HUT Ke 60
HUT Ke- 60 Tahun
Terimakasih Semesta aku diberi kesempatan sampai sejauh ini...
Aku merasa, sepanjang hidupku, selalu dijaga, dilindungi dan diberkahi.
Sambil ngulek bumbu, aku terus berpikir. Coba mengingat-ingat kembali. Apa saja yang sudah kulewati selama ini.
Besok anak-anak pulang. Kemarin aku sudah berbelanja ke pasar untuk membeli beberapa keperluan.
Aku lebih suka masak sendiri daripada makan di luar. Rasanya lebih puas.
Ditambah situasi perekonomian di tanah air sedang tidak baik-baik saja... Dollar sudah tembus ke angka Rp17.600 per hari ini. Harga-harga melambung tinggi. Benar-benar harus cermat mengatur pengeluaran dan uang belanja. Kalau tidak ingin mengalami defisit di akhir bulan.
Kemarin aku beli tiga ikat opak mentah, emping, cumi asin, teri, jagung manis, kentang, dan daging ayam.
Saat anak-anak kumpul nanti, mau kurebuskan jagung dan goreng opak. Pasti seru.
Bisa bercanda dan saling bertukar cerita.
Tidak punya prestasi membanggakan, sampai aku menginjak usia 60 tahun ini. Aku IRT biasa. Hidupku, duniaku, ya anak-anakku. Aku tak punya pencapaian yang menakjubkan. Hidupku berkisar dari itu ke itu saja.
Meski begitu, aku tetap syukuri porsi diriku.
Sambil membolak-balik masakan, aku teringat pada percakapanku dengan Gebi dan Ulan beberapa waktu lalu.
Saat itu, Gebi mengungkapkan kekesalannya.
Menurutnya, aku cerewet. Semua diceritakan. Bahkan sampai hal yang remeh temeh. Aku tidak membantah atau berusaha membela diri. Aku terima saja kritikan mereka sebagai masukan. Sebagai introspeksi.
"Kadang aku sampai geleng-geleng kepala sendiri kalau baca ocehanmu di grup. Gregetan .Tidak semua hal perlu dibagi kan?
Kamu tau nggak, itu bisa bikin tak nyaman. Kenapa tidak disimpan untuk dirimu sendiri?" Ujarnya serius. Aku terdiam beberapa saat. Agak terkejut dengan keterus-terangannya itu.
"Ya. Aku tahu.
Mungkin karena aku merasa, kalian sudah seperti keluargaku sendiri..." Aku coba menjelaskan apa adanya.
"Kamu pernah berpikir nggak, apakah orang lain akan punya pemikiran seperti pemikiran kamu juga?" Dia balik bertanya.
"Tiap orang punya personal branding sendiri. Yang mereka bangun dan jaga selama bertahun-tahun. Dan mereka punya banyak pengikut yang harus mereka jaga terus koneksivitasnya. Agar tetap bisa terhubung. Makanya, mereka tidak bisa ngasal, sembrono dalam bersikap maupun berucap. Semua terukur dalam batas-batas tertentu." Dia coba menjelaskan fakta yang ada di kehidupan nyata dalam membangun sebuah relasi.
" Oooh...begitu ya.
Selama ini aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu..." Ujarku manggut-manggut. Mulai paham apa yang dimaksudnya.
"Aku nggak punya akun FB maupun IG. Aku nggak punya pengikut. Aku cuma gunakan WA."Lanjutku, berusaha menjelaskan.
" Walaupun begitu..." Kali ini nada suara Gebi agak meninggi.
"Maksudnya, jangan seperti ember bodol ya."
" Iyaa..." Jawabnya, kemudian mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat, membentuk lingkaran kecil yg runcing.
Aku baru menyadari, ternyata dia bisa seketus itu. Bisa marah. Sungguh jauh dari kesan lucu dan friendly yang melekat pada dirinya selama ini. Perkiraanku salah total.
" Kadang, kamu memang suka nggak konek, Lian. Mungkin karena kamu terlalu lama menarik diri," Ulan menimpali. Aku agak terkejut mendengarnya.
Lebih tepatnya, tidak siap mendengarnya. Untuk beberapa saat, perasaan tidak nyaman menyerbu pikiranku.
" Iya. Bisa jadi seperti itu," jawabku ringan.
Selama 30 tahun lebih aku memang hanya berkutat dengan hidupku sendiri, sibuk mengurus keluarga dan membesarkan anak-anak. Hilang kontak dengan semua teman lama."
"Sebenarnya, WAG itu merupakan laboratorium dari komunikasi. Dengan sering interaksi, kita bisa mengenali karakter seseorang dari cara mereka merespon..." Lanjutnya.
" Oooh..." Aku terkagum-kagum mendengar penjelasan Ulan. Ucapan mereka berdua memberi insight baru bagiku. Walau terdengar keras, aku bisa merasakan kejujuran dari ucapan mereka.
" Ya, memang, terkadang kamu sangat menjengkelkan.
Apalagi kalau sudah ngoceh-ngoceh.
Tapi, itulah uniknya dirimu.
