MENJENGUK TEMAN Sakit.
Mengunjungi Teman Lama
Aku sudah janjian sama Gebi untuk bertemu dengan Ulani dan Ika Jatnika hari itu.
Sebelum aku sempat meminta dan mengeluarkan kata-kata saktiku, Gebi sudah menawarkan diri terlebih dahulu untuk menjemputku. Mungkin dia iba padaku, atau, bisa jadi dia sudah hapal dengan lagak lagu lamaku.
"Kamu mau berbuat baik nggak?" Biasanya aku akan mengeluarkan kata-kata itu, bila ingin meminta seseorang melakukan sesuatu untukku.
Selalu begitu.
Hahaha...
"Besok aku jemput, jam 11 ya Ho..." Ujarnya menegaskan. Langsung, tanpa basa basi.
"Ya nggak bisa jam 11 tepat begitu, Geb. Aku kan butuh waktu untuk jalan keluar dari kereta...
11.15..." Aku berusaha menjelaskan. Agar dia tak perlu menunggu terlalu lama.
"Selisih 15 menit mah, cin cai-lah, Ho..." Dia membalas disertai emot tertawa.
Kereta terlambat tujuh menit saat berhenti di stasiun tujuan. Menjelang lebaran, jalur kereta memang padat. Ada tambahan jadwal keberangkatan. Mungkin untuk pengiriman logistik. Juga, untuk mengantisipasi lonjakan arus penumpang yang hendak mudik.
Gebi mengirim pesan, kalau dia sudah menunggu di pintu keluar.
Saat menuruni eskalator, kami celingukan mencari-cari bayangan dirinya.
Namun, Gebi tak tampak juga. Entah di mana dia bersembunyi.
Tiba-tiba saja, dia muncul dari samping dan mengejutkan kami.
"Dor..." Aku terlonjak kaget dibuatnya. Dia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah terkejutku. Aku menepuk-nepuk pelan dadaku sembari cemberut. Dia terus tertawa. Tawa yang khas. Dia tidak memperdulikan omelanku.
Dasar Gebi. Tak mengira, sudah berumur 60 tahun pun, dia masih jahil. Sama seperti saat menjahiliku di Sekeloa dulu. Hohohoho...
Di perjalanan menuju ke tempat kerja Ulan, aku mengungkapkan rasa terimakasihku padanya.
"Terimakasih ya Geb. Sudah mau repot-repot menjemput di stasiun..." Aku mengatakannya dari lubuk hatiku yang terdalam.
Tapi, jawabannya sungguh di luar dugaanku.
"Aku mau jemput, bukan karena kamu kok. Aku kasihan aja sama anakmu. Bawa dan nuntun nenek-nenek. Mana bawel lagi..." Ujarnya sembari tertawa-tawa. Lagi-lagi dia berhasil membuatku cemberut.
"Mamamu dari dulu memang begitu, Hi. Bawelnya minta ampun. Kalau mau sesuatu, selalu ngotot. Harus. Di rumah, begitu juga nggak Hi?" Tanyanya dengan santai. Tanpa memperdulikan perasaan gondokku.
"Ya. Begitulah...
Aku ngerasanya sih biasa aja. Ibu-ibu yang lain seperti itu juga nggak sih...?" Jawab anakku hati-hati. Mungkin dia sedang berusaha menjaga perasaanku.
"Emangnya Mama beneran bawel ya ?" Aku balik bertanya.
"Iya. Bawel. Masak kamu nggak merasa sih? Pake nanya lagi..." Malah Gebi yang jawab. Disertai tawa yang keras.
"Apa aku semenjengkelkan itu ya Geb?" Aku bertanya dengan nada serius.
" Iya, Ho Lian itu ya seperti itu. Bawel. Itu memang personal branding kamu..." Kali ini dia menjawab dengan mimik wajah serius juga.
"Oooh begitu ya Geb. Trus, aku harus bagaimana?" Aku balik bertanya. Ingin tau jawabannya.
"Ya perbaiki..." Jawabnya singkat, padat dan tajam menusuk.
"Oooh..." Aku coba mencerna kata-katanya, sambil terus berpikir.
"Maksudnya apa itu Geb?" Ujarku penasaran. Ingin mendengar jawaban yang lebih spesifik.
"Tiap orang itu beda, Ho. Masing-masing punya personal branding sendiri. Jadi, nggak bisa disama ratakan." Gebi menjelaskan dengan memberi beberapa contoh real. Kali ini dia tampak serius.
"Ya, sekarang aku paham. Semoga ke depannya, aku bisa lebih mawas diri ya...
Terimakasih sudah memberi insight baru padaku," ujarku tulus.
Jalanan macet dan teriknya siang itu tidak terasa. Karena kami keasyikan ngobrol.
Kami tiba di tempat Ulan pukul 11.40.
Ulan menyambut kami dengan gembira. Dia selalu tampil rapi dan menarik. Kami diajak ke satu ruangan, seperti tempat rapat begitu, di bagian atas pintunya tertulis "Ruang Bangkok".
Gebi merangkul dan menepuk-nepuk pundak Ulan.
"Ibu dosenku yang cantik, I miss you..."
