Postingan

Pertanda apa ini

Minggu lalu, saat sedang bersih2 halaman, dadaku terasa sakit sekali. Sesak n susah bernafas. Aku benar2 terkejut. Takut sesuatu terjadi. Pingsan, atau henti nafas. Pandangan jadi kabur, keringat mengucur terus. Memang aku kelelahan. Tapi aku paksakan juga. Mengingat pemberkahan nikah anak keduaku semakin dekat. Rumput memenuhi setiap sudut rumah. Aku ingin cepat2 membersihkannya, agar terlihat lebih pantas. Bayar tukang bersih2 mahal. Aku tak punya cukup uang. Akhir2 ini memang banyak sekali pengeluaran. Aku pun tidak merasa enak untuk minta pada anakku. Mereka punya keperluan sendiri. Sebisanya, aku tak ingin merepotkan mereka. Setelahnya, aku merasa jadi tak bertenaga. Sudah hampir seminggu lemas. Tapi aku tetap beraktivitas. Yg ringan2 saja. Padahal sudah aku bantu dengan minum vitamin. Berharap segera dapat pulih kembali. Masih banyak PR yang harus kuselesaikan. Semoga Semesta akan selalu melindungiku. Kota Baru, Senin, 29 April 2023, pk 07.55

Kembali

Hari ini anak-anak balik ke Jakarta semua. Sedih sih. Tapi aku tak akan bisa menahan langkah mereka. Mereka sudah besar-besar sekarang. Punya cita-cita dan mimpi sendiri, yang harus mereka kejar dan perjuangkan. Semoga Semesta akan selalu melindungi dan memberkahi mereka. Kota Baru, Minggu, 14 April 2024, pk 18:24.

rumput

Hujan sudah semakin jarang turun. Sudah kuniatkan sejak jauh-jauh hari untuk mulai mencicil membersihkan rumput-rumput liar, yang hampir menutupi jalan setapak menuju rumahku. Anak-anak sudah selesai ujian. Jadi aku bisa tenang di rumah. Untuk sementara, tidak ke Jakarta dulu. Toh libur lebaran mereka pada pulang.

Imlek Bersama

Imlek Bersama Aku baru masuk ke dalam rumah saat telpon berdering. Seperti biasa, aku bersih-bersih halaman dan memindahkan beberapa tanaman yang patah. Semalam hujan gede disertai angin kencang. "Lien, kau mau ikut ke rumah Romo Koyang?" Suara Ci Susy terdengar jelas di seberang sana. Aku berpikir sejenak. Kaget. Tapi aku belum bisa memutuskan.  "Ngapain? Nggak ah. Malu, Ci... Aku kan nggak diundang," ujarku spontan. "Nggak apa-apa, Lien. Romo Koyang orangnya baik kok." Ci Susy coba meyakinkanku. Bisa bertemu dan berkumpul dengan teman lama, merupakan jodoh karma, sebuah berkah yang harus dihargai. Setidaknya, kesempatan untuk bisa kembali mengenang masa-masa muda dulu, dengan segala dinamikanya. Kesempatan untuk lebih bisa saling mengenal, dengan pemahaman baru tentunya. Karena kini, kami pun sudah sama-sama menua... "Sekarang posisi Cici ada di mana?" Tanyaku, sambil terus berpikir. Meski sama-sama di Cikampek, Romo Koyang dan keluarga kami ja...

Catatan Untuk Seorang Teman

Catatan Untuk Seorang Teman Beberapa hari lalu, aku menerima pesan dari seorang teman lama, semasa kuliah dulu. Aku agak terkejut juga saat mengetahui siapa pengirimnya. Ada apa gerangan? Tidak seperti biasanya. Kok tiba-tiba sekali? Ada foto tulisan tangan dua halaman penuh, dan satu lagi foto dirinya. Ternyata dari sebuah catatan buku harian seseorang... Lebih terkejut lagi saat membaca keterangan yang ada di bawah foto itu... "Aku pikir diriku cuek. Ternyata tidak juga. Terbukti namamu kusebut beberapa kali dalam catatan buku harianku. Aku memang suka menulis buku harian. Hanya, yang kutulis  waktu SMP dan SMA tidak tau terselip di mana." Demikian dia membuka percakapan. Aku terkejut membaca pesannya itu. Keringat masih memenuhi keningku. Seperti biasa, aku baru masuk ke dalam rumah, habis bersih-bersih halaman. Musim hujan, rumput-rumput cepat sekali jadinya. Daun dan ranting-ranting berserakan ditiup angin. Aku melanjutkan membaca. Di sudut kanan atas tertera jelas tangg...

Doa untuk keluargaku

Doa untuk keluargaku Begitu banyak hal yg sudah terjadi akhir2 ini. Semoga Tri Ratna akan selalu melindungi kami, menjauhkan kami dari hal2 buruk, seperti lobha, dosa, moha dan tanha. Semoga anak-anakku akan selalu terpelihara mata batinnya. Semoga ke lima-limanya tetap bisa merawat kesadarannya, saling dukung, saling menjaga, dan saling mengasihi. Semoga segala keresahan yg menggelayuti hatiku, akan segera berlalu. Semoga titik terang akan datang. Semoga leluhur merestui keputusanku. Semesta memberikan berkahnya. Aku berharap, di masa tuaku, aku bisa sehat dan hidup bahagia. Tidak ada salah paham, bisa saling mengerti, dan mengasihi. Aku sangat sedih, suamiku. Aku bukan orang yang pintar. Jauh dari kata sempurna. Ditinggal tiba-tiba olehmu, membuatku sangat kebingungan. Banyak ketakutan yang aku rasakan. Terlebih, takut membuat kesalahan dalam mengambil keputusan. Anak-anak sudah besar, dan mereka punya pemikiran sendiri. Tidak mudah untuk menjaga dan menyatukan pemikiran mereka. ...

16 Januari...

16 Januari... Hari ini, genap tiga tahun sudah suamiku pergi ke keabadian.  Sulit untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Semua campur aduk. Aku hanya merasa, waktu sangat cepat berlalu. Tidak menunggu, apakah kami telah siap menerima, dan siap menjalani semua perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu. Apa pun, kehidupan berlanjut terus. Siap tidak siap, kami dipaksa untuk menghadapi realita yang ada. Selama tiga tahun ini, banyak hal yang sudah terjadi. Meski dengan terseok-seok, aku tetap bersyukur, karena sampai hari ini masih diberi kesempatan bernafas, dan menyaksikan kelima orang anakku bertumbuh. Ya, demi mereka, aku harus kuat. Kalau bukan aku yang mengayomi, lalu siapa? Menjadi single parent itu tidak mudah. Terlebih untukku. Selama ini aku hanya mengurusi rumah tangga. Tidak terbiasa mengambil keputusan-keputusan penting. Namun, karena keadaan, aku mulai belajar. Awalnya takut-takut juga. Takut salah. Takut dibodohi orang, dst. Memutuskan sesuatu itu memang tidak mudah...