Bunga teratai
Bunga Teratai
Dari kecil aku sudah menyukai bunga teratai.
Menurut ayahku, namaku masih ada kaitannya dengan teratai. Dengan memberi nama Ho Lian, yang secara harafiah dapat diartikan sebagai teratai yang baik, bisa tumbuh di mana saja.
Ayah berharap, aku akan tumbuh jadi sosok perempuan yang kuat, mudah beradaptasi dengan berbagai situasi.
Dulu, banyak teratai yang tumbuh di sawah dan tanah rawa belakang rumah kami. di antara pohon besiang.
Di pinggirnya, banyak berjajar pohon sagu yang besar-besar dan menjulang tinggi. Di situ airnya tak pernah surut. Kami tak pernah diperbolehkan mendekati tempat itu. Airnya sedalam dada orang dewasa. Nenekku khawatir kami jatuh terpeleset dan tenggelam di sana. Pematangnya kecil dan licin.
Akupun suka makan biji teratai. Rasanya manis.
Nenek dan abang sepupuku suka membawakannya bila habis pulang dari sawah.
Nenek dan abang sepupuku yang menanam padi di sawah. Ibu dan kakak ipar, mengawasi anak-anak, mengurus keperluan rumah, seperti memasak, mencuci, menyapu halaman, memberi makan ayam-ayam dan bebek. Kakek merawat sayuran di kebun. Semua punya tugas sendiri-sendiri.
Rumah kami ramai dengan anak-anak kecil. Ada 14 orang semua. Bila dihitung dengan orangtuanya, semua ada 19 orang.
Makin besar, aku makin suka pada bunga teratai.
Apalagi setelah mengetahui makna filosofisnya.
Meskipun teratai tidak harum, tidak seindah dan semewah bunga mawar, namun kelopak-kelopaknya terlihat lebih kokoh. Tak mudah layu meski berada di bawah teriknya panas di siang hari. Tangkainya pun tetap tegak menopang bunganya, tak patah diterpa hembusan angin kencang. Melengkung dan bergoyang-goyang untuk sesaat, kemudian tegak kembali.
Dari bunga teratai, aku banyak belajar.
Dari tanah berlumpur sekali pun, kita bisa menemukan keindahan dari setangkai bunga teratai .
Bunga teratai tetap bisa tumbuh dan mekar, tak ternoda sedikit pun oleh lumpur yang ada di bawah dan mengelilingi batang pohonnya.
Semoga aku bisa tumbuh mekar sekuat dan seindah bunga teratai itu. Tak mudah menyerah pada keadaan. Tetap bisa tegak berdiri dan bertahan, meski hidup tak pernah menjanjikan akan selalu berjalan dengan mudah.
Aku berharap, anak-anakku akan belajar dan memetik hikmah dari filosofi bunga teratai. Apa pun jalan yang akan mereka pilih. Semoga mereka selalu diberkahi Semesta. Hidup di jalan yang bisa menuntun mereka mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan bathin. Memberi dampak positif pada sekitar.
Kota Baru, Kamis, 3 September 2026, pukul 23:15.
Komentar
Posting Komentar