Aku terkejut-kejut dibuatnya.
Dengan Ulan, Gebi kok bisa bersikap semanis itu? Sikapnya sungguh berbanding terbalik saat berbicara denganku.
Aish si Gebi, seperti bunglon aja dia...
Aku terheran-heran melihat sikapnya itu.
"Geb, apa kau tidak merasa kalau dirimu tidak adil? Sama Ulan aja kau memuji setinggi langit. Ibu dosenku yang cantik...
Giliran ngomong sama aku aja, kau bilangnya nenek-nenek bawel..." Protesku. Spontan.
Gebi tertawa-tawa mendengarnya. Mungkin dia tak mengira aku akan bertanya seperti itu.
"Ya memang kamu bawel, Ho. Dirimu memang seperti itu. Terimalah kenyataan itu..." Dia menjawab santai. Tanpa beban.
Ruangan kembali dipenuhi dengan gelak tawa.
Kami bercerita tentang banyak hal. Disertai canda dan tawa. Dari hal receh, sampai yang serius, dan menuntut konsentrasi untuk bisa mengikutinya. Semua dikupas. Aku menyimak dengan seksama, saat Gebi dan Ulan berbicara tentang teori-teori komunikasi terkini.
Gebi menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya speaking dan human relations.
Di setiap pertemuan dengan teman-teman lama, aku merasa, selalu dapat ilmu baru. Aku terkagum-kagum dengan luasnya pengetahuan, dan wawasan mereka.
"Dale Carnegie adalah seorang penulis dan motivator Amerika yang terkenal dengan bukunya "How to Win Friends and Influence People". Dia dikenal karena ide-idenya tentang komunikasi efektif, membangun hubungan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Intinya, Dale Carnegie menekankan pentingnya empati, mendengarkan aktif, dan memahami perspektif orang lain untuk membangun hubungan yang lebih baik." Gebi menjelaskan dengan mimik wajah serius. Kali ini, dia tampil seperti seorang bapak dosen...
Waktu dua setengah jam berlalu tanpa terasa. Akhirnya kami berpamitan, untuk melanjutkan perjalanan ke rumah anak Ika Jatnika. Pertemuan ditutup dengan sesi foto-foto.
Satu hal yang kami bertiga (Gebi, aku, dan anakku Ehi) dapat dan sepakati dari pertemuan ini adalah: semangat dan disiplin Ulan yang luar biasa. Sakit tidak jadi penghalang baginya untuk tetap masuk kerja. Untuk sampai di titik ini, pasti banyak hal yang sudah ia lalui. Bahkan mungkin, yang ia korbankan. Termasuk, kesehatannya sendiri...
Mungkin karena dia memandang, " hidup ini adalah kesempatan," seperti persembahan lagu yang dinyanyikan di hari pengukuhannya sebagai guru besar.
Ya, selagi ada kesempatan, jangan sia-siakan. Karena, hidup ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan.
Begitu potongan syair lagu yang masih kuingat.
Waktu mendengar lagu itu dibawakan, aku merinding sendiri, dan hampir menangis. Ngenak banget di hati. Seperti dapat satu pencerahan. Mengingatkanku untuk tidak mudah menyerah, apa pun keadaannya...
Aku lega sudah bertemu dan melihatnya langsung.
Semoga Ulan selalu sehat, semangat, diberkati, ilmunya jadi berkat bagi para mahasiswanya, masyarakat luas.
Jarak kampus tempat Ulan mengajar dengan rumah anak Ika Jatnika terhitung dekat. Butuh waktu sekitar 15 menit.
Aku sudah hampir 36 tahun tidak bertemu dengan si mungil Ika. Ika lulus tahun 1990.
Dalam penglihatanku, Ika masih secantik dulu. Awet muda dan terawat. Tidak banyak perubahan pada dirinya.
Ika tetap si mungil yang full senyum, sama seperti saat di Sekeloa dulu.
Di sini, aku dan Ika bisa balik meledek Gebi. Dia tak berkutik. Puas rasanya, melihat dia agak tergagap-gagap menanggapi serangan kami.
Ternyata, Ika punya rahasia yang selama ini disembunyikan Gebi. Dan itu, kami jadikan sebagai amunisi untuk balik meledeknya. Gebi tampak tersipu. Mungkin dia mengingat-ingat kembali momen dia jatuh cinta saat di Sekeloa dulu. Wkwkwk...
Mantap kali kau Ika...👍
Tau rasa dia. Kena batunya.
Hahahaha...
Kami tak bisa berlama-lama di sana. Setelah berfoto, untuk kenang-kenangan , kami berpamitan. Karena aku harus mengejar kereta untuk pulang. Meski hanya sebentar, cukuplah untuk mengobati rasa kangen.
Gebi menawariku untuk mampir ke rumahnya. Tapi aku menolak. Takut ketinggalan kereta.
Akhirnya, Gebi mengantarkan kami ke stasiun pk 16.40.
Terimakasih Gebi.
Terimakasih Ulan.
Terimakasih Ika.
Terimakasih untuk hari yang indah ini.
Kota Baru, Minggu, 29 Maret, Pukul 14:41).
Komentar
Posting Komentar