pesan n kesan anak-anak.

Pesan dan kesan dari Abhinyano, putera tertua. 

Bagi saya, Mama, Lim Ho Lian atau Ratnavati, adalah ibu terbaik di dunia.

Kalau saya melihat kembali perjalanan hidup Mama, saya merasa hidup Mama itu penuh sekali dengan perjuangan. Dari muda, Mama sudah hidup dalam banyak keterbatasan. Tapi Mama tidak pernah menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk menyerah.

Dari Tanjung Balai, Mama belajar mati matian karena ingin mengubah hidup. Mama tahu bahwa kalau ingin punya kehidupan yang lebih baik, Mama harus berjuang lewat pendidikan. Sampai akhirnya Mama bisa keluar dari Tanjung Balai dan berkuliah di Universitas Padjadjaran di Bandung.
Buat saya, itu bukan hal yang sederhana. Apalagi pada zaman itu, dengan segala keterbatasan yang ada. Dari situ saja saya sudah bisa melihat seberapa kuat kemauan Mama untuk memperbaiki hidup.

Setelah berkeluarga pun perjuangannya tidak berhenti.

Mama membesarkan lima orang anak dengan segala keterbatasan yang ada. Ada masa ketika Papa harus bekerja di Jakarta, sementara rumah dan anak anak ada di Cikampek. Selama bertahun tahun Mama dan Papa lebih banyak hidup terpisah dan hanya bisa bertemu saat akhir pekan atau hari libur.

Di saat anak anak masih kecil, Mama tetap harus menjaga rumah, mengurus kami semua, dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Dan sebenarnya, tinggal di Cikampek sendiri juga bukan tanpa masalah.
Di sana keluarga kami memiliki warisan tanah yang cukup luas. Punya tanah luas mungkin terdengar menyenangkan, tapi kenyataannya ada banyak sekali persoalan yang harus dihadapi.

Ada masalah soal batas tanah dengan orang lain. Ada orang yang seenaknya membuang sampah di tanah kami. Ada maling, ada orang yang masuk tanpa izin untuk mengambil sesuatu, ada yang masuk untuk berburu, dan berbagai masalah lainnya.

Pernah juga ada kumpulan preman yang datang dalam keadaan mabuk.

Kalau dipikir pikir sekarang, situasi seperti itu sebenarnya cukup menakutkan. Apalagi Papa lebih banyak bekerja di Jakarta dan Mama yang sehari hari ada di rumah bersama anak anak.

Tapi entah bagaimana, semua itu selalu bisa Mama atasi.
Mama yang menghadapi orang orang itu. Mama yang menegur. Mama yang menjaga rumah dan tanah. Mama juga yang memastikan orang tidak bisa seenaknya terhadap keluarga kami.

Kadang kalau saya pikir lagi, rasanya cukup ajaib.
Puluhan tahun kami tinggal di sana, dengan tanah yang luas dan segala potensi masalahnya, tapi tidak pernah sampai terjadi sesuatu yang benar benar krusial terhadap rumah maupun keluarga kami.
Sekarang kalau saya melihat berita atau media sosial, sering sekali ada cerita soal sengketa tanah, penyerobotan, pencurian, intimidasi, atau konflik dengan orang sekitar yang bisa berujung panjang sekali.
Saya kadang berpikir, kalau keluarga lain berada dalam kondisi yang sama seperti kami waktu itu, mungkin ceritanya bisa sangat berbeda.
Tapi selama bertahun tahun itu, seolah rumah dan tanah kami selalu berada di bawah perlindungan Mama.
Waktu kecil tentu saya tidak melihatnya seperti itu. Bagi saya semuanya terasa normal. Rumah ya rumah, tanah ya tanah.
Baru setelah dewasa saya sadar, ternyata ada seseorang yang selama ini berdiri di depan dan menghadapi semua masalah itu supaya anak anak di belakangnya bisa merasa aman.

Dan orang itu adalah Mama.

Dalam hidupnya, Mama juga pernah banyak disakiti oleh orang lain. Ada perlakuan dari mertua maupun orang orang lain yang kalau diceritakan kembali, kadang rasanya sulit diterima dengan akal sehat.
Tapi justru salah satu hal yang paling saya kagumi dari Mama adalah bagaimana Mama akhirnya bisa berdamai dengan semua itu.
Mama memilih memaafkan.
Mama pernah bilang bahwa Mama ingin memutus rantai karma buruk yang sudah terjadi sebelumnya. Mama tidak ingin luka, kebencian, atau masalah dari generasi sebelumnya ikut terbawa kepada kami.
Mama ingin semuanya berhenti di Mama.
Karena yang Mama inginkan cuma satu, anak anaknya bisa hidup dengan baik, sukses, bahagia, dan tidak perlu ikut memikul beban masa lalu yang sebenarnya bukan milik mereka.
Buat saya, itu luar biasa.

