keseleo

Keseleo

Selama tiga hari, aku terpaksa berbaring, dan tak bisa  melakukan apa-apa. Waktu terasa melambat.
Sesekali aku putar mantra atau doa.  Berharap hati dan pikiranku lebih tenang. Mendengarkan lagu-lagu country klasik, atau membaca pesan-pesan yang masuk. Untuk mengalihkan perhatian agar tidak terfokus terus pada rasa sakit yang mendera di pergelangan kaki kiriku.

Rasa tidak nyaman itu sudah mulai terasa saat aku balik dari Jakarta dua minggu lalu. Waktu itu memang beberapa kali transit dan naik turun tangga di stasiun.
Sambil membawa tentengan. Terasa sih kalau kaki tuaku ini sudah tak selincah dulu lagi.
Refleknya melambat.

Tapi begitulah, hati seorang ibu. Yang ada di pikirannya hanya makanan kesukaan anaknya. Mumpung ketemu.
Jadi ya dibuatkan dan dibawakan, sekalian untuk bekal makanku sendiri di jalan. 

Sebenarnya, yang aku siapkan itu makanan yang sangat biasa. Nggak rumit gimana-gimana sih. Dadar telur, ayam goreng dan tumisan sayur labu siam mini dicampur dengan irisan wortel. Di warteg juga banyak tersedia. Tapi saat melihat mereka menghabiskan makanan yang kubawakan, selalu ada kelegaan yang sulit diungkapkan lewat kata-kata.

Di stasiun aku membeli beberapa kotak kue brownies dan crepes sebagai oleh-oleh.
Besoknya, hari ulang tahun anak sulungku. Saudara-saudaranya yang lain akan datang juga. Termasuk besanku. Momen ulang tahun sekalian jadi ajang untuk kumpul keluarga. Begitu setiap tahun. Biasanya suka makan di luar.
Tahun ini di rumah saja. Sekalian selametan dia pindah rumah.

Kue yang manis ini mewakili harapanku untuknya.
Semoga hari-harinya, jalan hidupnya selalu akan  berjalan manis. 
Aku menginap dua malam di sana. 

Dari anak pertama, aku minta diantar ke kos adiknya yang bungsu. Di sini aku menginap semalam. Esok malamnya, anak kedua bersama isterinya dan anak keempat datang menjemput, untuk mengantarkanku pulang ke Cikampek.

Selama di tempat anak perempuanku, aku diajak berkeliling. Dibonceng sepeda motor.
Terharu juga aku menyaksikan kepiawaiannya mengenderai sepeda motor di tengah keramaian kota Jakarta. Menyelip-nyelip di antara kendaraan lain.
Semoga hari-hari sibuknya yang dipenuhi dengan kuliah dan memberi les, akan terlalui dengan baik.
Para Bodhisatva akan melindungi setiap langkahnya. 

Saat hendak melepasku pulang ke Cikampek, matanya agak berkaca-kaca. Dia membekaliku dengan segenggam karet pengikat rambut, dan jepit lidi berwana hitam.

"Biasain bagian kiri dan kanan dijepit, Ma. Biar anak rambutnya nggak terbang-terbang menutupi wajah.
Trus, jangan lupa pake lip gloss. Biar nggak pucat-pucat banget. Jadi kelihatan lebih segeran. Nggak kayak mayat hidup." 

Begitulah anak perempuanku. Setiap kali bertemu, selalu mengatakan hal yang sama. Aku diam saja, mengiyakan, tak berusaha membantah.
Karena aku tau, kalau aku menentang sarannya itu, maka dia akan menceramahiku dengan panjang lebar.

"Pakai baju warna terang itu bukan untuk menarik perhatian. Tapi untuk jaga-jaga saat menyeberang, saat jalan sendirian. Agar mudah terlihat dari jarak jauh. Untuk menjaga keselamatan. Para orang tua kan jalannya sudah nggak bisa secepat yang muda-muda. Lagian, warna-warna cerah itu membuat aura kita keluar. Memancar. Ngerti nggak, Ma?" Dia dengan semangat menjelaskan. Aku mendengarkan dengan setengah hati. Sambil rebahan. Dan mulai merasa mengantuk...
Trus dia bilang, kalau tampil rapi itu sebagai bentuk dari mencintai diri sendiri.

Aku lega. Sudah bertemu dan melihat langsung wajah anak-anakku. Saatnya pulang. Aku memang tak pernah bisa berlama-lama meninggalkan rumah. Di sini aku baru bisa merasakan detak kehidupan yang sesungguhnya.

Sesampai di rumah, tumpukan daun kering dan sampah-sampah plastik menyambutku di depan pintu pagar. Aku menghela nafas dalam-dalam. Padahal sebelum berangkat ke Jakarta, aku sudah menyapunya.

Esok paginya, aku merendam pakaian kotor. Kemudian berjalan ke depan untuk mengecek keadaan sekeliling selama rumah kutinggal.

Sorenya, anak kedua dan menantuku balik lagi ke Jakarta. Aku pun memulai hari baru, aktivitas baru di rumah.

Saat menyapu daun-daun mahoni itu, sebenarnya aku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan bagian ankle kiriku. Aku pikir, ini akibat terlalu lama duduk. Sehingga aliran darah tidak lancar. Dengan bergerak,  mengeluarkan keringat, aku berharap tubuhku akan jadi lebih enakan nanti.

