pesan dan kesan teman-teman

**Kesan dan Pesan**


1. Sugiono, Fikomer '85, berdomisili di Cirebon.

Meski belum membaca bukunya secara utuh, beberapa tulisan yang sudah dibagikan di WAG Alumni FIKOM 85 rasanya cukup mewakili isi bukumu. Tulisanmu mengalir, jujur, lugas, dan tanpa banyak basa-basi. Latar belakang jurnalistikmu tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar kamu praktikkan melalui buku yang merekam perjalanan hidup, nostalgia masa kuliah, dan kehidupan setelah meninggalkan bangku kuliah. Sebagai sahabat dan sesama alumni FIKOM 85, saya melihat buku ini layak dibaca karena di dalamnya bukan sekadar cerita pribadi, tetapi juga ada potongan kenangan yang mungkin membawa pembacanya kembali pada masa-masa yang pernah kita lalui bersama.

2. Meldiana Martha, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

Saya senang dan bangga pada sahabatku Ho Lian yang sudah menuliskan kisah-kisah inspiratifnya melalui pengalaman bersama teman dan keluarganya. Melalui kisah-kisahnya itu, saya juga  belajar untuk menghadapi hidup dalam ketulusan, kejujuran, kerendahhatian, rasa syukur dan ikhlas. 
Terimakasih , sahabat. I love you  ❤️πŸ™

3. Janed Jacobs, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Aku adalah salah satu pembaca dan penggemar blog Lian, bahkan dia juga yang menginspirasi aku untuk kembali menulis. Kami saling comment dan  menyemangati dalam tulisan-tulisan kami. Apa yang ditulisnya adalah hal-hal sederhana kesehariannya, namun sarat dengan makna.

Ya, dia jujur dan apa adanya. Tidak berusaha membuat tulisannya menjadi puitis atau bak karya sastra. 
Kadang, ada yang melenceng keluar dari ide utamanya tapi thats ok, saya tetap bisa menikmatinya.

Lian sangat menghargai hubungan, ingatannya tentang masa lalu juga sangat kuat. Semua Itu tergambar jelas dalam tulisan-tulisannya. 

Selamat membaca dan menyelami dunia Ho Lian.

4. Didi Pujohadi, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Membaca tulisanmu itu hiburan untuk saya, saya bisa mengetahui cara pandangmu, cara menghadapi masalah, mencari solusi dan jalan keluar dari masalah. Tentunya akan saya bandingkan dengan cara atau apa yang akan saya lakukan jika menghadapi masalah tersebut. Karena dalam ceritamu itu saya melihat ada ketulusan dan ikhlas untuk menghadapinya dan mensyukuri yang ada, melakukan apa adanya.

Tulisannya mengalir, ringan, apa adanya, enak dibaca, mudah dipelajari dan dipraktekkan. Perjuangan seorang ibu membesarkan anak anaknya, empati seorang ibu dengan situasi dan keadaan rekan-rekannya,  juga tetangganya. Buku ini tentu layak dibaca, daripada baca buku tabungan πŸ˜€πŸ€­

Sukses ya... 
Semesta Mendukung πŸ’ͺπŸ‘


5. Ginanjar, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta

Selamat untuk sahabat terbaik saya, *Ho Lian*, atas terbitnya karya berharga ini, sebuah warisan pemikiran yang dirangkai begitu indah sebagai kenangan manis bagi anak, cucu, hingga generasi mendatang. Memahami kualitas dan ketajaman tulisannya bukanlah hal baru bagi saya, sebab persahabatan kami telah terjalin erat sejak pertama kali melangkah di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad tahun 1985. Bahkan, Nomor Induk Mahasiswanya, KIA85001, masih terekam kuat di ingatan, karena kebetulan hanya terpaut dua angka dengan milik saya, KIA85003. Sekali lagi, selamat ya, Lian, sungguh saya sudah tidak sabar untuk segera membuka setiap lembar halaman buku istimewa ini.
• *Ginandjar*

6. Mei Ik, teman SMA, berdomisili di New Jersey, USA. 

Ho Lian itu teman seperjuangan. 
Sama-sama  banyak mengalami pahit manisnya hidup.

Dulu, kami bekerja di tempat yang sama. Dia mengajar anak-anak belajar Bahasa Inggeris, sedangkan aku sebagai staf admin.
Dia selalu menjemputku, lalu kami berangkat bareng.
Kami sama-sama berjuang. Bermimpi mengejar cita-cita setinggi langit.

Sejak SMA dia sudah suka bikin cerpen dan puisi. Bila masuk koran, akan dibacakan oleh guru di depan kelas. Dia suka menulis, sedangkan aku lebih suka jahit menjahit dan bikin kue.

Saat kembali ke Indonesia, aku mencarinya. 
Tidak mudah mendapatkan teman sehati.

7. Anto Darmanto, Fikomer '85, berdomisili di Bandung

Membaca barisan tulisanmu yang beredar di grup WhatsApp alumni hingga akhirnya terhimpun menjadi sebuah calon buku, ada satu hal mendasar yang langsung terasa: kejujuran yang telanjang. 
Engkau tidak sedang berusaha tampil memukau atau menyusun kata-kata agar tampak puitis. Engkau sekadar mencatat hidup. Dan justru di situlah letak kekuatan terbesarnya.

Dalam tradisi jurnalistik yang pernah kita timba bersama di FIKOM 85, fakta adalah raja, tetapi kejujuran rasa adalah jiwanya. Bukumu memiliki kedua hal tersebut tanpa perlu bersolek berlebihan.

Sejak kepergian almarhum suami, jalan yang harus engkau tempuh berubah seketika. Banyak orang yang runtuh ketika pilar utamanya dicabut oleh takdir.

Namun, di mataku—dan di mata teman-teman lama yang memperhatikan dari jauh—engkau memilih jalan yang sunyi namun amat terhormat: bertahan.

Engkau tidak hanya mengambil alih peran sebagai pengasuh, tetapi juga bertransformasi menjadi benteng utama keluarga.

Menjadi tulang punggung tunggal untuk membesarkan anak-anak bukanlah perkara angka-angka matematis tentang biaya sekolah atau dapur yang harus tetap ngebul. Ini tentang bagaimana seorang wanita menjaga kedamaian di rumah, ketika hatinya sendiri mungkin sedang berkecamuk.

Langkahmu merawat kebun peninggalan almarhum adalah metafora yang paling kuat dari seluruh perjalanan hidupmu.

Kebun itu bukan sekadar hamparan tanah atau tumpukan tanaman produktif; kebun itu adalah warisan ingatan, jejak kasih sayang, sekaligus simbol keberlanjutan hidup.

Mengurus kebun butuh kesabaran: menyiangi gulma, memastikan akar mendapat air, dan menunggu musim panen tiba dengan penuh ketidakpastian.

Cara engkau memelihara kebun itu persis dengan cara engkau membesarkan anak-anakmu—dengan peluh yang kerap tak terlihat, dengan ketekunan harian yang tidak butuh tepuk tangan dari siapa pun. Engkau memegang sekop dan cangkul kehidupan tanpa sedikit pun kehilangan martabatmu sebagai seorang perempuan dan ibu.

Namun, kejujuran tulisanmu juga memotret sisi dirimu yang amat polos dan tanpa jarak. 

Di mata sebagian kawan, engkau sering kali dianggap tidak memiliki batas antara ranah pribadi dan publik. Cerita-cerita yang sangat privat—mulai dari dinamika hubungan rumah tangga dengan almarhum suami, urusan anak, hingga detail keseharian yang sangat domestik, seperti: urusan dapur, resep masakan, perjalanan ke warung, serta naik-turunnya harga sembako—semuanya engkau tuangkan secara terbuka tanpa canggung. 

Bagi orang lain, hal seperti itu mungkin terasa terlalu eksplisit, hingga tak jarang kawan-kawan dekat dan sahabatmu terpaksa turun tangan untuk menegur dan mengingatkanmu secara baik-baik.

Tetapi, itulah engkau. Kepolosan itu lahir bukan karena engkau tidak paham etika ruang publik, melainkan karena engkau sudah menganggap kawan-kawan di FIKOM 85 bukan lagi sekadar kawan alumni, melainkan saudara kandung tempatmu menumpahkan seluruh isi kepala dan beban dada. Di mata engkau, forum itu adalah ruang aman untuk bercurah tentang apa saja, sekecil atau seprivat apa pun urusannya.

Ketidakmampuanmu menyimpan rahasia pribadi justru menjadi bukti betapa bersihnya hatimu dari kepura-puraan; engkau hadir apa adanya, tanpa filter, dan tanpa berpura-pura menjadi orang lain.

Bagi anak dan cucumu yang kelak membaca buku ini, tulisan-tulisan ini adalah warisan teragung yang bisa engkau tinggalkan. 

Harta benda bisa susut atau habis tergerus zaman, tetapi rekaman pikiran, ingatan, dan pergulatan batin seorang ibu adalah kompas moral yang akan terus hidup melintasi generasi.

