cinta dalam diam
Cinta Dalam Diam
Akhir-akhir ini listrik sering padam. Bergantian di beberapa wilayah. Seperti hari ini.
Apakah pemadaman ini ada kaitannya dengan kenaikan BBM per 11 Juni 2026, pk 00.00 WIB?
Entahlah. Aku tidak terlalu mengikuti berita. Lebih kepikiran sama harga-harga kebutuhan pokok yang naik drastis.
Sebagai rakyat biasa, hanya bisa pasrah dan menerima keputusan tersebut, sembari berharap, semua akan baik-baik saja. Situasi perekonomian akan kembali stabil.
Dari Seputar Info Cikampek, PLN menyatakan, pemadaman dilakukan dalam rangka kegiatan pemeliharaan dan penguatan jaringan distribusi.
Listrik mati, berarti pekerjaan akan jadi tertunda. Orderan yang masuk tak bisa diproses. Ada kekhawatiran juga sih. Tak terbayangkan kalau kena pinalty lagi...
Semua akan hangus. Kerja keras selama ini akan jadi sia-sia.
"Tapi, masih ada satu kesempatan. Semoga situasi tak menentu ini cepat berlalu, dan segala sesuatunya dimudahkan jalannya..." gumamku dalam hati. Harap-harap cemas.
Dalam tiga minggu terakhir, sudah dua kali kena pinalty. Banyak faktor eksternal yang mempengaruhi.
Ada perubahan jam operasional truk penjemputan paket sejak pertengahan bulan Mei, akibat kelangkaan BBM. Belum lagi listrik yang sering padam. Lengkaplah sudah...
Padahal, bayar tagihan listrik itu tak bisa telat barang sehari saja. Bisa langsung diputus.
Baiknya, aku sudah menanak nasi dan mengisi toren dari pagi-pagi sekali. Pukul 03.15. Andai listrik mati mendadak pun, sudah aman. Kami tak perlu beli nasi bungkus di luar. Di situasi seperti sekarang, memang harus benar-benar berhemat, dan cermat dalam menghitung setiap rupiah yang dibelanjakan.
Harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik, jauh sebelum harga BBM baru diumumkan. Penjelasannya waktu itu, karena harga kemasan plastik naik. Jadi komoditi lain juga ikut melakukan penyesuaian harga. Selalu ada alasan logis (untuk meredam, menenangkan kegelisahan) setiap ada kejadian/fenomena yang jadi topik perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Di grup angkatan kami juga ramai dibahas. Mulai dari kenaikan harga BBM, gas, telur, beras, dan listrik yang sering padam bergantian akhir-akhir ini.
Tidak tau berapa lama keadaan seperti ini akan berlangsung. Terlebih, sudah ada menteri yang mengeluarkan statement kalau PLN terkendala pasokan batu bara, dikarenakan harga beli PLN yang terlalu murah.
Apakah ini pertanda tarif dasar listrik akan dinaikkan?
Entahlah...
Kita lihat saja perkembangan selanjutnya.
Sebagai rakyat kecil, apa yang bisa kita lakukan, selain menerima, meski dengan berat hati?
Bagiku, obrolan dengan teman-teman di grup menjadi hiburan tersendiri. Dengan membaca komen dan canda mereka, hari-hari berlalu menjadi terasa lebih ringan. Meski beban dan tuntutan kebutuhan hidup kian meningkat.
Dua hari ini grup diramaikan dengan topik "Cinta" yang diangkat oleh Mas Sugi. Grup jadi ramai. Bersahut-sahutan. Anto pun tidak mau ketinggalan, dengan mengirimkan lagu ala-ala band girl Korea ciptaannya dengan dibantu AI, tentang cinta palsu.
Yah, kita semua pernah muda, dan...pernah jatuh cinta.
Kemarin, aku ikut terpancing juga untuk memberi komentar. Hahaha...
