pengukuhan Ulan sebagai guru besar

Pengukuhan Ulan Sebagai Guru Besar

Hari ini hari pengukuhan Ulan sebagai guru besar di bidang komunikasi.

Ikut bahagia, bangga, dan bercampur haru, bisa hadir dan  menyaksikan momen bersejarah bagi Ulan. 
Buah dari kerja keras, ketekunan, semangat pantang menyerah, disertai doa-doa yang tak pernah putus ia panjatkan.

Aku berangkat ditemani Ehi, putri bungsuku.
Kami naik kereta sampai Cikarang. Setelah itu, nyambung grab car ke tempat acara.

Kereta penuh.
Banyak anak-anak.
Memang sekarang sedang libur sekolah.
Bersyukur, kami dapat tempat duduk.

Kami sampai, pukul 12 kurang.
Teman-teman Fikomers '85 sebagian sudah datang.
Yang pertama-tama kulihat, Gebi. Dia mengantarkan kami untuk menemui teman-teman lain.

Seketika, suasana menjadi ramai dengan gelak tawa dan canda kami. Aku duduk di meja sebelah, terpisah dengan Eni, Ika, Rika, Iwan, Yuyus, Inne, Asep Tatang, dan Gebi. Di meja itu ada teman Ulan dari Binus, satu lagi dari kementrian pendidikan. Tak lama kemudian, Ensi dan Nova datang bergabung.

Didi, Tatat, Yoki, datang belakangan.
Kata Yoki, terjebak macet. 

Aku sedih, Abo, Mbeng, Arief, Elin dan Ana tak datang.
Padahal saat pertama tau berita tentang pengukuhan ini, Arief yang paling niat dan semangat untuk datang.
Tapi bertepatan di tanggal tersebut, Arief ada tugas ke Surabaya selama beberapa hari.
Mungkin belum jodoh bertemu.
Semoga di lain waktu bisa bertemu dan ngobrol dengan teman-teman lain dalam formasi lebih lengkap ya.

Setelah rangkaian pidato-pidato, di penghujung acara, disuguhkan beberapa lagu. Antara lain : Manuk Dadali, Hidup Ini Adalah Kesempatan. Semua dibawakan dengan sangat indah dan penghayatan penuh, 
di momen yang tepat. Semua yang hadir seperti diajak untuk melakukan refleksi diri sejenak.

Potongan syair lagu "Hidup Ini Adalah Kesempatan" sangat menggetarkan hatiku. Mataku jadi berkaca-kaca. Lagu itu seakan-akan mengajak semua yang hadir untuk terus semangat berkarya, sesuai dengan porsi masing-masing.

Aku bersyukur bisa mengajak anakku ke acara ini. Menyaksikan dan merasakan langsung suasananya, sekaligus berkenalan dengan teman-teman kuliahku dulu. Semuanya hebat-hebat dan keren.

"Di angkatan kami, sudah dua orang lho yang jadi profesor. Dua-duanya perempuan. Ibu Eni dan Tante Ulan. Kamu bisa belajar dari semangat juang mereka.
Untuk sampai di titik ini, tentunya mereka sudah melewati banyak jalan berliku. Tapi mereka tidak menyerah. Hingga akhirnya bisa berhasil mencapai anugerah tertinggi di bidang akademisi.
Mama berharap, keberhasilan mereka akan menginspirasi dan memotivasimu..." Ujarku panjang lebar, menyemangati putri bungsuku. Anakku mendengarkan sembari mengangguk-angguk.

"Mama berharap, anak-anak Mama bisa jauh lebih baik hidupnya. Nggak apa-apa Mama aja yang bodoh, nggak maju, hidup seperti katak dalam tempurung. Tapi kalian, jangan ya..." lanjutku, terus menyemangati.

" Mama nggak bodoh kok.
Mama sudah bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga. Flek di wajah Mama, kapalan yang ada di telapak tangan Mama, menunjukkan kalau Mama seorang pejuang. Aku bangga jadi bagian keluarga ini. Bukan tanpa sebab kita dipertemukan sebagai ibu dan anak.
Semoga aku bisa membahagiakan Mama nanti.
Semesta merestui dan memberkahi keluarga kita..." Air mataku jatuh begitu saja mendengar kata-katanya.

Kota Baru, Kamis, 3 Juli 2025, Pk 21.23




Komentar

Postingan populer dari blog ini

memasuki usia 60 tahun

Kisahku (part 1)