Lewat 109 catatan yang engkau himpun, mereka tidak akan melihat sosok ibu yang sempurna seperti dalam dongeng. Mereka akan melihat sosok ibu yang utuh: manusia biasa yang tangguh, kadang kelewat jujur dan polos, pernah lelah dan ragu, tetapi selalu memilih untuk berdiri tegak kembali setiap kali jatuh.

Dalam dunia yang makin riuh oleh pencitraan dan seruan-seruan kosong tentang ketangguhan, perjalanan hidupmu adalah kesaksian yang otentik. Engkau tidak perlu berteriak ke mana-mana untuk membuktikan bahwa engkau kuat. Ketangguhanmu terpancar dari cara engkau menyapa pagi, menyiram tanaman di kebun, dan memastikan anak-anakmu melangkah ke masa depan dengan kepala tegak.

Buku kenang-kenangan ini adalah dokumentasi tentang kemenangan sebuah jiwa atas cobaan hidup. Sebagai kawan lama, saya merasa terhormat bisa menyaksikan proses tumbuh dan tempaan itu dari jauh. 

Bacalah buku ini kelak wahai anak-cucu sahabatku, dan ketahuilah: *ibumu adalah seorang petarung sejati yang memenangkan pertempuran hidupnya bukan dengan pedang, melainkan dengan ketabahan, kepolosan hati, kerja keras, dan kasih sayang yang tak pernah padam*.

8. Subdani Puri, tetangga rasa saudara, berdomisili di Cikampek.

Selamat ya Ciciku, untuk terbitnya hasil karya tulisan yang natural. Menulis tentang perjalanan hidup apa adanya tanpa dilebih lebihkan, yang selalu menjaga hubungan baik dengan siapa pun itu. Perbedaan agama, suku ataupun ras bukanlah suatu penghalang. Tetap semangat ya Ciciku, sehat dan sukses selalu ya, aku selalu mendukung. Semoga Semesta selalu menjaga dan melindungi Cici sekeluarga. Amin.   

9. Lia Kuswelia, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

Saya membaca tulisan-tulisan Ci Lian di WAG Fikomers. Saya selalu merasa sedang membaca tulisan novel NH Dini. Melalui tulisannya juga, saya melihat sosok Ci Lian sebagai seorang ibu yg berhasil mendidik anak-anaknya, menjadi anak-anak yang berbakti pada ibunya dan saling menyayangi antar kakak adik. Saya selalu merasa iri, atas kepandaiannya menulis & menjadi ibu yang mampu menerapkan nilai-nilai bakti pada anak-anaknya. Sehat & sukses selalu Ci Lian. πŸ™πŸ»

10. Maria, Pemuda Vihara Vimala Dharma Bandung (PVVD), berdomisili di Bandung.

Tulisan Holien bagus dan bermanfaat. Sambil bercerita tentang kesehariannya, ia membagikan wisdom yang ditimbanya dari pengalaman hidup sebagai istri dan ibu lima anak. Buku yang sedang Anda baca akan saya klasifikasi sebagai buku psikologi populer/self-help yang sarat akan wife/mother-wisdom.

11. Yuliang, Pemuda Vihara Vimala Dharma, berdomisili di Bandung.

Datang ke Bandung dari kota kecil di Sumatera Utara, teman kami yang satu ini memilih untuk kembali ke kota kecil di Jawa Barat, Cikampek.

Berbekal kemampuan menulisnya, ia memilih jadi ibu rumah tangga dan menulis jurnal dari kehidupannya sehari-hari. Sebuah pilihan yang patut diapresiasi. 
Dari sudut pandang manapun, menurut saya, Holien adalah orang sukses.  

Ia sukses berperan sebagai istri seorang guru yang idealis (almarhum), dan sukses membesarkan lima anak mereka.  

Sebagai seorang Buddhis, ia membuktikan bahwa kebijaksanaan (wisdom) bisa dicapai dalam meditasinya sebagai ibu rumah tangga.

12. Mustofa Najib, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Kesan pertamaku terhadap Ho Lian adalah sederhana dan bersahaja. Berkali-kali berdiskusi, membaca tulisan-tulisannya, dan saat bertemu, kesan itu konsisten muncul dalam benakku. 

Ho, begitu aku biasa memanggil, juga selalu terkesan jujur dalam mengomentari suatu hal. Saking jujurnya sesekali terkesan polos dan naif. 

Tapi itulah dia. Tampil tanpa gincu di hampir semua urusan. Tak dibuat-buat. 

Namun di balik kesederhanaannya Ho memiliki keberanian dalam menentukan pilihan hidup. Dia bukan orang yang sekadar menggelinding menjalaninya saja. Ho memiliki prinsip dan tak suka konflik. Dia mendambakan harmoni dalam setiap sisi kehidupan. 

Karena itu, tulisan-tulisannya yang seringkali bercerita tentang hidupnya sehari-hari, justru selalu menyisipkan kesan kehidupan yang damai yang sudah dia jalani, juga yang dia dambakan. 

Aku dan dia berasal dari satu kampus, satu fakultas, satu angkatan, hanya beda jurusan. Dulu kami cuma saling tahu, tapi sekarang, bagiku Ho adalah salah satu sahabat dan juga teman mensyukuri hidup. 

Semoga Ho bahagia selalu bersama anak-anak yang dicintainya.

13. Gaudensius Suhardi, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Ho Lian, Arsip Kehidupan

Ada banyak cara manusia ingin meninggalkan jejak. Ada yang membangun Ibu Kota Nusantara, merancang pesawat terbang, atau mendirikan perusahaan konglomerasi. Namun, salah satu cara yang paling sunyi sekaligus paling kuat adalah menulis buku. Sebab, melalui buku, pikiran seseorang dapat terus hidup bahkan ketika jiwa telah lepas dari raga.

Menulis buku bukan sekadar mengumpulkan kata dan menyusunnya menjadi halaman. Ia adalah usaha menyelamatkan sesuatu dari kefanaan. Pengalaman yang singkat, peristiwa yang segera berlalu, pemikiran yang mungkin lenyap bersama ingatan, semuanya dapat diberi tempat untuk tinggal di dalam buku.

Namun, keabadian sebuah buku tidak ditentukan oleh tebalnya halaman atau banyaknya eksemplar yang dicetak. Sebuah buku menjadi panjang umur ketika mampu menyentuh sesuatu yang juga abadi dalam diri manusia: cinta, kehilangan, kesepian, keberanian, ketidakadilan, harapan, pencarian makna, atau pertanyaan tentang siapa kita dan untuk apa kita hidup.

Menulis juga membutuhkan dua kemampuan yang tampaknya berlawanan, tetapi sesungguhnya saling melengkapi: kemampuan melihat yang besar dan kecermatan menangkap yang kecil. Penulis perlu memiliki gagasan dan perspektif, tetapi juga harus mampu menurunkannya ke dalam detail yang konkret agar pembaca bukan hanya memahami pikiran penulis, melainkan ikut melihat, merasakan, dan mengalami apa yang ditulis.

Dua kemampuan itu terangkum dengan apik dalam tulisan Ho Lian alias Ratnavati. Kemampuannya melihat yang besar dituntun oleh kedalaman spiritualitasnya. Sementara kecermatannya menangkap yang kecil tampak dari detail dalam setiap tulisannya, termasuk detail tentang peristiwa yang telah lama berlalu. Di situlah Ho Lian layak disebut sebagai arsip kehidupan.

Ia juga seperti kamera yang punya perasaan. Ia tidak sekadar merekam apa yang dilihat, tetapi mengolahnya menjadi pengalaman yang memiliki makna. Ia mampu terbang cukup tinggi untuk melihat keseluruhan, tetapi sekaligus cukup rendah untuk melihat sebutir debu di jalan. Dari jarak jauh ia menemukan makna, dari jarak dekat ia menemukan kehidupan.

Kemampuan deskripsinya membuat suasana, objek, dan karakter yang ditulisnya seolah hidup di hadapan pembaca. Kita tidak sekadar membaca sebuah peristiwa, tetapi seperti diajak hadir di dalamnya, melihat, mendengar, dan merasakan. Di situlah kekuatan tulisan Ho Lian: ia mampu mengobrak-abrik emosi pembaca tanpa kehilangan ketajaman pikirannya.

Kemampuan seperti itu tentu lahir dari ketekunan dan kecermatan. Setelah menemukan kembali dirinya, Ho Lian mulai menulis di blog pribadinya. Barangkali tantangan terbesarnya bukan menemukan bahan tulisan, melainkan mengalahkan dirinya sendiri: berani mulai menulis, berani menyampaikan apa yang dipikirkannya, dan akhirnya berani menjadi dirinya sendiri.

Sebab, pada akhirnya, menulis dengan hati adalah usaha untuk membuat pengalaman tidak berhenti pada diri kita. Apa yang kita lihat, rasakan, dan pikirkan diberi kesempatan untuk hidup lebih panjang daripada usia kita.