Ulan belum tentu bisa menjalani kehidupan seperti dirimu, begitu pula sebaliknya. Ho Lian juga belum tentu bisa menjalani peran Ulan sebagai dosen dan guru besar..." Lanjut Gebi dengan mimik wajah serius.
" Iya. Tiap orang punya porsinya sendiri.
Kalau aku pintar, mungkin kerjaku di balik meja, depan lap top. Tidak pegang sapu dan arit..." Jawabku ringan.
" Aku pernah baca sebuah tulisan yang menyatakan bahwa, tak baik terlalu banyak menahan perasaan marah, sedih, kecewa, dlsb. Karena perasaan-perasaan negatif itu bisa jadi sumber penyakit kronis.
Aku bercerita di grup itu sebagai cara aku untuk tetap bisa merawat semangat hidup.
Aku sudah setua ini, hidup juga tidak tau berapa lama lagi.
Memangnya salah ya kalau aku berusaha bersikap apa adanya, jujur pada diri sendiri?
Dengan berbagi cerita itu, aku berharap, bisa tetap hidup sehat, seimbang. Tetap bisa menjaga kewarasanku di tengah banyaknya tekanan, perubahan yang terjadi di luar kendali kita...
Aku hanya coba bertahan, walaupun itu dengan menertawakan kebodohan diri sendiri.
Aku tak mau memendam atau memikul beban yang dapat merusak ketenangan bathinku.
Dari yang sudah kulalui selama ini, aku sampai pada satu pemahaman, bahwa hidup jujur apa adanya itu, bikin hati jadi lebih ringan. Sekalipun itu beresiko akan ditertawakan atau dicemooh. Aku ingin belajar dan membiasakan diriku untuk menerima semua yang datang padaku sebagai suatu kewajaran.
Bagi yang nggak suka, kan bisa di-skip atau langsung di-delete."
"Dari kecil, remaja, sampai berkeluarga dan anak-anakku beranjak dewasa, aku sudah banyak menahan. Hampir di sepanjang hidupku."
"Menahan perasaan untuk selalu nurut dan patuh pada orangtua, agar tidak dicap sebagai anak durhaka. Meski ada beberapa hal yang tidak aku setujui. Seperti budaya patriaki di keluarga kami. Di mana kata-kata ayah tak bisa dibantah.
Saat menikah dan membesarkan anak-anak, aku pun harus banyak menahan dan mengalah. Demi anak-anak. Banyak keinginan yang harus kutelan, agar kondisi keluarga tetap stabil dan sekolah anak-anak lancar. Kebutuhan mereka prioritas utamaku. Karena aku ingin, masa depan mereka lebih baik.
Apa dikira aku tak ingin tampil cantik dan rapi seperti teman-teman lain?
Tapi aku sadar. Sekolah anak-anakku lebih penting.
Sebagai ibu, aku tak boleh egois. Sebagai isteri, aku pun harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Tak ingin memaksa suami melakukan sesuatu di luar kapasitas dirinya.
Setelah melalui semua itu, selama bertahun-tahun, aku merasa, sekarang sudah saatnya bagiku untuk mulai memikirkan diri sendiri. Akupun sudah mulai menua. Selama ini aku sudah banyak mengalah dan menahan. Sekarang, aku sudah tak punya energi lagi, untuk menahan. Aku sudah merasa lelah. Kalau tidak sekarang aku mulai mencintai diriku , lalu kapan lagi?
Membahagiakan diri dengan cara sederhana. Ngobrol dan bercanda di WAG dengan teman-teman yang sudah kuanggap sebagai saudara-saudaraku sendiri.
Apa itu salah?
Apa itu tidak boleh juga?
Apa kamu lebih suka melihat temanmu sakit, remuk redam, hanya demi menjaga sebuah citra diri yang sempurna?
Aku hanya ingin belajar menerima ketidak-sempurnaan diri sendiri. Aku tidak berusaha lari atau menutupi. Itu memang porsi diriku."
Semua kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Gebi terdiam mendengarnya. Sepanjang perjalanan menuju stasiun menjadi hening.
Sampai stasiun, aku dan anakku langsung masuk dan menaiki eskalator. Aku tidak menoleh lagi. Kami harus mengejar kereta yang ke Cikarang.
Beberapa waktu lalu, Gebi menelponku. Tengah hari. Sekitar pukul 12.30.
"Kau baik-baik saja kan, Ho?" Dia membuka percakapan dengan bertanya seperti itu. Terkesan hati-hati.
" Baik kok. Ini lagi bantu anak gunting-gunting dan packing stiker." Aku jawab apa adanya aja. Real.
" Oooh...
Baguslah, kamu jadi punya kegiatan.
Aku lagi di Karawang. Ada sedikit kerjaan."
"Ya, ma kasih." Jawabku singkat.
"Kamu aman-aman aja kan di sana? Tidak ada yang ganggu?"
"Aman, kok. Semesta selalu menjaga dan melindungi aku." Jawabku yakin.
"Baguslah..." Telepon terputus.
Mungkin Gebi menyesal telah memarahiku.
Mungkin juga , sebagai sahabat, dia memang mengkhawatirkan keselamatanku.
