari guru-guru dan mendatangi sekolahku yang dulu. Momen yang sangat mengharukan buatku.

Sekarang, aku sudah hampir memasuki usia 60 tahun. Tidak tau, berapa lama lagi waktu yang tersisa.
Aku pikir, selagi aku masih bisa, maka aku akan mengatakan apa yang harus aku katakan. Aku merasa sudah bukan saatnya lagi untuk terlalu menjaga personal image. Dari yang kupelajari selama ini, aku menemukan bahwa, tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna sepenuhnya. Tiap orang punya jalan dan porsinya sendiri-sendiri. Aku hanya berusaha menghargai kesempatan hidup yang masih diberikan padaku dengan sebaik-baiknya. 

Menerima ketidaksempurnaan diri sendiri, belajar bersyukur dan terus bersyukur. Itu yang membuat harapanku untuk bertahan hidup tak pernah mati.

Di berbagai kesempatan, aku selalu bilang ke anak-anakku. "Maaf, jika Mama tidak cukup baik sebagai ibu kalian. Maafin Mama, bila Mama tidak sesuai dengan harapan kalian. Tidak bisa memenuhi semua harapan dan keinginan kalian..." 

Kepada teman  dan kerabat juga aku mengatakan hal yang sama.
Agar, bila suatu saat nanti, saat aku pergi, tidak ada penyesalan lagi...

Kota Baru, Senin, 11 Mei 2026, Pk 13.31.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

Kisahku (part 1)