Ho Lian telah menjadi arsip kehidupan—merekam yang besar, menangkap yang kecil, menyimpan yang nyaris terlupakan. Melalui tulisan, ia memberi kesempatan kepada pengalaman untuk hidup lebih panjang daripada usia manusia. Sebab pada akhirnya, menulis adalah cara menitipkan kehidupan kepada sang waktu.

Proficiat, Ho Lian. Teruslah menulis.

Jakarta, 1 September 2026.

14. Monita, Pemuda Vihara Vimala Dharma, berdomisili di Bandung.

Kesan dan Pesan
Monita Winata , Bandung 

Karunia yang sangat besar bisa ikut menulis kesan dan pesan buat sahabatku Holien. 

Setiap manusia memiliki talenta dan potensi diri yang kadang kita tidak menyadarinya, karena orang lain yang akan menilai, melihat diri kita, baik itu positif maupun negatif . Sudah terbiasa menghadapi hal yang demikian, karena itulah kehidupan yang diajarkan Guru Agung kita Buddha Gautama. 

Bertemu dan menjadi sahabat yang akrab itu juga ada karma yang berkondisi di kehidupan sekarang dan yang lalu, sehingga apa pun yang terjadi di kehidupan sekarang, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, harus kita hadapi dengan kesabaran. Agar ucapan dan perbuatan yang kita lakukan tidak membuahkan karma buruk berulang. Hati-hati, penuh kesadaran, agar semua sila terjaga dengan baik.

Demikianlah interaksi dan hubungan persahabatan dengan Holien . 

Saya kenal Holien pertama kali di Vihara Vimala Dharma . Kami sering melakukan kegiatan sosial bersama. Orangnya  cantik dengan rambut panjangnya yang lurus , tidak bermake up , polos , lugu dan tidak neko- neko , apa adanya,  sama dengan pembawaan saya.  Sehingga kami cocok dalam banyak hal . Di balik itu, Holien memiliki sifat yang keras, memiliki tekad yang kuat dan mandiri . 

Persahabatan kami bertambah erat karena para suami kami juga sobatan. Kami sempat berpisah tanpa kontak setelah masing- masing sibuk dengan perjuangan hidup. Saya ikut suami tugas belajar di Australia 3 tahun. 

Saya hanya ingat ucapan Holien, bahwa suaminya menginginkan banyak anak. Menjadi anak tunggal itu sepi. Jadi mereka berencana punya anak lebih dari satu. 

Hidup di zaman pergolakan politik (peristiwa '98) , lingkungan sebagai minoritas, lingkungan yang masih belum mengerti tentang perbedaan dan minimnya pendidikan, membuat tantangan kehidupan demikian keras. Namun semua badai sudah berlalu. 

Suami Holien meninggal saat pandemi covid, di mana mereka sudah siap menjalani hari tua bersama dengan anak-anak yang mulai beranjak dewasa. 

Namun ini jadi titik balik yang baik untuk Holien. Musibah membuatnya mulai menghasilkan karya yang dulu sempat terpendam, akibat fokus pada cinta kasih yang besar untuk suami dan anak- anak . 
Kemajuan tehnologi membuat kita tersambung dengan teman- teman yang jauh di mata tapi dekat di hati . 

Selamat berkarya.  Tulisanmu apa adanya, enak dibaca dan menghibur. 
Terimakasih sudah menjadi sahabatku πŸŒΉπŸ™

15. Yuyus Nurwahyuni, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

Ci Ho Lian, sosok seorang ibu yang tangguh, berjuang demi anak-anak, selepas ditinggalkan suami tercinta karena Covid. Dengan membaca tulisan-tulisan kecil dan ringan tentang kesehariannya, semoga menjadi inspirasi bagi ibu-ibu di luar sana, untuk tidak mudah mengeluh, apalagi menyerah....

16. Arief Dahlan, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta. 

Saya merasa benar-benar kenal dan dekat sama Cici justru setelah hampir 40 tahun berlalu dari perkenalan pertama 

Makin ke sini, makin terlihat betapa tulusnya Cici. Orang baik hati, jujur, dan selalu punya cara pandang yang positif ke setiap orang. Saya selalu kagum sama cara Cici menulis, kalimat-kalimatnya mengalir begitu saja dan enak dibaca, meskipun Cici sendiri sering gak sadar punya kelebihan itu. Hebat juga cara Cici mendidik anak-anak. Tapi yang paling top n saya respect, Cici itu selalu apa adanya.

Semoga Cici selalu dilimpahi kesehatan yang prima, kebahagiaan yang berlimpah, dan hati yang senantiasa tenang serta bersyukur dalam menjalani setiap detik kehidupan. Teruslah menjadi inspirasi dengan ketulusan hatimu, ya.

*Love U pull, Ciciku

17. Tri Fatichah Hadijati, Fikomer '85, berdomisili di Salatiga.

Bagiku, Lian adalah sosok yang tampil apa adanya. Dari dulu dia tulus, menghormati orang lain, dan empatinya tinggi kepada orang lain. Banyak sekali kenangan indah saat kuliah bersama Lian. 

Setiap membaca tulisan Lian, aku selalu menemukan kerendahan hati dan sifat apa adanya. Optimisme yang kuat menghadapi keadaan yang nampaknya tidak mudah dan ringan. Alhamdulillah, aku dianugrahi teman Lian. Optimistis yang kau tunjukkan juga membuatku optimis bahwa insyaaAllah selalu ada jalan untuk menghadapi setiap keadaan. Aamiin YRA. 
Terima kasih Lian.

18. Eliza Tania (Tan Gek Kiaw), teman SMA, berdomisili di Batam.

Meski belum membaca bukunya secara utuh, saya percaya, tulisanmu mengalir, jujur, apa adanya. Seperti Ho Lian yang kukenal.
 
Dulu kita sama-sama pendatang baru dari SMP berbeda sebelum bertemu di kelas yang sama di SMA Sisingamangaraja. Saya dari SMP Negeri, kamu dari SMPK Tri Tunggal.
Tidak ada satu pun teman yang saya kenal waktu itu. 

Hal yang paling saya ingat, kita selalu ngobrol dalam  Bahasa Indonesia yang fasih. Kita sama-sama kurang pandai berbahasa hokkian. Jadi klop. 

Ho Lian itu sosok yang sederhana dan tekun. Saya pernah diajak berkunjung ke rumahnya yang di kebun sayur, pinggiran kota. Saya tidak pernah tahu sebelumnya. Itu menjadi hal baru bagi saya untuk mengenalnya lebih dalam.

Banyak yang bisa saya pelajari dari hidup Ho Lian.

Saya baru mengenal ajaran Buddha Dharma saat di SMA. Dari sini, saya belajar melihat kehidupan semua teman dari sisi baik dan positifnya saja. Termasuk  pada Ho Lian.

Saya tahu Ho Lian suka nulis.  
Saat saya dengar dia diterima melalui jalur PMDK jurusan jurnalistik, saya yakin akan cocok sekali buatnya.

Sedangkan saya lanjut ke universitas swasta.  Dulu komunikasi lewat surat atau tanya kabar melalui teman-teman lain. Saya senang mengetahui kuliah Ho Lian berjalan lancar. 

Sekian tahun tidak bertemu. Akhirnya Februari 2026 kami  bertemu di Jakarta.  Rasanya senang sekali. 

Saya senang dan bangga pada sahabatku HoLian. 
Terus menulis dan memberi inspirasi ya.
Always love you, Ho Lian♥️πŸ’ͺ🏼

19. Gebi Yani Bawole, Fikomer '85, berdomisili di Bekasi.

Orang yang mencatat kehidupannya dengan cermat menunjukkan penghargaan yang tinggi akan penciptaan-Nya, bukan soal keahlian atau keterampilan menulis, melainkan soal kerendahan hati dan ketulusan dalam dirinya untuk menerima dan menjalani hari demi hari.

Holian adalah sosok yang tahu bagaimana menjalani hidup, tidak untuk membuktikan diri, tidak untuk mencari penghargaan, tidak juga untuk menorehkan prestasi. Melainkan hanya untuk menerima diri apa adanya dan menebar hikmat di dalamnya.

Seorang Holian terlahir lebih banyak untuk berbuat kebaikan tanpa mengejar citra menjadi orang baik.

Inilah buku cerminan bagaimana hidup adalah pelajaran yang harus ditularkan. 

Menjadi guru tanpa harus menggurui, menjadi bijak tanpa harus menginjak, memberi inspirasi tanpa harus berorasi.

Selamat Ho πŸ‘

20. Wenny Setyaningrum, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

A-yi

Aku crita ke anakku Erwin & Livia, bgmn hampir saja kuliahku terhenti krn biaya & kurangnya kemampuanku cari uang tambahan untuk bertahan hidup dan membayar SPP.

Tanpa bnyk bicara, kuangkut semua barang ke Semarang & berdiam diri disana. Saat jadwal registrasi hampir berakhir, tiba tiba Ho Lian menelpon. " Kenapa kau blm daftar ulang ? Tak kulihat namamu. Knp ?"
"Aku ambil cuti semester ini," jawabku singkat.