Di kesempatan berbeda, Ulan chat aku.
"Maaf ya kalau aku terlalu keras sama kamu. Itu karena aku sayang kamu. Aku tak ingin kamu terluka."
"Tapi, kalau aku diam-diam saja...
Takutnya kamu nggak paham situasi."
" Selama ini kamu aman di rumah. Sedangkan kita berada di belantara orang-orang yang belum tentu jernih semua hatinya.
Tak semua orang sama dalam mengkonstruksi pesan yang diterima." Ujarnya panjang lebar.
" Iya, tidak apa-apa kok. Aku hargai kejujuran kalian. Terimakasih.
Mungkin benar seperti katamu, aku yang belum terbiasa aja. Belum pandai membaca situasi.
Aku memang masih harus banyak belajar.
Ternyata hidup tidak sesederhana yang kubayangkan. Banyak layer. Tidak hanya hitam dan putih. Terimakasih sudah mengingatkan."
Sungguh, aku berterimakasih sekali karena kalian sudah turut menjagaku dengan cara kalian.
Kota Baru, Jumat, 22 Mei 2026, Pk 03.58.
Jumat, 22 Mei 2026, Pk 13.12.
Anak-anak baru sampai.
Mereka tampak kelelahan.
Aku menyuruh mereka untuk segera makan.
Pk 13.20
Sementara anak-anak makan, aku lanjut ketak-ketik.
Pk 13.24
Letak Cikampek itu memang strategis. Ada di antara Bandung dan Jakarta.
Tak jarang, kerabat atau teman yang mau ke Jakarta atau Bandung, mampir dulu sebentar ke rumah, sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Selama singgah di rumahku itu, mereka berkeliling, melihat-lihat. Tak jarang melontarkan komentar-komentar yang mengejutkan, di luar dugaan. Hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Tapi aku berusaha bersikap biasa saja.
Pernah suatu kali , beberapa teman datang. Sudah puluhan tahun tidak bertemu.
Sekarang mereka tinggal di Jakarta.
Katanya mereka ingin bertemu. Kangen.
Awalnya, aku berusaha menolak. Aku bilang, aku tinggal di kampung. Di rumahku tidak ada apa-apa. Aku berusaha mengatakan semua dengan jujur.
Tapi mereka terus meyakinkan.
Mereka bilang, ingin ketemu aku. Tidak datang untuk melihat rumahku.
Akhirnya aku menyetujui. Aku mengira, mereka tulus, menghargai hubungan persahabatan kami selama ini. Kangen beneran.
Begitu sampai, mereka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Saat keluar dari toilet, salah satu dari mereka langsung berkomentar begini...
"Keset di rumahku masih jauh lebih bagus dari handukmu..." Aku terperangah mendengarnya. Coba mencerna kata-katanya.
Ini murni gurauan, atau memang sengaja ingin merendahkan aku ? Apa aku yang terlalu sensitif ?
Ada perasaan tidak nyaman dari dalam diriku. Ada penyesalan yang dalam. Seharusnya aku tak mengizinkan mereka datang...
Saat aku menawari kue, mereka balik bertanya...
"Kue apa ini?"
Padahal kue lapis dan manisan bengkuang itu aku pesan khusus di toko kue yang sudah punya nama di kota Cikampek.
Sejak itu, aku mulai membatasi diri. Di grup tidak pernah muncul, apalagi komen. Aku merasa, ini bukan "rumahku". Aku bukan bagian dari mereka...
Ini berlaku di beberapa grup lainnya juga.
Aku hanya bisa terbuka, saat merasa diterima.
Ada juga beberapa teman lain, saat datang berkunjung, langsung menanyakan hal-hal yang menurutku sangat pribadi. Seperti : Apakah suamiku pernah mengajak diriku jalan-jalan ke LN? Apakah saat menikah dulu mertuaku ada memberiku perhiasan?
Apakah aku bahagia?
Bahkan ada yang bilang, di rumahku tidak ada barang berharganya.
Dst, dst.
Meski sedih, yah, sudahlah. Tidak apa-apa. Terserah saja mereka mau bilang apa. Toh hidupku adalah milikkku sendiri. Aku tidak bergantung pada mereka. Setidaknya aku jadi tau, ternyata, hanya seperti itu, aku dalam pandangan mereka.
Hartaku yang paling berharga ya ke lima orang anakku. Aku merasa, hidupku baik-baik saja. Cukup. Tidak ada yang kurang. Aku merasa diberkahi.
Aku bersyukur untuk itu semua.
Porsiku memang segitu.
Sepanjang perjalanan hidupku, aku bertemu dengan banyak orang, banyak karakter. Tidak semua bisa cocok dan langgeng.
Temanku tidak banyak.
Namun ada beberapa yang tulus menyayangi melebihi saudara sendiri.
Apa pun, aku tetap bersyukur.
Dengan segala keterbatasanku, aku masih bisa bertahan sampai hari ini. Aku merasa selalu diberkahi, dilindungi Semesta...
Aku akan belajar dan terus belajar...
Sampai akhir hayatku ...
Kota Baru, Jumat, 22 Mei 2026, Pk 14.14.
Komentar
Posting Komentar