Membagikan cerita saat aku patah hati, jatuh cinta dan mencintai orang yang salah, di waktu krusial, saat dikejar-kejar deadline skripsi, dan ancaman DO !
Bersyukur, bisa melalui masa-masa sulit itu. Meski penuh dengan deraian air mata.
Terimakasih Semesta, aku bisa bertahan dan tegak berdiri sampai hari ini. Semesta sangat baik padaku. Selalu menjaga dan melindungi aku..🙏🙏
Aku coba mengingat-ingat kembali pertemuanku dengan suami setelah dua tahun terpisah.
Saat bertemu itu, dia langsung mengajakku menikah.
Kami melakukan pemberkahan nikah yang sederhana di vihara. Dihadiri sekitar 30 orang umat saja. Beberapa bulan kemudian, kami baru urus surat-suratnya ke kantor catatan sipil.
Waktu itu Nova dan Marija (angkatan 1986) hadir.
Boleh dibilang, Nova satu-satunya orang yang mengikuti perjalanan hidupku dari muda sampai setua ini. Kami wisuda bareng. Dia dan Petty juga sering main ke kosanku, di daerah dekat RSHS.
Dia hadir saat aku melahirkan. Menyaksikan kerepotanku membesarkan anak-anak. Bahkan, saat dia melanjutkan pendidikan ke Amerika, dia masih sering menyuratiku.
Berpembawaan tenang, dan selalu memberikan kata-kata yang positif.
Termasuk, saat aku mintai pendapatnya tentang rencana aku menikah.
Sejauh yang bisa kuingat, selama menjalin hubungan dengan suamiku, melahirkan lima orang anak, sampai meninggal, tak pernah sekali pun suamiku menyatakan kata cinta padaku.
Katanya, tak perlu diucapkan, cukup dirasakan saja.
Yang aku rasakan, dia bisa menerima aku apa adanya.
Meski aku bodoh, ceroboh, tak pandai memasak, tak bisa bersikap halus (sebagai orang yang lahir dan besar di Sumatera, tentu tak bisa bersikap lembut dan santun seperti perempuan-perempuan yang ada di Pulau Jawa), dst dst. Masih banyak daftar kekuranganku.
Suamiku termasuk orang yang pendiam. Pekerja keras.
Dia tidak mengeluh, meski aku tak pandai memasak. Waktu itu aku cuma bisa bikin sop, goreng tempe, ceplok telur, dan makanan-makanan sederhana lainnya. Tapi, dia selalu menghabiskan makanan yang kusiapkan. Pernah sekali memberi komentar pendek, "Wortelnya masih keras..."
Saat aku ketiduran sambil baca buku, dia yang akan ambil bukunya dan meletakkan di rak. Mematikan lampu, lalu menyelimutiku. Besoknya akan bilang padaku : "Lain kali, taroh dulu bukunya. Sayang kan kalo kelipet-lipet..."
Saat makan salak, jeruk, duku atau kacang rebus, dia selalu mengupaskannya untukku.
Atau, pagi-pagi mengajak anak perempuanku keluar, untuk berburu dadar gulung, kue kesukaanku.
Setiap minggu, saat pulang kerja, selalu ada saja yang dia bawa. Kadang martabak, sate, apel Malang, tomat, buncis, wortel, bawang putih dll. Dia tau aku malas keluar untuk belanja.
Setiap kali keran, mesin cuci atau kompor bermasalah, aku cuma tinggal laporan. Lalu suamiku akan segera memperbaikinya...
Suamiku pun tak pernah lupa hari ulang tahunku dan tanggal pernikahan kami...
Mungkin, bagi suamiku, cinta hanya perlu ditunjukkan lewat tindakan nyata.
Setelah tua, aku menyadari satu hal...
Nothing is small, when it's given from the heart...
Kota Baru, Sabtu, 20 Juni 2026, Pk 14:31.
Komentar
Posting Komentar