Tidak semua orang yang pernah disakiti bisa memilih untuk memaafkan. Kadang lebih mudah untuk menyimpan marah. Tapi Mama justru memilih untuk melepaskan semuanya karena ingin memutus rantai karma buruk itu dan tidak ingin hal buruk yang sama diwariskan kepada anak anaknya.

Mama juga sangat taat menjalankan ajaran Buddha. Tapi yang paling saya ingat justru bukan nasihat yang berat berat. Mama sering mengajarkan sesuatu dari kejadian kecil yang sehari hari sekali.

Salah satu yang sampai sekarang masih saya ingat adalah soal pohon cabai.
Waktu itu saya sedang liburan dan kerjaannya cuma malas malasan dan tidur. Mama ngomel dan bilang, Mama menanam lima pohon cabai, tapi yang tumbuh cuma dua.
Saya malah bingung.
Saya tanya, memang apa hubungannya pohon cabai sama saya yang lagi liburan?
Mama lalu bilang, sama seperti hidup. Kita usaha lima kali, belum tentu lima limanya berhasil. Kita berbuat baik lima kali, belum tentu semuanya langsung berbuah. Apalagi kalau cuma berusaha dan berbuat baik sedikit. Apalagi kalau tidak melakukan apa apa dan cuma malas malasan. Belum tentu semuanya berbuah, bahkan bisa saja akhirnya tidak ada yang berbuah sama sekali.

Waktu itu mungkin saya cuma menganggapnya sebagai omelan Mama.
Tapi ternyata kalimat sederhana seperti itu justru masih saya ingat sampai sekarang.
Memang seperti itu cara Mama mendidik kami. Kadang lewat hal yang sangat sederhana, tapi isinya dalam. Banyak nasihat Mama yang baru benar benar terasa maknanya setelah saya semakin dewasa.

Selain semua cerita tentang perjuangannya, Mama juga punya sisi yang sangat sederhana dan dekat dengan keseharian kami.
Kalau soal makanan, salah satu kesukaan Mama adalah kwetiau Medan. Mama juga suka makan ceker ayam dan pete.
Buat orang lain mungkin itu terdengar seperti hal kecil, tapi justru hal hal kecil seperti inilah yang membuat kenangan tentang Mama terasa dekat. Kadang seseorang diingat bukan cuma dari cerita besar dalam hidupnya, tapi juga dari makanan kesukaannya, kebiasaannya, cara bicaranya, dan hal hal kecil yang selalu melekat pada dirinya.

Kalau sekarang saya melihat kembali semuanya, saya merasa mungkin salah satu keberhasilan terbesar Mama bukan hanya karena berhasil membesarkan lima orang anak.
Tapi karena di tengah segala kesulitan, pengalaman buruk, dan hal hal yang pernah menyakiti Mama, Mama tetap memilih menjadi orang baik.
Mama tidak membiarkan masa lalu membuat Mama menjadi pahit.
Mama juga berhasil membuat kami tumbuh dengan perasaan bahwa rumah adalah tempat yang aman. Padahal setelah dewasa, saya baru sadar bahwa rasa aman itu bukan datang dengan sendirinya.

Ada Mama yang selama bertahun tahun menjaga semuanya.

Terima kasih, Ma.
Terima kasih sudah berjuang sejak muda.
Terima kasih sudah membesarkan kami berlima.
Terima kasih sudah menjaga rumah dan keluarga ini selama puluhan tahun.
Terima kasih untuk semua masalah yang mungkin dulu tidak pernah kami tahu karena Mama memilih untuk menghadapinya sendiri.
Terima kasih untuk semua nasihat sederhana yang ternyata semakin lama semakin saya mengerti.

Dan terutama, terima kasih karena Mama memilih untuk memutus rantai karma buruk dari masa lalu supaya tidak diteruskan kepada kami.

Bagi saya, itu mungkin salah satu bentuk kasih seorang ibu yang paling besar.
Dan kalau suatu hari saya bisa menjadi orang yang baik, kuat, dan berguna bagi orang lain, pasti ada bagian besar dari Mama di dalam diri saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

memasuki usia 60 tahun

Kisahku (part 1)