Mungkin hatinya sangat lembut hingga kepekaannya tinggi saat menghadapi segala sesuatu. Segera Ho Lian berkata  "Ayolah daftar ulang, masih ada waktu. Selebihnya kita bisa hidup sama2. Aku yakin Amiek pasti setuju kita tinggal bareng. Segera balik ke Bandung ya, janji"  Menggenang mataku mendengar bahasanya yg lembut dan santun.
"Kuusahakan. Terima kasih Ho. Smoga ya "

Tahun lalu, kuhantar Erwin & Livia untuk mengenal sahabat yg kini kuminta jadi ciciku. Bersyukur Ho Lian tak keberatan. " Panggil tante,  a-yi yaaa mulai sekarang" ajarnya lembut penuh kasih sayang.

Terima kasih ciiiπŸ€—πŸ˜aku bs berdiri seperti sekarang ini karena ketulusan hatimu  yg murniπŸ™πŸ»

21. Rina Widianti, Fikomer '85, berdomisili di Bangka.

[2/9 03:25] nuuwith: Penulisan dengan bahasa yang sederhana , sehingga mudah dimengerti. Jujur, apa adanya, tapi tetap menarik, seperti penulisnya... 

Memberikan wawasan, pelajaran, melalui cerita pengalaman dan kesehariannya, kedekatan dengan anak-anak, keluarga, dan lain lain.
[2/9 03:26] nuuwith: Aku ingin bilang, kalau buku ini, gaya menulismu, bener-bener Lian banget ...

22. Yoki Rakaryan, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Selamat atas penerbitan tulisan-tulisan Ho Lian. Tulisan ringan namun berisi pesan mendalam yang seringkali orang lupa . 

Inilah kelebihan Ho Lian yang suka mencermati dengan mendalam dan mengingatnya. 

Inilah buku hasil memcermati dan mengingat secara mendalam yang orang zaman sekarang sulit lakukan, karena ketergantungan kita pada teknologi ... 
Hasilnya tentu berbeda. Karena, manusia lebih canggih dari perangkat teknologi mana pun ... 

Selamat meresapinya, dan menjadi manusia dengan segala aspeknya ...

23. Dini Maharani, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

Berada di *masa* sekarang itu adalah anugrah, hadiah dari yang Maha Kuasa untuk masa-masa sulit, untuk rasa lelah, rasa khawatir, untuk air mata...πŸ₯Ή

Juga, untuk rasa bahagia, senyum, gelak tawa🀣

Semua itu dicurahkan dalam tulisan yang indah...yang mengalir seperti air jernih dari sumbernyaπŸ’§πŸ’¦

Menulislah terus cici sayang🩷
Tulislah semua dengan seluruh energi cintamu,
dengan kekuatan cinta,
dengan sabar yg tak berbatas.

Biarkan banyak orang merasakan cinta itu melalui tulisanπŸ₯°πŸ₯°

24. Pepih Nugraha, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Ratnavati boleh jadi nama resmi yang termaktub dalam kartu keluarga dan akta kelahiran, tetapi teman-teman sekampus dulu memanggilnya Holian, bahkan dipendekkan cukup Lian saja. 

Saya ingin memanggilnya "Nguyen", sosok imajinatif perempuan Vietnam dalam sebuah novel yang pernah saya baca, tetapi Holian bukan Vietnam, dia orang Indonesia seperti saya, hanya beda leluhur saya. 

Terlalu memujinya sebagai perempuan tangguh dan sabar, khawatir terjerumus ke dalam kubangan glorifikasi, tetapi saya tidak mampu menemukan kata-kata lain. Ibarat memandang bulan, tentu hanya bisa saya lakukan pada malam hari sekadar mengatakan bahwa bulan itu memang indah. 

Perjalanan hidup memisahkan kami anak-anak Fikom Unpad angkatan 1985. Yang lebih cepat selesai ada yang bahkan diwisuda tahun 1989, saya meninggalkan Sekeloa tahun 1990. Tetapi banyak teman yang mengalami "cuci gudang", menjadi Mapala alias mahasiswa paling lama, yang mengalami ancaman "drop out".

Holian? Saya tidak tahu lagi keberadaaannya sampai kegiatan reunian yang kesekian puluh tahun mempertemukan kami kembali. Tentu dalam wajah dan suasana berbeda.

Kini Holian punya satu tekad mulia, menerbitkan serpihan-serpihan catatan hariannya dalam wujud buku. Sebuah usaha yang sekiranya menerbitkan cemburu bagi rekan-rekan lainnya yang baru bercita-cita, termasuk saya. 

Saya punya berjilid-jilid catatan harian, tapi saya tak sanggup menerbitkannya menjadi sebuah buku. Biarlah anak-anak dan insya Allah cucu-cucu yang membacanya langsung. Mereka akan tahu siapa ayah sekaligus kakek mereka di kala saya mungkin sudah lama tiada. 

Di sini saya kalah melawan Holian, kalah dalam tekad dan cita-cita menjadikan catatan harian sebagai buku. 

"Tulislah minimal satu buku saja sebelum menutup mata selamanya,"  demikian kata orang-orang terdahulu.

Holian telah mewujudkannya tatkala masih ada. 

(Pepih Nugraha).

25. Yenny Hidayat, Fikomer '85, berdomisili di Bandung. 

Saya suka tulisan2mu, suka dgn caramu bercerita pake bahasa ringan, sederhana, mudah dipahami. Serasa saya dibawa masuk ke dalam penggalan2 pengalamanmu. Membacanya seperti ikut mengalir. Mungkin karena kisah2nya relate dengan kehidupan keseharianku.

Membaca satu paragraf tulisanmu terdorong untuk menuntaskannya, karena bertemu penjelasan di paragraf berikutnya.

Terus berkarya, Lian..... ditunggu tulisan keren berikutnya yang pasti seru dan berkesan.

26. Amie Amarie, Fikomer '85, berdomisili di Karanganyar.

Aku punya banyak kenangan bersamamu, Lian. Tapi aku kesulitan menuliskannya...😍
Semua sudah diwakili oleh pendapat teman-teman Fikomer '85 lainnya.

Kita tinggal selama tiga tahun di satu kontrakan ya. Banyak suka duka yang sudah kita lalui bersama.

Inget nggak, waktu kamu ajari aku masak sayur ikan?
Itu pengalaman pertama buatku.
Sampai sekarang, aku masih suka membuatnya...πŸ˜‚

Kamu juga sedulur sepenimbaan air...πŸ˜‚πŸ˜‚

Bersyukur, sampai kita menua begini, tali silahturahim masih baik terjaga. 

Sehat-sehat, bahagia, dan sukses selalu untuk kita, beserta anak cucu ya. Hari tua adem, ayem, tentrem. Tinggal nyiapan sangu untuk pulang ke keabadian nanti.

Seduluran saklawas e... πŸ’ͺ🏼πŸ’ͺ🏼

27. Ulani Yunus, Fikomer '85, berdomisili di Bekasi.

Untuk sahabatku dari gank Fikomers 85, Ho Lian. Genap 41 tahun kita bersaudara—sejak berbagi cerita di bangku kuliah, hingga kini terpisah jarak dan kesibukan. Aku, Prof. Ulani Yunus, bersaksi bahwa kejujuranmu menulis adalah cermin hatimu yang tak pernah berubah. Untuk anak cucumu, saya menyematkan semangat: “Ingatlah bahwa kalian adalah pucuk yang tumbuh dari seorang pemberani nan setia pada kata dan persahabatan”. 

Terima kasih, Ho Lian, sudah memberiku ruang untuk menikmati perjalanan yang terkuak di setiap lembar perjumpaan kita. Pahit - manis; duka- suka; sedih-gembira; kosong-bermakna. Semua yang pernah kita rasa, ujungnya harus bahagia.

28. Januar Budhi, Fikomer '85, berdomisili di Ciwidey. 

Yang dikenal dari seorang Ho Lian adalah orang pertama yang punya nomor 001 di Fikom 85. Karena nomor ini sangat keramat, tentu dia sangat istimewa karena tidak sembarang punya nomor wahid ini. Tentu dia lulus tanpa tes alias secara akademik pastilah pinter. Saya sendiri nomernya 167 atau hampir di belakang yang nyaris tidak tersangkut di fakultas kebanggaan kita ini. 

Sejurus dengan nomornya, orangnya memang cerdas tapi sangat kalem dan tidak menampakkan orang terpilih.
Orangnya tenang dan serius hampir di segala hal, namun sangat bijak mendengar pendapat orang lain.

Saya tidak tahu terlalu banyak tentangnya. Namun pernah bekerja sama-sama dan nyambung dalam banyak hal, bahkan terlalu banyak merendah. 
Sementara kalau saya sendiri cenderung lurus-lurus saja, karena kebetulan asli orang Bandung. Sehingga merasa tak banyak tantangan.

Berbeda dengannya. Katanya, dia harus banyak menyesuaikan diri sebagai orang yang merantau. 

Selalu berbahagialah, ya Cici Lian.

