gosong

Beberapa hari ini, aku lelah sekali. Sampai ketiduran di kursi.

Baru juga pulang dari nengokin anak-anak di Jakarta, sudah disambut dengan beberapa masalah. 
Mulai dari pohon pisang dan bambu yang roboh. Menghalangi jalan keluar masuk menuju rumah. Belum lagi teman lama suamiku semasa di SMA dulu tiba-tiba  menelepon. Dia ingin membangun rumah di sebelah lahan kami. Memang berbatasan langsung. Dan meminta pohon tinggi yang tumbuh dekat dengan bangunannya itu,  segera dipotong. Dia khawatir pohon itu akan roboh dan menimpa rumahnya. Aku menyanggupi, sambil terus berpikir, ke mana harus mencari tukang penebangnya. Aku menarik nafas dalam-dalam... 

Saat itu aku sedang sendirian di rumah. Anak ketigaku mendadak harus ke Jakarta. Ada gangguan di bagian produksi. Kakak keduanya butuh back up segera. Sementara penjualan tetap harus berjalan.

"Ma, kayaknya kali ini, aku bisa seminggu atau sepuluh hari di Jakarta. Harus ngajarin karyawan dari dasar lagi." Ujarnya, sambil menjelaskan situasinya.

"Iya. Nggak apa-apa. Di rumah aman kok. Kan ada bopi yang jagain." Aku berusaha menenangkannya.

"Selama aku nggak ada, Mama jangan ngide yang aneh-aneh ya. Bakar daun-daun kering. Takut merembet,  nggak ada yang nolongin. Atau nebang-nebang ranting dan tergiur metik-metik sesuatu, sampai naik-naik ke pohon. Kalau jatuh gimana? Jangan suka maksa ngerjain sesuatu. Sabar. Tunggu aku pulang. Mama tenang-tenang nonton YouTube atau dengerin lagu aja." 

"Terus berkabar ya. Di grup keluarga atau chat aku langsung. Aku berangkat hari ini juga, naik kereta pukul 16.00. Prajna butuh bantuan aku segera. Kalau layanan lambat, produk jelek, siapa yang mau repeat order lagi?" Setiap mau bepergian, dia selalu berpesan hal yang sama.  Aku mengangguk-angguk, pertanda mengerti. Tidak berusaha membantah. Sejak disengat tawon, aku jadi kapok. Nggak mau bandel lagi.

Besok paginya, anak keempat harus ke kampus untuk bimbingan skripsi. Malamnya dia diminta kakak ketiganya langsung pulang lagi setelah selesai bimbingan. 

"Naik kereta yang langsung aja.
Nanti koko ganti.
Pokoknya, kamu harus pulang malam ini buat nemani mama. Selama koko di Jakarta, kamu yang jaga mama" begitu pesannya pada adiknya, dengan mimik wajah serius. Tanpa senyum sedikit pun.

Di antara kelima anakku, anak yang nomor tiga ini yang paling lama tinggal denganku.
Kedua kakaknya bersekolah di Jakarta sejak tamat SD.
Sedangkan kedua adiknya, setelah tamat SMP.

Dia satu-satunya yang tetap bersekolah di Purwakarta sampai selesai SMA. Setelah lulus, kuliah di Jakarta 4,5 tahun, dan bekerja selama 3,5 tahun di sana. Sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti, dan balik ke Cikampek. Mulai merintis jualan on line kecil-kecilan. Sekalian menemaniku. Karena kakakku sudah kembali ke Medan, setelah 4 tahun dia menemaniku.

Meski terkesan galak, tapi anak ketigaku ini yang selalu mengantar-antarku. Mulai dari ke dokter, bank, pasar, hajatan, melayat ke rumah duka, sampai malam-malam mencarikan makanan kesukaanku, seperti sate atau soto. Bila aku butuh dan pengen sesuatu yang kulihat di olshop, aku minta dia yang orderkan. Karena aku tidak tau bagaimana cara memesan dan sistem pembayarannya. Tak jarang, dia yang membayar. Tak mau kuganti.

