cabut gigi

Cabut Gigi
Kota Baru, 27 Maret 2026 (Pk 21:41).

Gigi gerahamku sudah dua kali patah. Pertama, karena menggigit ceker ayam. Aku suka bikin sop dan memasukkan beberapa potong ceker agar kaldunya lebih banyak, dan warna kuah sopnya lebih menarik. Kuning keemasan.
Kedua, patah saat aku sedang mengunyah sukro. Jadi gigi geraham kedua sebelah kiri bawah, hanya tersisa sepertiganya. 

Sangat tidak nyaman saat makan. Kadang berdenyut sampai ke leher, dan bikin badan meriang. Namun, aku belum menemukan dokter yang pas dan cocok. Beberapa kali ke dokter gigi, pelayanannya tidak sesuai harapan. Mungkin karena pakai BPJS ya.

Bagiku, rasa aman dan percaya itu sangat penting. 
Kalau dokter yang menangani tidak friendly, ketus, bisa dipastikan aku tidak akan melanjutkan perawatan di klinik itu lagi. Aku akan cari cara sendiri untuk sementara mengatasi rasa sakitnya. Setidaknya, untuk membantu meredakan. Entah itu dengan minum rebusan air jahe, kunyit, serai, mengunyah bawang putih atau menelan biji binahong. Dan rutin kumur air garam. Lumayan membantu sih.

Ceker ayam dan sukro merupakan makanan kesukaanku. Kedua jenis makanan ini memberikan kebahagiaan tersendiri bagiku, saat menikmatinya. Duduk santai, sambil ngecek pesan-pesan yang masuk. Membuat pikiranku seperti berada di dunia lain, sejenak. Tenang dan rileks. Sesimpel itu. 
Untuk merasa bahagia, hal-hal kecil seperti itu, sudah cukup bagiku. Tidak perlu menunggu hak-hal besar dan luar biasa terjadi dulu.

Anak ketigaku yang rajin bertanya tentang kondisi gigiku. Dia berusaha mencari informasi dari berbagai sumber.

"Kalau tidak segera dicabut, nanti bisa memicu tumor lho Ma. Bakteri bisa masuk lewat lubang gigi dan merusak organ-organ tubuh lainnya..." Dia berusaha membujukku. Aku selalu bilang, nanti saja periksanya.
Anak keempat dan kelima juga mencari informasi lewat gugel, baca review dan rating  dari klinik gigi yang ada di sekitar tempat tinggal kami. Lagi-lagi, aku menolak. Entah mengapa, aku merasa tidak sreg.

"Apa yang membuat Mama merasa berat untuk periksa ke dokter gigi? Khawatir sama biayanya?  Nggak mau ngerepotin anak? Atau gengsi, karena ego Mama sebagai orangtua?" Anak bungsuku mencecarku dengan banyak pertanyaan.

"Uang bisa dicari, Ma. Kita bisa patungan. Yang penting itu kesehatan Mama.
Kita senang kalau lihat Mama sehat... 
Ini beneran lho Ma. Jadi, jangan menunda terus." Aku diam saja, tidak berusaha membantah atau mengiyakan perkataannya. 

Entah sejak kapan gadis kecilku yang dulu pendiam, berubah jadi secerewet itu. Di antara saudara-saudaranya, memang dia yang paling ekspresif.
Ternyata, dia sudah tumbuh dewasa. Tahun ini, memasuki usia 20 tahun. Dia satu-satunya putriku. Teman berbagi cerita, dan yang selalu siap mengantar-antarku.

Sehari menjelang lebaran, anak ketigaku ikut acara buka bersama dengan teman-teman SMA-nya.
Senang melihat mereka tetap terhubung dan bisa kompak. Mereka selalu menyempatkan diri untuk ketemuan setiap ada kesempatan. Setahun bisa beberapa kali. Selalu ada alasan untuk bertemu dan berkumpul. 
Biasanya pas libur. Long week end.

Nah, pas acara bukber kemarin itu, anakku tanya-tanya sama temannya yang dokter gigi dan praktek di sebuah klinik Purwakarta.
Begitu sampai di rumah, dia langsung bertanya.
"Mama mau nggak diperiksa sama teman aku? Aku sudah ceritakan kasus gigi Mama itu. Kalau Mama mau, nanti aku antar. Aku daftarin sekarang ke teman aku..."  Aku tidak menyahut. Diam, dan berpikir sejenak.