29. Dian Trisnawati, tetangga rasa saudara, berdomisili di Cikampek. 

Pas saya baca tulisan2 ibu, saya merasa terharu.
Apalagi pas di dalam tulisan itu ada nama saya disebut-sebut.

Saat membacanya,  tak terasa sampai meneteskan air mata, saking terharunya.  Sama halnya dengan sekarang, saat menulis kata2 ini, masih tetep terharu dan  meneteskan air mata.

Selamat ya bu untuk perjalanan hidupnya yang sudah hampir "paripurna." 
Sekarang tinggal menikmatinya.  Alhamdulillah anak2 udah pada gede dan mandiri.
Aamiin yarabal alamin
Salam buat keluarga ibu. 
Dan jangan lupain saya klu ibu udah pindah rumah. 

30. Meita Cynthia, teman SMA, berdomisili di Semarang.

Temanku Ho Lian,
Sebelum kami sekelas di SMA S.M Raja - Tjg. Balai,
kami sering berpapasan di jalan saat hendak berangkat sekolah. 
Kami saling bertatapan, tanpa menyapa (belum kenal). 
Dalam hati saya bergumam, " Cewek cakep, rajin amat, membawa termos besar dengan seragam sekolah, jualan apa ?! " 

Kesan pertama yang tidak pernah kulupa; orangnya tinggi, putih, mata bulat, alis tebal dan sedikit kumis halus di atas bibirnya. Ciri khasnya, kunciran ekor kuda dengan untaian anak rambut di keningnya. ... 
Cakep kan πŸ’‹

Ho Lian, menjadi bintang ⭐ di kelas, selalu mengacungkan jari πŸ‘† nya setiap kali guru melakukan sesi tanya jawab. Si paling serius dan tekun mengikuti  pelajaran. 

Dianggap terlalu ambisius dan saingan di kelas, beberapa orang teman sering dengan sengaja mencibir dan mengolok-oloknya. Ada yang dengan terang-terangan merendahkannya karena datang dari kampung. Memanggilnya dengan sebutan: Hei orang kampung. Atau : dasar kampungan, manusia tak berguna, dan masih banyak kata-kata kasar lainnya. Menganggap derajat mereka lebih tinggi... 

Mereka memang sengaja ingin menjatuhkannya.

Tapi dia  tidak tinggal diam. Dia hadapi tekanan dan bullly-an kelompok itu tanpa gentar. Semua dia lawan. 

Dia hampiri satu per satu. Dan dengan tegas berkata:
"Memang aku orang kampung. Kenapa? Apa ada yang salah? Daripada kalian. Ngakunya orang kota, sok hebat. Nyatanya apa ? 
Belagu. Banyak gaya. Bisanya cuma banggain harta orangtua, tapi otaknya kosong." Semua terdiam, tak bisa membalas kata-katanya.

Setamat SMA, Ho Lian lolos PMDK ke Universitas Padjadjaran - Bandung.

Sebelum dia ke Bandung, kami sempat bertemu di rumah pamannya.  Dia sedang terbaring sakit di atas tempat tidur. Dengan sedih dan berlinangan air mata, dia menceritakan kesedihan dan rasa bimbang yang ada di hatinya.

Dia ingin melanjutkan kuliah ke Bandung, tapi ayahnya melarang, tidak memberi izin.
Itu terakhir kalinya kami berjumpa πŸ˜“

Di tanggal 15 Agustus 2026, kami bertemu kembali setelah 41 tahun berpisah.
Kami bernostalgia, mengenang masa-masa di SMA dulu.

Ternyata, banyak pergumulan dan kepahitan yang dialami Ho Lian. Cerita setelah tamat SMA, kuliah, sampai menikah dan punya lima orang anak, banyak  yang tidak saya ketahui. 

Semoga di usia senja kita, selalu diberkahi kesehatan dan kebahagiaan, bersama keluarga dan anak mantu cucu kitaπŸ™

Semarang, 03 September 2026


31. Nuni, Fikomer '85, berdomisili di Solo.

[4/9 09:16] Nuni: Kesan tentang Ho lian :
Cantik, sederhana, punya prinsip, apa adanya.

[4/9 09:17] Nuni: Pesan untuk Ho Lian :
Tetaplah menjadi Ho Lian yg apa adanya. Sederhana, cantik, punya prinsip, taat beribadah.
Mampu menjadi Ibu dari anak-anaknya hingga berhasil. 


32. Agus Supriadi, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

29 Oktober 2020. Pukul 14.43 wib. 
Tujuh pesan plus 1 foto keluarga nyelonong via WhatsApp (WA). 

"Sore Budi...πŸ™ 
Ini Ratnavati (Ho Lian). Apa kabar? Semoga dikau dan seisi keluarga sehat-sehat saja ya. Aku sudah lama cari-cari kontakmu. Aku ingin berterima kasih padamu, karena dulu cukup baik sebagai _leader_ di kelompok mata kuliah Pelaporan Mendalam. Waktu itu ambil topik tentang Laskar Mandiri.
Sudah berapa anakmu? Titip salam untuk isterimu ya. Ayu banget...πŸ‘ 
Dikau juga awet muda. Masih seperti waktu kuliah, tidak banyak berubah. Semalam sama Demi diinvite gabung ke grup angkatan. Awalnya takut banget. Takut dibully seperti zaman kuliah dulu."

Membaca celotehan dan foto keluarga yang dikirimnya waktu itu, mana mungkin saya melupakannya. Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa kuliah dulu. Ho Lian, yang kini juga menyematkan Ratnavati sebagai namanya, tidak jauh berbeda dengan sosok yang saya  kenal 35 tahun lalu, waktu kami kali pertama bertemu awal kuliah di Jurnalistik Fikom Unpad tahun 1985. Ho Lian tetap tampil bersahaja setelah beranak lima. Sebagaimana dahulu kala mengikuti perkuliahan, tanpa riasan muka dan rambut panjangnya berkuncir kuda.

Lucunya, Ho Lian ternyata keliru mengenali orang. Dia _keukeuh_ mengira saya Januar Budhi, teman seangkatan kami di jurusan Jurnalistik asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, yang wara-wiri kuliah menunggangi kuda besi berkelir merah. Sementara saya pun _keukeuh_ dari dulu tidak mengubah nama. Tetap Agus Supriadi dari Kampung Cintaasih di Kota Bandung yang semasa kuliah naik motor bebek warna silver.

Kekeliruan Ho Lian mengenali saya sebagai Januar Budhi berpangkal dari rupa kami, yang menurut pengamatannya nyaris serupa. Bertubuh tinggi. Berambut ikal. Padahal, berkali-kali pula saya menyangkalnya. Saya tidak merasa serupa dengan Budhi. Pun mungkin Budhi demikian adanya. He....he....he......

Ihwal teman-teman kuliah dulu, Ho Lian mempunyai pengamatan cermat. Dia bisa mendeskripsikan teman-teman kami dari berbagai jurusan ketika baku sapa di grup WA Fikom '85. Mulai namanya, sosoknya, sikapnya, pakaiannya, gayanya, sampai kendaraan yang dipakainya semasa kuliah. 

Ingatan kuat. Pengamatan cermat. Inilah salah dua kelebihan Ho Lian yang tergambar dalam sejumlah tulisannya perihal keluarganya, tentang kesehariannya, ihwal perasaannya, mengenai sederet fragmen perjalanan hidupnya. Kendati seperti penampilan penulisnya yang sederhana, polos, bahkan cenderung naif, nyatanya tulisan-tulisan Ho Lian memiliki daya tarik tersendiri. Narasinya mengalir di balik diksi, frasa, dan kalimat yang dipilihnya. Tulisannya tidak bicara gagasan besar yang mengapung di awan, tapi mengungkapkan kejujuran, kebersahajaan, dan kedamaian yang berumah di bumi.

Barangkali dengan itu, Ho Lian menemukan kepercayaan diri. Dia sempat bertahun-tahun mengisolasi diri dari bersosialisasi dengan teman-teman semasa kuliah. Dia merasa _nobody_ sebagai ibu rumah tangga saja. Sementara teman-temannya telah berkembang menjadi _somebody_ dengan kariernya masing-masing. 

Percakapan berkelanjutan Ho Lian dengan saya pasca WA pertama, --juga obrolannya dengan teman-teman yang lain--, menjadi penyemangatnya untuk membuka diri dan mau bergabung di grup WA Fikom '85 maupun Journal '85. 

Terbukti, di dua grup WA itu, Ho Lian tak canggung berinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan teman-teman yang sebelumnya amat dihindari. Bahkan, Ho Lian tak sungkan membagikan beberapa tulisannya di kedua grup WA itu. Ho Lian sekarang menjadi "cerewet" di grup WA kami. _Good Job!_ Langkah sudah berlanjut, pantang untuk kembali surut. Selamat sahabatku, Ho Lian.

*Agus Supriadi*

33. Mahpudi, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

Aku dan Ho Lian

Aku mengenal Ho Lian pertama kali saat melakukan pendaftaran sebagai mahasiswa baru Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung tahun 1985. Banyak rekan lain merasa “terpana” dengan kehadiran Ho Lian. “Terpana” dalam pengertian positif.

