MENJENGUK TEMAN Sakit.

Aku ke Bekasi tanggal 17 Maret 2026, ditemani anak perempuanku. Kami naik kereta Cikuray. 
Aku sudah janjian sama Gebi untuk bertemu dengan Ulani dan Ika Jatnika hari itu.

Sebelum aku sempat meminta atau mengeluarkan kata-kata saktiku, Gebi sudah menawarkan diri terlebih dahulu untuk menjemputku. Mungkin dia iba padaku, atau, sudah hapal dengan laguku. 

"Kamu mau nggak berbuat baik?" Biasanya aku akan berkata seperti itu, bila ingin meminta seseorang melakukan sesuatu untukku.
Selalu begitu.
Hahaha...

"Besok aku jemput, jam 11 ya Ho..." Ujarnya menegaskan. Langsung, tanpa basa basi.

"Ya nggak bisa jam 11 tepat begitu, Geb. Aku kan butuh waktu untuk jalan keluar dari kereta...
11.15..." Aku berusaha menjelaskan. Agar dia tak perlu menunggu terlalu lama.

"Selisih 15 menit mah, cin cai-lah, Ho..." Dia membalas disertai emot tertawa.

Kereta terlambat tujuh menit saat berhenti di stasiun tujuanku. Menjelang lebaran, jalur kereta memang padat. Ada tambahan utk jadwal keberangkatan. Mungkin untuk pengiriman logistik. Juga, untuk mengantisipasi lonjakan arus penumpang yang hendak mudik.

Gebi mengirim pesan, kalau dia sudah menunggu di pintu keluar. 

Saat menuruni eskalator, kami celingukan mencari-carinya.
Namun dirinya masih tak terlihat.
Tiba-tiba saja, dia muncul dari samping dan mengejutkan kami. "Dor..." Aku terlonjak kaget dibuatnya. Dia hanya tertawa-tawa melihatnya. Tak memperdulikan omelanku. Dasar Gebi. Tak mengira, sudah berumur 60 tahun pun, dia masih jahil juga.

Di perjalanan menuju ke tempat kerja Ulan, aku mengungkapkan rasa terimakasihku.
"Terimakasih ya Geb. Sudah mau repot-repot menjemput di stasiun..." Aku mengatakannya dari lubuk hatiku yang terdalam.
Tapi, jawabannya sungguh di luar dugaanku.
"Aku mau jemput, bukan karena kamu kok. Aku kasihan aja sama anakmu. Bawa dan nuntun nenek-nenek. Mana bawel lagi..." Ujarnya sembari tertawa-tawa. Aku setengah cemberut dan melotot mendengarnya.

"Mamamu dari dulu memang begitu, Hi. Bawelnya minta ampun. Kalau mau sesuatu, selalu ngotot. Harus. Di rumah, begitu juga nggak Hi?" Tanyanya dengan yakin.

"Iya sih. Biasalah, ibu-ibu..." Jawab anakku malu-malu.

"Emangnya Mama beneran cerewet ya ?" Aku balik bertanya.
"Iya. Bawel. Masak kamu tidak merasa?" Gebi yang jawab. Tawanya makin kencang. Aku belum sempat menimpali, tau-tau kami sudah sampai, dan segera nenuju ke lobi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ibu intan

Kamis, 3 Juli 2025, pukul 21.23.

reuni ke 40 tahun