Legacy.

Legacy

Sudah lama sekali aku tidak menulis. Hampir 30 tahun.
Tiba-tiba saja muncul kerinduan untuk menulis kembali.
Anak-anak sudah besar, ibu mertua dan suami juga sudah tiada. Aku tak sesibuk dulu lagi.

Awal-awal, aku sangat takut untuk memulainya. Tidak percaya diri. Takut dicibir sebagai tulisan sampah.

Gebi mendorong dan terus menyemangati. Waktu itu dia sedang giat-giatnya mempersiapkan terbitnya buku angkatan kami yang berjudul: Jejak Sekeloa. Dia minta agar aku bersedia mengirimkan tulisanku juga.

"Nggak harus nunggu bagus dan sempurna dulu, Ho.
Sesuatu itu indah bukan karena dia sempurna. Itu soal  bagaimana kita tetap bisa menerima ketidaksempurnaan, sebagai sebuah kewajaran. Justeru yang berharga itu, bagaimana kau mau mulai mencoba menulis. Ayolah, kamu pasti bisa..." ujarnya, terus meyakinkanku.

"Betul, Ho. Kita harus meninggalkan legacy untuk anak cucu kita. Peninggalan itu tidak dilihat dari seberapa bagusnya. Tapi dari nilai rasa cinta, pokok-pokok pikiran dan usaha kita, yang dituangkan hinggga menjadi sebuah tulisan. Tiap orang punya gaya menulis sendiri-sendiri, Ho. Jangan takut. Kamu bisa mulai dari mana saja, dan boleh tulis tentang apa saja..." Mustofa menimpali. Saat itu dia mau launching novel terbarunya yang berjudul: Di Balik Teduh Segara Jawa.

Di kesempatan berbeda, Agus Supriadi juga mengatakan hal yang sama. Dia mendorongku untuk tidak khawatir secara berlebihan. 

"Kita semua sudah menua. Semua orang sudah berubah. Tak usah takut. Percayalah, semua teman kita baik-baik. Sudah pada bijaksana. Saya akan bantu pantau grup." Dia mencoba mengusir ketakutanku, yang menurutnya tak berdasar dan berlebihan itu.

Sedikit demi sedikit, aku coba memberanikan diri. Apa saja yang terlintas di benakku, langsung kucatat.
Awalnya agak tersendat sih. 

Aku tulis di buku agenda sebagai kotrat kotret. Tanpa kerangka tulisan. Kubiarkan semua mengalir begitu saja. 

Satu per satu, ide itu bermunculan dengan sendirinya.
Selama 30 tahun, banyak hal yang sudah kulewati...

"Menulis merupakan bagian dari relaksasi jiwa.
Teruslah menulis." 

" Aku selalu mengikuti obrolan di grup, dan suka baca tulisan-tulisanmu. Aku terharu dan bangga menyaksikan kemajuanmu dari waktu ke waktu. Dengan menulis, kau akan merasa lega. Akan mendapatkan energi baru. Dan itu sangat baik untukmu," Ensi mengatakan itu di kesempatan yang berbeda.

Terimakasih orang-orang baik. Karena selalu memotivasi dan mendukungku. Itu sangat berarti buatku.

Berangkat dari situ, aku semakin memantapkan diri. Mulai mengumpulkan, menyeleksi tulisan-tulisanku.
Dan ingin menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Semoga Semesta akan selalu memberkahi...🙏🙏


Kota Baru, Minggu, 6 September 2026, pukul 18:26.




 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

Kisahku (part 1)

memasuki usia 60 tahun