Dari penampilan fisiknya, segera kita tahu Ho Lian adalah gadis Tionghoa, apalagi kalau membaca namanya, sudah tak diragukan lagi. Di kemudian hari saya baru tahu, dia bukan dari kota-kota di Jawa, tapi jauh dari Asahan, Sumatera Utara. 

Tapi itu jadi hal biasa buatku. Mengapa? Karena aku berasal dari sebuah kampung kecil di timur kota Cirebon, Losari namanya, di mana banyak juga didiami orang-orang Tionghoa mirip seperti Ho Lian.

Menariknya, mereka hidup membaur bersama keluarga pribumi yang beretnis Sunda maupun Jawa. Tak terkecuali, teman mainku yang  anak-anak Tionghoa. Sebut saja Ook, Giok Lan, Yuyu, dan masih banyak lagi.

Aku juga bersekolah di SD dan SMP yang sama, sebelum kemudian berpisah, karena harus melanjutkan SMA di kota lain.  Belum ada SMA di sini. 
Sssst…aku juga sempat naksir beberapa di antara mereka.

Kembali ke Ho Lian. Kami segera menjadi teman satu angkatan, satu kelas, tapi beda jurusan. Aku mengambil jurusan Public Relations, sedang Ho Lian ambil Jurnalistik. Tapi dalam banyak kesempatan, kami sering berdiskusi. Dari sana saya mengetahui, Ho Lian gadis yang tulus, kalau tidak boleh dikata lugu. Mengingatkan pada sahabat-sahabat masa remajaku. 

Dia cerdas. Diam-diam aku banyak belajar dari dirinya. Maklum, sebagai anak kampung, aku harus banyak belajar hidup dan tumbuh di kota besar seperti Bandung. 

Soal kehidupan pribadinya, aku tidak tahu banyak. Bukan apa-apa. Walau kami sama-sama jadi anak kos, tapi aku kos di tempat yang amat jauh, di belakang terminal Ledeng-Jalan Setiabudhi, yang belasan kilometer jauhnya dari kampus. Sementara Ho Lian di sekitaran Kampus Sekeloa (dulu Fikom dan FKG masih di kampus Sekeloa-Dipati Ukur). 

Meski demikian, kami sering jalan sama-sama. Maksudnya, saat jam kuliah tiba, saya dan Ho Lian, juga mahasiswa lainnya, untuk mencapai kampus, lewat  jalan pintas. Paling cepat untuk mencapainya, yakni: begitu turun dari angkutan umum di depan Kampus Dipati Ukur, kami menyusuri gang sempit yang hanya cukup dilewati satu orang menuju kampus Sekeloa.

Kami menyebutnya Gang Senggol. Karena hampir dipastikan, saat berpapasan, akan bersenggolan. Meski begitu, kami senang melintasinya. Sambil bersenda gurau, atau bercerita tentang hal-hal ringan.

Lama kemudian, waktu memisahkan kami. Aku melakoni jalan hidupku dan Ho Lian tak terdengar kabarnya lagi. 

Surprise, setelah lebih dari seperempat abad tak bertemu, aku jumpa lagi dengan Ho Lian dalam acara reuni kampus. Hampir tak ada perubahan berarti dari penampilannya. Masih seperti zaman mahasiswi dulu. Sikapnya kepadaku juga tak berubah. Hanya aku mulai mengenalinya sebagai wanita yang penuh kata-kata bijak, peduli, dan berusaha hadir seperti adanya. Diam-diam aku iri kepadanya, menjadi dewasa tapi tetap awet muda dan bijaksana. ***

Bandung, 4 September 2026.

34. Helly, Fikomer '85, berdomisili di Bali.

Sebagai teman masa kuliah, satu jurusan, memori saya tentang Lian hanya samar². Yg ga akan lupa, kita sama² dikejar "waktu", sampai akhirnya bisa sama² wisuda.
Justru saat sudah menua,  saat ada grup WA, saya merasa lebih dekat dgn Lian. Kita menjadi sering ngobrol, sering berkabar...

Obrolannya mengalir, ttg kesehariannya, ttg anak², ttg harga sembako...

Menurut saya, Lian orgnya ramah, tegas, detail, ibu yg berhasil mendidik anak²nya dgn baik, dan senang menulis. Kadang yg dia tulis di grup "terlalu terbuka". 
Gapapa...itulah Lian.
Ada kabar, Lian akan membuat buku. Wah, ini bener² anak jurnalistik. Hebat...keren...
Terus lakukan apa yg disukai, happy forever teman...

35. Dada Agus, Pemuda Vihara Vimala Dharma, berdomisili di New Zealand.

Mengenal Ho Lien adalah mengenal kejujuran dan tulisan2nya adalah cermin kesederhanaan.

Perjalanannya tdk selalu berjalan mulus . Namun, refleksi yang tersampaikan kepada kami yg mengenalnya, bukanlah tentang kepahitan.  Ho Lien selalu mengingat kebaikan-kebaikan kecil yang pernah ia terima. Dari sanalah lahir tulisan-tulisan yang tulus, sederhana, dan positif.

Saya selalu kagum dengan gaya bertuturnya yg mengalir, renyah, ringan, dan terasa seperti percakapan dengan seorang sahabat.

Bagi saya, Ho Lien telah berhasil menjadi penulis yang sesungguhnya.

36. Kadar Solihat, Fikomer '85, berdomisili di Bandung.

Ci Ho Lian, menurut pandanganku, orangnya sederhana, lugas dan kalau bicara dalam tulisan, selalu ngemong kepada semua teman-temannya. 

Alhamdulillah, dengan adanya Ci Ho Lian, tali silaturrahmi dari berbagai jurusan Fikom bisa disatukan. Semua itu gambaran kehidupan sehari-hari keluarganya. πŸ™

37. Ratna Indah (Yeyen), Pemuda Vihara Vimala Dharma, berdomisili di Bandung.

Seperti biasa, siang itu aku ada ke vihara. Buatku, vihara  sudah menjadi rumah kedua, tempat kami menunggu jam kuliah n jam ngajar.

Disela2 jam kosong ini biasanya kuisi dengan latihan meditasi atau mengerjakan tugas organisasi.

Siang itu aku diperkenalkan dengan seorang cewek dgn logat bahasa yg kental, seorang gadis cantik berambut panjang, hidung bangir n mata bulat.
Suaranya terdengar ceria menyapa n memperkenalkan diri. Namanya Ho Lien, baru dtg dr Sumatra n kuliah di Unpad bagian Komunikasi.

Sosok Holien memberi kesan tersendiri, karena keramahannya, sapaannya n ketawanya yg rame. Dan satu yg ga aku lupa, jalannya cepatπŸ€­πŸ˜ƒ luar biasa harusnya jd atlit kali ya....πŸ˜‚

Sosok Holien juga membuat mamahku yg sedang sakit bisa mengingatnya. Ketika teman2 vihara pulang, mamah langsung nanya...

"Yg perempuan rambut panjang n matanya gede itu orang mana?
Anaknya baik, ramah n cantik." 
Memang betul. Setiap orang yg kenal dia, rata2 berkomentar seperti itu.

Karena kesibukan, Holien jarang ke Vihara. Tapi aku selalu dapat update-an dari teman2 tentangnya.

Ga berasa kuliahnya sudah selesai, dan yg aku tau dia sudah kerja. Otomatis aku jarang ketemu dia lagi.

Singkat kata, tiba2 aku dapat kabar dia mau married dgn teman viharaku,  Mame Slamet. Aku yg dengar kabar itu jadi bengong n kaget. Kapan pacarannya??
Mungkin aku yg ga tau, karena saat itu aku lebih banyak menghabiskan waktu ngelesin n latihan meditasi , jd jarang main atau ngobrol dgn teman2.

Sejak Holien nikah, kami jarang bertemu.  Yg aku tahu mereka tinggal di Cikampek.
Cerita tentang Holien aku dapat dari guru meditasiku yg sering tugas ke Cikampek, n seorang teman yg suka ke Bandung.

Kehidupan berkeluarga dengan beberapa anak, membuatku berpikir, tentang perjuangannya merawat n membesarkan anak2nya.
Tapi, aku yakin dia pasti bisa, karena sifat dan daya juangnya yg luar biasa. Jujur, aku kagum melihat kegigihannya...

Gak mudah menghadapi lingkungannya, mengingat dia sosok yang suka ngomong apa adanya... Dan, ga semua orang bisa menerima apa adanya bukan?

Singkat cerita zaman covid, aku menerima kabar mengejutkan bahwa suaminya Mame meninggal karena covid.

Saat itu yg aku pikirkan adalah, waduh gimana dia??
Ga kerja, suami guru n meninggal serta anak2 yg masih butuh biaya yg ga sedikit.