Anaknya nggak gengsian. Mau bantu potong rumput.
Bila mesin cuci, kipas angin, kompor gas rusak, sampai paralon putus atau retak karena ketendang anjing, maka dia yang akan memperbaiki. Aku bersyukur untuk itu semua.

Keberadaannya juga meringankan tugasku dalam mengawasi kedua adiknya.
Waktu adik perempuannya mulai kuliah, dia yang antar sambil berangkat kerja. Kalau pulang kerja, sekalian nyamper, baik adik yang keempat maupun yang kelima. Dia selalu tanya jadwal kuliah mereka.

Dia juga mengajari adiknya naik Trans Jakarta, dan naik motor juga. Memberitahu rute stasiun yang aman dan nyaman, menuju kampus maupun kediaman mereka. Bareng kakak kedua, sama-sama mengajari, menguji kemahiran adiknya berkeliling, sampai lancar dan siap dilepas bawa sendiri. Keberadaan ketiga orang anakku yang besar ini, sangat membantuku.
Termasuk saat memberi pemahaman tentang jurusan apa yang akan mereka ambil setelah tamat SMA nanti.

Karena melihat adik keempatnya suka menggambar, kakak keduanya menyarankan untuk ambil DKV saja.
Dia setuju dan menerima tanpa banyak protes. Memang passionnya di situ.

Yang agak bersikeras itu justeru anak bungsuku.
Sejak jauh-jauh hari dia mengatakan ingin kuliah ke Malang atau Bandung. Aku tak mengizinkan.Dengan alasan jauh dan kendala biaya. Kami sempat bersitegang dan dia ngambek padaku.
Dia bilang aku feodal.

"Mama bilang sangat menentang pola asuh yang bersifat patriaki. Tapi nyatanya, mama sendiri tetap melanggengkan nilai-nilai patriaki itu. Mama lebih mengutamakan anak laki-laki. Mama selalu mengakomodir keinginan dan pemikiran-pemikiran mereka. Sedangkan ke aku?
Mama selalu membatasi. Banyak memberi larangan, dengan berbagai macam alasan. Padahal, anak laki-laki dan perempuan itu punya hak dan kemampuan yang sama." Dia mengatakan itu dengan nada marah.
Aku berusaha tetap tenang. Yah, anak  remaja 17 tahun, kelas dua SMA, memang sedang susah-susahnya diberitahu. Sambil terus berdoa dalam hati, semoga hatinya bisa dilembutkan.

"Mama tidak menghambat kamu. Mama hanya mau kamu bersikap lebih rasional dan realistis. Malang itu jauh. Bandung juga. Kita nggak punya saudara di sana, yang bisa bantu mengawasimu nanti. Kalau nanti sakit bagaimana?
Kenapa kamu bersikeras ingin menjauh dari keluarga?" Aku berusaha melunakkan hatinya.

" Sekarang zaman sudah canggih, Ma. Ada smart phone. Kita bisa terhubung setiap saat.
Kenapa mama selalu menghalangi keinginanku? Dulu aja mama nyebrang dari Sumatera ke Pulau Jawa. Mama boleh merantau, lalu kenapa aku tidak boleh?" Agak tersentak juga aku mendengar berondongan pertanyaannya itu.

" Situasinya tak sama. Mama punya alasan yang kuat untuk meninggalkan Sumut. Didorong rasa ingin keluar dan memutus rantai kemiskinan. Mama capek dihina dan diremehkan terus. Mama ingin buktikan, meskipun mama orang kampung, dari keluarga sederhana, tapi mama punya hak yang sama untuk mengejar cita-cita. Mama ingin buktikan kalau mama bisa mewujudkan mimpi mama itu. Mama ingin membungkam kesombongan orang-orang yang pernah menghina mama, dan menegaskan pada mereka, bahwa siapa saja boleh punya mimpi besar. Tidak hanya terbatas pada mereka yang berpunya..." Aku berusaha menjelaskan sebenar-benarnya.