"Makin lama dibiarin, makin bahaya, Ma. Biar ditangani sama orang yang paham. Jelas. Memang bidangnya, profesinya. Nggak asal menebak-nebak dan bikin asumsi sendiri. Obat herbal yang Mama coba itu kan hanya bersifat sementara. Tidak mengatasi akar masalahnya..." Dia berusaha membujukku.

"Gimana, mau ya habis lebaran  ini periksa?" Dia terus mendesakku.

"Ya udah. Dicoba dulu..." Akhirnya aku menyetujui sarannya. Dia tampak lega.

"Kata teman aku, setelah mendengar cerita riwayat gigi Mama itu, ada kemungkinan sih bakal dicabut. Tapi Mama nggak usah khawatir. Sekarang kan peralatannya sudah canggih." Dia menyampaikan tentang kemungkinan tindakan yang akan diambil, sembari berusaha  menenangkanku. Dia khawatir, kalau aku tiba-tiba membatalkan janji.

" Ya...," jawabku singkat. Pasrah.

Esoknya, pagi-pagi, dia memberitahuku kalau dia sudah mendaftarkan diriku untuk tanggal 27 Maret 2026 pukul 11. Aku mengangguk-angguk, pertanda setuju.

Hari itu pun tiba...
Aku bangun pagi-pagi. Menyiapkan sarapan, dan merebus air. Siap-siap ke dokter gigi.
Aku pun coba memantapkan hati. Melawan rasa takut yang ada di dalam diriku sendiri. Aku tak bisa menghindar dan menunda terus...Aku harus berani menghadapinya. 

Sebelum berangkat, tiba-tiba Bu Puri menelponku. Katanya, dia mau mampir ke rumah sebentar.
Buru-buru aku jalan ke depan, menunggu di pagar. Pukul 09.30. Aku sudah siap. Anakku menyelesaikan pekerjaannya dulu. Anakku bilang, kami berangkat pukul 10.00 nanti. Dia mau ngeprint orderan stiker sebagian. Karena mau ditinggal pergi beberapa jam untuk menganntarku. Jadi, aku masih ada waktu sekitar 30 menit untuk mengobrol dengan Bu Puri.

Bu Puri, diantar Radya anaknya, yang dulu sama-sama TK dengan Ehi anakku, datang dengan membawa jinjingan sekeresek penuh, lalu menyerahkannya padaku.

"Ini, saya bikin soto buat Cici..." Aduh, aku jadi merasa gimana gitu. Panas kuah soto terasa mengenai kulit lenganku. Harumnya menggoda selera. Aku terharu. Ya, nggak ngira juga. Padahal, waktu lebaran, Bu Puri sudah kirim ketupat, sambal goreng dan opor ayam. 

"Lho, kemarin kan sudah ngirim makanan. Sekarang kok ngirim lagi?" Tanyaku keheranan. Aku merasa tak enak hati...

"Nggak apa-apa, Ci. Saya memang sudah niat..." 
Aku tak mampu berkata-kata selain mengucapkan terimakasih.

Bu Puri memang rajin masak. Sering mengirimkannya untukku. Padahal, rumahnya lumayan jauh dari rumahku. Dia sudah pindah ke komplek perum yang baru beberapa tahun lalu. Beda desa denganku. Setiap kali  memasak sesuatu, katanya selalu teringat padaku. Entah itu bihun goreng, bakwan jagung, ayam rica-rica atau yang lainnya. Biar aku bisa nyicipi juga. Aku membalasnya bila ada hasil di kebun, seperti pisang atau kueni.
Aku tak pernah membalas dengan mengirim masakan lagi. Aku tak begitu pandai memasak. Selain itu, ada kekhawatiran, tanpa sengaja, aku melanggar aturan agama atau keyakinannya.

Jadi kebahagiaan tersendiri bagiku, merasa punya saudara di perantauan. Ada yang sayang dan peduli.Sehingga aku tidak merasa sendirian.