Saat itu aku telpon n tanya, apa yg bisa aku bantu?
Kebetulan aku cukup dekat dgn beberapa teman yg tergabung di KMB Unpad.
Lalu KMB UNPAD dgn kompak mengadakan kebaktian untuk Mame n di zoom itu. Sesudah puluhan tahun aku lihat sosok Holien, membuat air mataku keluar. Holien yg aku lihat saat itu berubah jauh.
Ringkih, duka terlihat dimatanya, tapi luar biasanya dia tegar sekali.

Ketika sempat menerima telponku dan bicara, suaranya tetap kencang.  Mengucapkan terima kasih n masih belum bisa membayangkan sosok Yeyen.

Selesai upacara kremasi, Holien n anak2nya karantina. Aku bertanya tentang kondisinya, dan jawabannya, dia akan bertahan meneruskan n mengurus anak2nya, ada tabungan n anaknya yg besar sudah kerja.

Ini membuatku lebih tenang. Sejak itu Holien ada disetiap cerita tentangnya, keluarga n anak2nya. Keceriaannya kembali lewat celoteh, cerita n artikel2nya di wag vihara.

Dia sudah menjadi Holien yg dulu, dengan ceplas ceplosnya, dgn pikiran kritis n daya juangnya.

Setiap ceritanya merupakan kenangan perjuangannya untuk anak2 dan dirinya.
Bersyukurlah sosok anak2 yg mempunyai seorang ibu dengan cinta kasih yg luar biasa tanpa pamrih dan selalu ada untuk anak2nya.

Dear Holien,
Berjuanglah untuk tetap meraih mimpi2mu di masa muda.
Berbahagialah menikmati masa tuamu.
Berlatih n praktekkan sila, kebajikan n meditasi untuk menjadi bekal bajik yg kamu bawa, ketika cerita kehidupan saat ini berakhir. Sehingga di kehidupanmu yg baru kelak, kamu sudah punya bekal yg lebih baik dari kehidupan saat ini.

Salam metta,
Ratna Indah (Yeyen).

38. Ita Yunita Siregar, Fikomer '85, berdomisili di Balige.

Pada satu hari yang baik pada Mei 2025, kami berhasil berjumpa di Jakarta, setelah beberapa kali mengatur perjumpaan batal. Waktu itu terasa pas karena bertepatan dia sedang menjenguk anaknya. Kami berjumpa di Stasiun Cikini, Ho muncul dengan Ehi, putrinya, lalu kami berjalan lima menit menuju Metropol Cikini.

Kami duduk di Roemah Kuliner, kedai makan yang tidak riuh, yang berada di lantai dua salah satu bangunan tua di sana. Bangunan itu seolah merepresentasikan perjumpaan dua sahabat di masa juang kuliah. Kami memesan makanan berat karena waktu itu jam makan siang.

Sambil menikmati makanan, kami berbincang. Tentang hari ini, tentang masa lalu, cerita-cerita lama yang selalu ingin kami kisahkan ulang. Dan tiap kali, cerita ulangan itu, terasa baru seperti baru kali itu dipercakapkan.

Tak banyak yang berubah dari diri Ho, kecuali dia sekarang seorang orangtua tunggal yang tiap hari memikirkan lima orang anaknya. 

Dulu Ho mencemaskan masa depan yang belum tiba. Sekarang dia menghitung, apa sekiranya yang akan dilalui anaknya di depan nanti. Uniknya, Ho mengkhawatirkan sekaligus menyerahkan masalah apa saja kepada Yang Maha Kuasa. Itu yang terbaik. 

Menjadi ibu telah membuatnya lebih dalam dan bijak dalam memaknai warna-warni kehidupan. Itu sikap sederhana dari orang yang telah berdamai dengan dirinya. 
Hal-hal kecil yang ia syukuri setiap hari menunjukkan kebesaran hati dalam merangkul segala peristiwa hidup. 

Tiap kali ingatan tentang  Ho melintas di kepala, selalu ada rasa, bahwa dia akan baik-baik saja, pun ketika suasana di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja. Senang sekali mempunyai perasaan itu untuk seorang Ho Lian.

39. Sri Adillah Parikasih, Fikomer '85, berdomisili di Bandung. 

*Kesan dan Pesan*

Ho Lian. Aku tak pernah memanggilnya dengan nama "Indonesia" - nya. Mengapa ? Karena aku masih menganggapnya sebagai Ho Lian dengan segala kesederhanaan serta sikapnya yang lugu, tapi juga lugas. Tegas, lebih tepat. Tapi dunia memang terus berputar. Lian semakin dewasa, matang, dan mempesona. Suuuweeer 😍 Dan itu membuat tulisannya pun merangkum semua sifat serta sikapnya dulu hingga sekarang. Gak ada kalimat lain buat cintaku : "Proud of you, Lian sayang." Terus lah menulis walau hanya dalam sebuah buku bernama diary. Sebab kita semua rasanya mengawali tulisan dari sana setelah berpuluh atau mungkin hanya berbelas buku kita baca. Kesadaran untuk menyalurkan rasa ( apa pun macam ragamnya ) dalam sebuah tulisan, yakini, itu adalah anugerah Sang Pencipta. Dan tentu, kita berharap sebuah tulisan singkat saja bisa mengubah seseorang menjadi manusia baru yang lebih baik. Namun, hidayah milikNya. Kita boleh berharap, Sang Maha segala penentu hasil akhirnya. 

Terima kasih, Lian, untuk semua kenangan yang pernah sama kita lalui. Still love you, like always πŸ€—πŸ’•

40. Catharina WD, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Kelugasan menuangkan kisah kehidupan nyata, tentang perjuangan, kesabaran, kesederhanaan, saling mengasihi  dan yang terutama : selalu ada alasan untuk bersyukur, sangat   menginspirasi dan menjadi penyemangat.

41. Erika Paula, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Diantara 286 (tolong dikoreksi kalau salah) lulusan SLTA tahun 1985 se-Indonesia yang diterima di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pajajaran ada satu nama yang sempat jadi pembicaraan angkatan kami -  dan menarik perhatian saya, karena diterima secara PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) atau jalur seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes tertulis yang menggunakan nilai rapor dan prestasi siswa SMA. Namanya Ho Lian.

Ini prestasi luar biasa, menurut saya, yang harus selalu bekerja keras dari SD sampai SMA untuk mendapatkan ranking 1 di kelas. Dan itupun up and down. Masuk Fikom Unpad pun dengan no urutan hampir buncit lewat Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru). 

Dan tada..... ketika bertatap muka, hal lain yang menarik perhatian saya adalah penampilannya yang kontras dengan mahasiswi lain. Menurut saya termasuk bersahaja dan membawa angin segar. 

Kulitnya sangat putih, bahkan pipinya bersemu merah alami bukan polesan blush-on.  Rambutnya hitam panjang tebal yang kerap dikuncir satu. Sering memakai gaun, kontras dengan seliweran mahasiswi modis dengan dandan lipstik merah menyala. 

Lian yang saya kenal jarang absen dari ruang kuliah, saya menangkap tekad kuatnya untuk merampungkan kuliah sesegera mungkin. 

Hebatnya, jauh dari orang tua, selama kuliah Lian didukung oleh tunangannya yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, saya dengar sang suami sudah pergi mendahului Lian yang harus membesarkan anak-anaknya sendirian. Anak-anaknya nan cantik dan ganteng kini sudah pada bekerja. You are so strong and lucky, Lian.

42. Romo Setiawan Pryana, Pandita, berdomisili di Bandung.

Tulisan Ho Lien selalu menarik untuk dibaca.
Semua tulisan Ho Lien di group WA VVD tidak akan saya lewatkan dan pasti baca sampai habis.

Pengalaman hidup yang ditulis oleh Ho Lien pasti dapat menginspirasi para pembacanya dalam mengatasi masalah keluarga terutama dalam mendidik dan mendorong anak-anaknya menjadi anak yang berbakti dan berhasil dalam hidupnya masing-masing. 

Membaca tulisan Ho Lien, saya bagaikan bisa ikut merasakan hidup di kebun di kota Cikampek nun jauh disana.
Terima kasih atas tulisan2 yang selalu menarik, jangan pernah berhenti menulis, ditunggu terus tulisan yang lainnya.

43. Suherman Emje, Fikomer '85, berdomisili di Subang.

πŸ™Duh maaf, Ci. Aku terlambat merespon permintaanmu.
Mudah-mudahan belum naik cetak.

*Membaca Ho Lian.*

Membacamu, Ci, seperti menikmati indahnya telaga yang airnya jernih dan bening. Bukan saja aku bisa memandang permukaan airnya yang tenang, tapi aku juga mampu melihat kehidupan ikan warna-warni di dalamnya. Bahkan bukan itu saja, aku pun bisa melihat dengan jelas dasar telaga dengan teksturnya yang bervariasi sampai ke detil-detilnya.
_Sahabatku Ho Lian seperti "buku yang terbuka"._ Memudahkanku membacamu tanpa penafsiran yang ruwet dan _njelimet._ Simpel, transparan dan menyegarkan seperti air telaga bening di tengah rimba belantara 
Ci, kesederhanaanmu, sikap kepedulianmu, kekuatan daya ingatmu (bahkan sampai ke hal yang paling detil sekalipun), kerendah hatianmu, kepolosanmu, kelembutanmu, dan yang sejenisnya... Semua itu tercermin dalam tebaran tulisan-tulisamu.
Terakhir, aku bangga dan bahagia menjadi salah seorang yang ditakdirkan menjadi sahabatmu, Ci.