" Meski kita tidak kaya, tapi semua kebutuhanmu tercukupi. Kau tumbuh dalam limpahan kasih sayang keluarga. Kami selalu menjaga dan melindungimu. Apalagi yang mau kau kejar? Keluarga macam apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa ingin menjauh dari kami?
Belajarlah untuk menerima porsi karmamu sendiri.
Bersikap realistislah. Selalu bersyukur.
Jangan pernah bandingkan kehidupan teman-temanmu dengan dirimu. Belum tentu yang terlihat sempurna itu memang benar demikian adanya..." Aku berkata dengan nada getir. Air mata deras mengucur.
Apa yang salah sehingga anak perempuanku satu-satunya begitu menentangku?

Aku merasa, selama ini sudah memberikan segalanya untuk menjaga, merawat, dan melayani keluarga. Bahkan, aku sering mengabaikan keinginanku sendiri, demi melindungi dan menjaga harga diri mereka.
Apakah keinginanku berlebihan?
Apa benar aku terlalu banyak menuntut anak-anakku?

Saat itu dia kelas XI, semester 5. 
Ada edu fair di sekolah, menawarkan beasiswa early bird, bagi siswa yang cepat mendaftar. Akan dapat potongan uang pangkal dan UKT sebesar 70%, asal selama perkuliahan, IP/IPK stabil, minimal 3,0.

Aku yakin anak perempuanku bisa. Makanya aku mendorongnya untuk segera mendaftar. Tapi dia tetap menolak. Dia masih tetap ingin kuliah di luar kota Jakarta.

Kakak keduanya coba menasehati dan memberi pengertian.

"Kamu ambil jurusan Bahasa Mandarin aja. Skill lain bisa kamu pelajari secara otodidak. Tapi tidak dengan bahasa. Karena ada struktur dan pakem-pakem baku yang harus dipelajari." Dia tetap diam. Tidak tertarik. Apalagi urutan kampus yang direkomendasikan itu PTS yang ada di urutan ke-46 se-Indonesia. Mungkin ada perasaan gengsi.
Sementara dia dapat undangan dari salah satu PTS  ternama, milik media nasional ternama, di Tangsel.

"Itu kan jauh.
Kalau kamu ambil kuliah di sana, berarti harus kos lagi. Biaya lagi. Mama nggak sanggup..." Ujarku terus terang.

"Kalian semua memang nggak pernah bisa ngertiin aku. Semua dilarang. Semua ditentang...
Ke Malang dan Bandung nggak boleh. Masak ke Tangsel juga nggak diizinin?
Capek punya mama dan koko yang otoriter..." Tangisnya pecah.
Setelah mengatakan itu, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang, menutupi wajahnya dengan bantal, dan menangis terisak-isak.

Sejak itu, dia jadi sangat irit bicara. 
Setiap kali aku dan kakakku ke Jakarta, dia berusaha menghindar. Ada saja alasannya. Ngegym atau renang di fasum apartemen. Kalau tidak, dia bilang lagi sibuk mengerjakan tugas.

Aku jengkel juga. Capek-capek datang ke Jakarta, naik turun kereta ekonomi, sambil membawa bekal untuk mereka. Untuk stok beberapa hari. Sampai di sana, malah dicuekin. Sebagai ibu, aku tersinggung juga. Lalu aku menyampaikan keresahanku itu pada anak ketigaku. Dia selalu pulang kerja tepat waktu dibanding kakaknya yang lain. Pukul 19.30.

"Coba kasih pengertian ke adikmu soal kuliah itu. Siapa tau, kalau kamu yang ngomong, dia lebih mau mendengarkan." Begitu aku selesai mengatakan itu, dia langsung bangkit dan membuka pintu kamar.

"Ehi, kamu lagi ngapain?" 
"Lagi mengerjakan tugas sekolah." 
"Sini, keluar dulu sebentar. Koko mau ngomong..." Tak selang berapa lama, anak perempuanku sudah duduk di hadapan kami.