Bisa saling menyayangi meski beda keyakinan, latar belakang. Saudara itu tidak selalu berarti harus sedarah.

Terimakasih Semesta untuk semua berkah ini. Aku bersyukur, selalu ada orang-orang baik yang hadir di kehidupanku.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, Bu Puri berpamitan. Aku dan anak ketigaku berangkat ke klinik gigi.
Kami sampai pukul 10.57. 

Ternyata, dugaan anakku benar, gigiku harus dicabut.
Aku mengiyakan. Pasrah. Sembari berdoa dalam hati, semoga semua berjalan baik dan lancar.

Dokternya baik dan ramah. Mengajak ngobrol, sembari memberi beberapa penjelasan teknis. Mungkin untuk membangun kepercayaanku, sehingga aku merasa nyaman saat ditanganinya.

Saat proses suntik bius sampai pencabutan gigi, aku lebih banyak memejamkan mata. Tak berani melihat layar monitor yang ada di depanku.
Anakku mengambil beberapa foto.

Akhirnya, momen menegangkan itu  selesai juga. 40 menit yang mendebarkan. 

Saat aku diperlihatkan sisa gigi dan akarnya yang sudah dicabut, ada perasaan ngeri bercampur dengan rasa lega. "Terimakasih Semesta, aku berhasil melaluinya. Berhasil melawan rasa takutku sendiri..." 
Anakku pun tersenyum. Dia menarik nafas dalam-dalam. Sembari mengucapkan terimakasih pada temannya. Lega. Karena temannya berhasil meyakinkan mamanya yang keras kepala.

"Minggu depan Mama mau datang lagi ah. Buat bersihin karang gigi..." ujarku.
Kali ini, aku yang berinisiatif terlebih dahulu.
Meski masih muda, tapi aku mempercayai dokter muda dan cantik itu.

Mungkin saking girangnya, anakku yang bayar semua, termasuk menebus obatnya. Aku berusaha menolak, tapi dia tetap memaksa.

"Nggak apa-apa kali ini aku yang bayar. Minggu depan boleh lah Mama bayar sendiri." Aku terharu. Tak terasa air mataku menetes begitu saja. Karena aku tau, seperti apa kondisi keuangannya. Dia baru setahun ini mulai merintis usahanya. Kecil-kecilan. Seperti mengumpulkan recehan. Margin yang didapat benar-benar tipis. Semoga rasa baktinya itu akan membuahkan berkah. Doaku dalam hati.

Sebelum pulang, kami mampir ke toserba Yogya untuk beli beberapa kebutuhan. Lagi-lagi dia yang mengantri di kasir dan membayar.

Jalan penuh dengan bis, truk dan para pemotor.
Kami pulang melewati hutan lindung Cikampek. Banyak penjual makanan di kiri dan kanan bahu jalan. Kami tak banyak bercakap-cakap. Sesekali anakku bertanya, apakah gusinya masih berdarah. Masih terasa sakitkah?
Aku cuma bilang, tidak. Aman.

Motor melaju pelan. Hujan rintik-rintik saat sampai Pasar Cikampek. Kami berhenti sebentar untuk mengenakan jas hujan. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan.

Begitu sampai di rumah, hujan deras mengguyur. Tepat pukul 15.00.
Aku mengambil bihun, lalu menyiramnya dengan kuah soto. Soto dari Bu Puri beneran enak. Terasa segar dengan perasan jeruk limau. Kemudian aku makan obat, dan berbaring.
Aku ingin istirahat. 

Sambil berbaring , aku terus berpikir tentang hari ini. "Alam atur sedemikian rupa," aku membathin. 
Kok bisa begitu pas ya. Bu Puri kirim soto di hari yang sama dengan jadwal aku cabut gigi. Padahal sebelumnya , aku tidak ada cerita-cerita. 
Begitulah, alam menjagaku dengan cara yang unik, lewat kebaikan orang-orang yang ada di sekitarku.

Aku istirahat total. Yg cutting dan packing hari ini anak no 3, 4, dan 5. Mereka gotong royong mengerjakannya.

Sekarang pukul 01.18.
Aku mau tidur dulu.




























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 3 Juli 2025, pukul 21.23.

ibu intan

Kisahku