_(Emje, sahabatmu dari Lembur Pabuaran-Subang)_

44. Ummu Khanza Shabiya, tetangga rasa ponakan, berdomisili di Cikampek. 

"Mama Abi", itu panggilanku untuknya.
Mengikuti alm.mamaku membahasakan ibu dari temannya adikku.
Yup,mama bertemu mama abi karena mereka sesama wali murid disekolah TK.
Anaknya Abi dan adikku Tio, teman sekelas.

Rumah kami tidak dekat,tapi juga tidak jauh. Mama dan mama abi juga tidak intens bertemu karena mereka punya kesibukan yang sama hebatnya, tapi entah bagaimana pertemanan itu tetap terjaga,setidaknya itu yang aku tau sampai hari ini.
Aku rasa ada beberapa kesamaan yang mama dan mama abi lewati,sehingga mungkin itu yang bisa membuat mereka cocok.

Buat aku sendiri,mama abi adalah sosok yang cantik,pintar,humble, lembut sekaligus kuat jadi satu.
Perawakannya semampai, rambutnya selalu terpotong pendek ala Demi moore, senyumnya manis dan tatapannya teduh tapi terlihat cekatan.
Mama abi juga ibu yang berpendidikan, karenanya gak heran, beliau sangat hebat dalam mendampingi anak-anaknya.
Mama abi tidak kehilangan sentuhan pendidikannya,walau tinggal menyendiri di daerah seperti cikampek.

Ada hal semasa kecil,kala mama dan papa abi malam-malam mampir kerumah dan mengajak aku juga Tio untuk ikut pergi ke plaza Purwakarta naik mobil,jadi teman ramenya Abi dan Prasna (seingatku prasna masih balita) di jalan.
Hal itu sangat menyenangkan,sehingga membekas diingatanku sampai hari ini.
Selain itu hal unik lainnya yang aku ingat adalah urutan nama anaknya yang alfabetis.
Abi,Prajna,Cagha,Dhama,dan Ehi.

Mama dan papa abi adalah sosok keluarga yang sederhana, previlage yang mereka miliki justru membuat mereka makin down to earth banget (ini contoh sekaligus PR baik untuk aku lhooo).

Mama abi juga sangat senang berbagi, alih-alih menjual, dirumahnya yang halamannya luas banget,banyaaaak banget pohon buahnya, mama abi memilih untuk memberi dan membagikan hasil alamnya.
Bukan cuma aku yang kebagian, bahkan satu gang rumahku pun ikut menikmatinya.
Tukang becak,sekuriti,dan teman-temannya semua kebagian.

Seperjalanan usiaku,selipan cerita tentang sosok mama abi, membantuku perlahan memahami juga perjalanan hidup mamaku,dan jadi rangkaian gambaran yang membuatku bisa menentukan keinginanku di masa depan.

Dari mama abi aku belajar,pendidikan untuk perempuan itu adalah kebutuhan penting.
Dengan pendidikan,sekalipun terhempas ke tempat asing ,maka akan bisa menyikapi dengan cara yang wise.
Itu juga hal yang diamini mamaku.

Mama abi yang teman mamaku,tapi beliau juga dengan tangan terbukanya menerimaku untuk juga dekat dengannya seperti halnya teman, setelah aku beranjak dewasa dan berkeluarga.
Dan aku sangat berterima kasih untuk itu,apalagi setelah mama berpulang.

Terima kasih mama abi,untuk setiap perhatiannya untuk nuning dan juga anak-anak.
Terima kasih sudah jadi teman yang menggembirakan untuk mama.
Semoga setiap kebaikan, akan kembali bersama teman-temannya untuk mama abi juga keluarga.

Nuning harap mama abi gak pernah bosen memberikan masukan,nasehat buat nuning.
🫢🏽

45. Lim Hok Kiat, adik kandung, berdomisili di Surabaya.

Perkenalkan, saya Lim Hok Kiat biasa dipanggil Akiat. Saya adik kandung nomor 4. Sebagai adik kandung, apa yang paling jelas terekam dalam ingatan saya adalah "kecerewetan" seorang Kakak kepada adiknya, tak perduli seberapa nakal kami adik-adiknya, Kakakku akan terus menasehati (waktu itu saya menganggapnya sebagai "tukang ngomel") kami tanpa mengenal lelah walaupun hidup kami terpisah ribuan Kilometer jauhnya. 

Hal lainnya adalah dia memperjuangkan kami semua adik-adiknya untuk datang ke Pulau Jawa hingga kami bisa melanjutkan Studi dan bekerja disini agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, salah satunya saya yang saat ini sudah menetap di Surabaya - Jawa Timur. 

Kami orang kampung, tinggal di sebuah dusun yang jauh dari keramaian Kota, untuk melepas belenggu kebodohan kami, tidaklah mudah. Keberanian Kakakku inilah yang menjadi pilar utama (pemicu) keberanian kami adik-adiknya untuk juga berani melangkah sehingga ada kehidupan yang kami miliki saat ini. 

Tapi diantara itu semua, yang paling kukagumi adalah keteguhan pada prinsip hidupnya. Tidak perduli seberapa miskin dan susah hidupnya, Kakakku tidak akan pernah mau menggadaikan prinsip yang diyakininya demi sesuatu yang melanggar hati nuraninya walaupun itu menguntungkan untuk dirinya. 


Catatan:
Bayangkan, tahun 1985, seorang wanita dari Dusun, berbekal uang seadanya dan selembar surat Pengantar (dari Bu Intan Guru Agama Buddha kami), berangkat ketempat yang dia tidak pernah ketahui sebelumnya, namun bisa bertahan melewati badai yang datang menghadang, ini sungguh luar biasa!! Sehat dan Bahagia selalu Cici, Terima kasih!!

46. Nuning, Fikomer '85, berdomisili di Bogor.

Mengingat ho lian , mengingat sosok tegas sekaligus lembut. Jujur apa adamya . Sedikit bicara tapi punya senyum teramat ramah. Dari tahun 85 aku sudah mengenalnya , meski tidak akrab tapi kesehariannya membuat sosoknya mudah dikenali . Dahulu ketegasannya sering kali membuat ku sedikit segan untuk bicara . Namun seiring waktu usia senja justru membuat kelembutan hatinya semakin memancar. Dari setiap catatan yg ditulisnya tersirat betapa kelembutan hati nya muncul hampir di setiap kata-kata indah yg ia torehkan. Buku ini bukan hanya sekedar tulisan . Melainkan kumpulan dari banyak kenangan yg datang dan pergi . Ada cerita mengharukan pasti, ada cerita keteguhan hati . Cinta dan perjuangan dan ho lian memang seorang perempuan .. teguh , keras hati , jujur juga lembut.

47. Yudi Latif, Fikomer '85, berdomisili di Jakarta.

Testimoni (Endorsement) 

"Catatan Ho Lian bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan jejak perjalanan batin seorang perempuan yang memilih untuk kembali menengok, merawat, dan mengabadikan serpihan-serpihan hidupnya.

Saya mengenal Ho Lian sebagai teman di kampus, dan dalam perjalanan waktu, sebagai sesama manusia yang memiliki kepedulian dan kecintaan pada kemanusiaan, solidaritas, serta kehidupan kebangsaan di tengah masyarakat kita yang majemuk. Kedekatan itu membuat saya menemukan sesuatu yang lebih dalam ketika membaca tulisan-tulisannya: ada kejujuran, kehangatan, dan penghargaan terhadap manusia yang terasa begitu nyata.

Dari kenangan, kehilangan, keluarga, persahabatan, cinta, doa, hingga hal-hal sederhana yang kerap luput kita syukuri, Ho Lian menuliskannya dengan ketulusan yang membuat kisah-kisah personal ini terasa begitu dekat dan manusiawi.

Buku ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu perlu diceritakan dengan kata-kata yang besar; terkadang, justru dalam cerita-cerita sederhana itulah makna kehidupan menemukan tempatnya.

Yang membuat buku ini istimewa adalah keberanian untuk memulai kembali. Setelah hampir tiga puluh tahun tidak menulis, Ho Lian mengalahkan keraguan dan ketakutannya, lalu menyusun kembali potongan-potongan perjalanan hidup menjadi sebuah legacy untuk anak-anak dan generasi sesudahnya.

Pada akhirnya, legacy bukan tentang kesempurnaan sebuah karya, melainkan tentang cinta, nilai, pengalaman, dan ketulusan yang kita tinggalkan. Catatan Ho Lian adalah bukti bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk menulis, mengenang, bersyukur, dan mewariskan cerita. Sebuah buku yang layak dibaca perlahan—bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati.
(Yudi Latif)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisahku (part 1)

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

memasuki usia 60 tahun