"Ini koko langsung to the point aja ya.
Pilihan tetap kuliah di Jakarta itu, pilihan yang paling tepat. Kamu tetap bisa tinggal di apartemen bareng koko-koko lainnya. Tak perlu kos. Kalau malam-malam lapar, bisa rebus mie dan bikin ceplok telor sendiri. Peralatan semua ada. Komplit. Kampus Universitas Bunda Mulia (UBM) juga tidak jauh. Hanya 8 km dari apartemen. Masih terjangkau.
Kalau di Tangsel, kejauhan. Kamu kecapekan di jalan. Buang waktu.
Koko rasa, UBM pilihan terbaik untuk kamu.
Koko juga bisa anterin kamu nanti. Karena searah dengan tempat kerja koko." Si bungsu diam menyimak.

"Jurusan bahasa memang banyak dibutuhkan. Seapes-apesnya, kamu bisa jadi penerjemah. Kerja dari rumah.
Kuliah itu tidak tergantung pada rating kampusnya. Semua kembali ke diri sendiri.
Koko dari SD juara terus, dari sekolah favorit. Apa ada jaminan serta merta koko bisa jadi sukses? Kesuksesan itu dibangun, diperjuangkan. Bukan hadiah yang jatuh dari langit. Bukan ditentukan oleh nama besar kampusnya. Kampus hanya sarana untuk belajar dan mengasah kemampuan. Semua kembali pada daya juang kamu sendiri.

Harusnya kamu bersyukur. Masih bisa kuliah. Di luar sana berapa banyak anak muda yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya? Apa kamu pikir mereka tidak punya cita-cita juga? Kadang mimpi itu harus tertunda dan terhenti karena keadaan.

Makanya, kamu harus realistis. Jangan egois. Dan memaksakan keinginan diri sendiri. Itu pilihan terbaik yang bisa diberikan ke kamu. Hargai, syukuri.
Kalau uang mama cukup, koko yakin, mama juga akan memenuhi keinginanmu untuk kuliah di mana saja. Seperti di Bandung atau di Malang itu.
Cobalah untuk mengerti. Papa sudah nggak ada. Kita semua sedang berjuang..." 
Adiknya mendengarkan sambil menundukkan wajah.

" Iya, Ehi. Kalau kamu tetap di Jakarta, beban biaya akan terasa lebih ringan. Mama bisa rutin datang, menjenguk kalian. Naik kereta. Cukup dengan bawa uang Rp100.000 sudah bisa ketemu dengan anak-anak.
Kalau ke Malang dan Bandung? Butuh jutaan.
Mama sudah tua. Kaki mama pun sudah nggak kuat menempuh perjalanan jauh. Kamu harus paham itu. Jangan cuma lihat dari sisi dirimu. Tapi coba pertimbangkan juga dari sisi lainnya..." Aku berusaha menjelaskan situasi sebenarnya.
Apa adanya.
Daripada dia maksa, dan aku menuruti, lalu tiba-tiba kuliah terputus di tengah jalan nanti? Bayar UKT itu kan sesuatu yang pasti, dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Aku pikir, lebih baik menyampaikan kenyataan yang pahit sejak awal, daripada memberinya harapan kosong.

"Cepat daftar. Sebelum tawaran beasiswa itu berakhir. Dapat potongan lima juta untuk tiap semesternya kan membantu dan meringankan keluarga ?
Koko nggak mau dengar ada alasan lagi." Biasanya bila kokonya yang nomor tiga sudah berkata demikian, tidak ada tawar menawar atau ruang diskusi lagi. Di antara ketiga koko yang ada, mereka memang paling segan pada koko yang nomor tiga. 

Akhirnya, dengan diantar Dhamma, koko keempatnya, dia ambil dan mengisi formulir pendaftaran.

Selang beberapa waktu, saat aku ke Jakarta menjenguk meteka, tiba-tiba anak perempuanku menghampiri dan bercerrita dengan semangat.

"Ma, kata lao shi aku di sekolah, jurusan Bahasa Mandarin di UBM bagus. Lao shi aku juga ambil S2 di situ. Katanya jurusan Bahasa Mandarin dapat predikat akreditasi unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), dan sudah dapat pengakuan secara internasional. Aku senang kuliah di sini..."  Dia menjelaskan tanpa kuminta.