Aku terus menyapu. Sesekali duduk sebentar. Atur nafas. Anak keempatku datang membawakan minum.
Setelah itu, aku lanjut sapu-sapu lagi.
Anakku balik, meneruskan gambarnya. Karena ada orderan gambar yang harus diselesaikan. Dia juga berpesan, agar aku tidak kelamaan sapu-sapu di depan.
"Jangan maksain ya Ma." Begitu ujarnya. 

Aku pulang hampir pukul 9.
Saat ke depan, hari masih agak gelap. Matahari belum terbit. Pukul 05.25. Sekitar tiga jam juga...

Aku cepat-cepat rebus air buat mandi dan cuci rambut.
Setelah itu, sambil menunggu rambutku kering, aku bikin botok. Kemaren pete cinanya sudah kukupas. Teri, cumi asin, dan kelapa parut yang kutitip beli pada mama Fanny juga sudah diantarkan.

Makan siang itu terasa nikmat sekali. Meski hanya berlauk botok. Dulu, saat di kampung, nenekku sangat suka bikin botok. Masakannya selalu terasa nikmat. Bahkan, sampai aku setua ini, dan sudah jadi nenek-nenek juga, aku masih tetap merindukannya.

Setelah makan, aku olesi pergelangan kakiku dengan kayu putih. Lalu kupijit-pijit. Dengan harapan, rasa yang mengganggu di ankle itu bisa segera hilang. Aku pun melakukan gerakan memutar-mutarkan pergelangan kaki.
Setelah dirasa cukup, aku rebahan, bermaksud ingin tidur siang. Isi ulang energi.
Hari ini lumayan padat dan melelahkan.

Saat bangun, aku merasa agak demam. Bagian dalam tubuh panas, namun kulit terasa dingin. Mulut terasa kering dan pahit. Saat hendak ke kamar mandi, kaki sulit digerakkan. Berat banget. Samar-samar aku melihat, ada warna kemerahan di balik kulit kakiku. Kedua kakiku bengkak. Dan aku tak kuat berdiri. Aku kaget setengah mati.

Aku memanggil anakku. Dia memapahku. Lalu menyediakan kursi, sebagai alat bantu untuk tumpuan kakiku. Untuk sampai ke kamar mandi, aku berjalan merambat-rambat, berpegangan pada dinding, atau dengan mendorong kursi. Untuk menjaga keseimbangan. Kaki seperti ditusuk-tusuk.
Setelah itu, aku minta direbuskan air sama anak, sebagai rendaman kaki. Ditambah dengan garam kasar. Aku pikir, garam kasar itu bisa menyedot keluar rasa sakitnya. Aku melakukannya selama tiga hari berturut. Setelah itu, bagian yang bengkak aku tempeli bye bye fever. Aku juga makan obat pereda nyeri.

Setelah tiga hari berjuang melawan rasa sakit, perlahan-lahan, bengkaknya mengempis. Demamnya pun sudah mereda. Meski belum kembali normal seperti sedia kala, aku sudah bisa ke kamar mandi sendiri. Mandi dengan air hangat.

Selama aku sakit, aku tidak turun ke dapur sama sekali.
Makanan yang dibelikan anakku terasa hambar semua. Bahkan kalau aku paksakan untuk memakannya, aku bisa muntah. Bukan karena tidak enak. Entah mengapa, perutku menolak.

Akhirnya, anakku memutuskan membuatkan sop untukku.
Pakai bahan yang ada. Jagung manis dan buncis.

Rasa sopnya lumayan. Perutku pun tidak menolaknya. Saat menyantap sop yang hangat itu, keringat mengucur deras. Tubuh terasa ringan.
Saat kutanya cara memasaknya, dia pun menjelaskan...

"Bawang merah, bawang putih, jahe digoreng dulu. Sampai harum. Kemudian masukkan telur. Aduk-aduk, sampai menjadi telur orak-arik. Baru tuangkan dua gelas air, tunggu hingga mendidih.
Setelah itu, masukkan jagung manis dan buncis. Kasih garam, gula dan merica. Waktu masih tinggal di apartemen dan Ehi sakit, aku juga buatin masakan seperti ini. Dia bilang cocok." Ujarnya penuh percaya diri.

"Mana jahenya?" Tanyaku iseng.
"Itu sih, yang berwarna oren..." Jawabnya yakin. Aku tak mampu menahan tawaku.

"Dhamma, itu namanya kunyit. Bukan jahe..." Jelasku padanya.
"Oooh..." Ujarnya sambil garuk-garuk kepala.

Apa pun, sop buatannya memang beneran enak dan cocok di lidahku. Potongan-potongan kunyit itu tetap kukunyah dan kutelan. Semoga jadi antibiotik alami dan membantuku untuk bisa cepat pulih.

"Terimakasih ya, sudah sabar merawat Mama." Aku tidak berusaha menyembunyikan rasa banggaku padanya.

" Nggak apa-apa. Yang kulakukan itu tidak ada apa-apanya. Cuma lain kali, inget-inget ya Ma. Kalau sudah merasa tidak nyaman, istirahat saja. Dengan banyak gerak, beban di kaki Mama kian berat. Mungkin itu yang menyebabkan tekanan, sehingga pembuluh darah kecil di pergelangan kaki Mama pecah." 

"Iya..." Jawabku singkat. Kali ini aku tidak berusaha membela diri.

Terimakasih Semesta. Hari ini aku sudah merasa baikan. Bisa duduk dan menikmati makan pagiku tanpa harus menahan rasa sakit lagi.

Kota Baru, Senin, 28 September 2026, pukul 10.46.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

memasuki usia 60 tahun

Kisahku (part 1)