Rasanya lega banget. Aku menemukan kembali keceriaannya, setelah hilang beberapa waktu.
Terimakasih Semesta. Selalu membantuku menyelesaikan masalah dengan cara yang unik...

Selama perkuliahan, dia mengikuti dengan semangat. Setiap minggu, membantu para seniornya mengajar anak-anak sekolah minggu dasar-dasar bahasa mandarin di vihara.

Kemudian dia ditarik seniornya untuk mengajar les bahasa mandarin via zoom untuk para lansia dan TKW  yang bekerja di Taiwan.

" Mama mau nggak belajar mandarin? Kalau mau, nanti aku daftarkan. Aku yang bayar. Dipotong dari gaji aku.
Nanti aku yang ngajar..." Ujarnya berapi-api.

"Nggak, nggak usah. Mana betah mama ikut zoom satu setengah jam begitu. Biar mama belajar dari YouTube. Banyak video pendek yang berdurasi 30 detik itu." 

"Oooh, ya sudah kalau begitu. Senyamannya mama aja." Dia kembali banyak bercerita padaku. Terlebih tentang murid-muridnya. Kadang aku juga mendengarkan saat dia mengajar di kelas on line-nya sambil menyetrika.

"Mbak-mbak ini hebat. Punya kesadaran untuk up grade kemampuannya. Mungkin di sana juga bosan. Jaga amah-amah. Katanya lansia di sana kalau pagi sekolah juga lho ma. Seperti anak TK."

" Mama nggak pengen kuliah lagi gitu? Banyak lho para orangtua yang kembali kuliah setelah memasuki usia pensiun. Untuk killing time dengan cara-cara sehat dan positif." Dia bercerita tanpa perlu kutanya terlebih dahulu.

" Nggak. Mama sudah males mikir. Kerjaan di rumah juga banyak..." Jawabku sejujurnya.

Dia pun bercerita, muridnya nambah, dan sudah  punya dua kelas zoom. Senin-Rabu, dan Selasa-Kamis. Mulai pukul 20-21.30.

"Capek sih. Tapi aku senang dan bangga menjalaninya.
Bangga karena bisa menghasilkan uang dari usaha sendiri." 

" Iya, mama juga bangga padamu." Matanya berbinar mendengar ucapanku itu.

Beberapa bulan kemudian, saat perkuliahan sudah memasuki semester tiga, dia mengatakan padaku, dia melamar jadi guru les bahasa mandirin bagi pemula untuk kelas fisik di daerah Pademangan. Di sini mengajar anak-ansk TK sampai kelas tiga SD.

"Ya, nggak apa-apa. Asal tidak ganggu kuliahmu." Aku memberi restu atas pilihannya.

"Nggak, ma. Kuliah tetap prioritas utama." Dengan tegas, dia meyakinkan aku.

Beberapa waktu kemudian, dia memutuskan untuk pindah. Katanya tempat les dan gajinya pun lebih bagus.

" Besok wawancara dan demo teaching. Doain aku ya ma supaya bisa lolos." Tampak dia agak gugup.

"Iya. Mama selalu mendoakan kalian semua, anak-anak mama..." Aku kemudian bangkit untuk menyalakan dupa di altar, bersujud dan berdoa untuk anakku.

Malamnya dia mengabari.
"Ma, aku diterima. Tapi dalam tiga hari ini masih terus didampingi saat mengajar. Aku suka di tempat baru ini.
Ownernya baik. Cici itu seorang vegetarian. Dia langsung notice nama aku. Dia bilang nama aku punya arti yang bagus." Dia bercerita dan tak bisa menutupi kegembiraannya. Sekarang sudah hampir setahun dia mengajar di situ.

Saat minggu lalu aku ke Jakarta, aku diajak ke tempat dia mengajar les.
Kemudian dia mengajakku berkeliling. Dia sudah lancar mengenderai sepeda motor. Belanja ke pasar, berburu kue-kue jadul, ke vihara, muter-muter ke Monas, dan terakhir ngadem ke mall Kemayoran, dekat apartemen tempat mereka tinggal dulu.

"Aku nyaman ngajar di sini. Dekat vihara juga.
Anak-anaknya lebih tertib dan sopan. Sekelas maksimal 10 orang. Aku ngajar di sini, Senin sampai Jumat, setelah kuliah. Senin sampai Kamis, aku mulai ngajar dari pukul 13-18.30. Kalau hari Jumat, dari pukul 13-19.30. Senin sampai Kamis tetap kadih jelas zoom.

Total muridnya ada 500 orang. Di Kemurnian dan Gajah Mada. Lao shinya ada 10 orang. 11 sama owner-nya.
Cicinya baik dan sayang sama anak-anak kecil.. Disediakan satu dinding khusus untuk mereka corat coret. Ada puzzle, game di komputer, dan mainan anak lainnya disediakan. Jadi anak-anak betah. Orangtua juga tenang kalau telat jemput. Karena anaknya nggak lari-larian di luar. Trus ada guru yang ngawasi.

Di sini aku suka dikasih makanan. Mungkin cicinya ngerti kalau aku anak kos. Di kulkas disediain banyak snack. Anak-anak juga dibolehkan mengambilnya. Di sini kami diberi upah yang layak. Cicinya memperhatikan banget kesejahteraan dan kenyamanan guru-guru di sini. Aku bersyukur banget bisa ngajar di sini.

Capek sih. Cicinya lumayan ketat ngawasi. Selalu direview. Kita sebelum mulai kelas, wajib sudah hadir satu jam atau 30 menit sebelum kelas dimulai. Setelah kelas bubar, kita wajib bikin rekap. Nggak boleh langsung pulang.  Disediain komputer sih untuk masing-masing guru. Meski capek, tapi aku senang. Bangga juga. Dipertemukan dengan orang-orang baik.
Setelah kerja, aku jadi ngerti, susahnya cari duit itu..." Aku terus mendengarkan dia bercerita, tanpa berusaha memotongnya.

"Mama tau nggak...
Awal-awal aku shock lho harus bantu melap ingus, memakaikan celana, dan nge-flash toilet saat anak-anak pipis. Murid aku kan murid-murid TK sampai kelas tiga SD. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga..."

"Anggap sebagai latihan rendah hati dan welas asih.
Suatu saat nanti, saat harus mengurus anak sendiri, kamu sudah nggak kaget lagi. Nggak apa-apa. Jalani aja semua dengan hati ringan. Memang itu bagian dari pekerjaan. Jangan merasa rendah karena itu..." Aku coba memberi penguatan padanya.

"Iya. Nggak apa-apa kok. Setiap pekerjaan pasti ada sisi enak dan nggak enaknya." Aku jadi tenang mendengar jawabannya itu.

"Setelah melihatmu langsung, hati mama jadi lega. Kau makin dewasa. Mama bangga padamu..."ujarku sambil memijat-mijat pundaknya dan menepuk-nepuk punggungnya.

"Kau ingat tidak, dulu kau marah sama mama karena tidak mengizinkanmu kuliah ke Malang dan Bandung?
Jyrusan yang kau anggap tidak menjanjikan masa depan yang baik, malah terbukti sekarang malah  menyokong kehidupanmu. Kau dapat penghasilan dari mengajar les bahasa mandarin. Di atas UMR Jakarta...
Apa sekarang kamu masih menyesal kuluah di jurusan ini ?" Aku ingin memastikan perasaannya yang sesungguhnya. Jujur, aku khawatir dia menjalani semua ini dengan keterpaksaan.

"Iya, waktu itu aku masih bocah. Pemikirannya masih labil. Sekarang aku sudah bisa berpikir dengan lebih jernih. Aku suka sama jurusan yang kuambil..." 
Aku lega mendengarnya pernyataannya itu.
Terimakasih Semesta.

Aku merasa hidupku tak sia-sia.
Anak yang kuperjuangkan, akhirnya mengerti.

Selelah apa pun hari-hari yang kulalui, aku akan sanggup menanggungnya. Asalkan anak-anakku bahagia.

Kota Baru, Sabtu, 19 September 2026, pukul 17.30.


























 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

memasuki usia 60 tahun

Kisahku (part 1)