open komisi

Open Komisi Gambar 

Situasi perekonomian akhir-akhir ini tidak begitu baik. Harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. 
Sampai pusing mengatur uang belanja bulanan. Jangan kan berpikir untuk menabung, tidak defisit saja rasanya sudah bersyukur banget. 

Anakku juga mengeluh, dagangan akhir-akhir ini jadi agak sepi. 
Karena itu, dia terpaksa melakukan pemotongan uang bulanan untuk adiknya. Yang biasa membantunya bikin list dan desain dari orderan yang masuk di olshopnya..

"Aku sedang berusaha menaikkan penjualan lagi. Untuk efisiensi, pekerjaan yang bersifat repetitif, aku alihkan ke AI. Dhamma otomatis terkena imbasnya. Aku nggak bisa bantu penuh seperti bulan-bulan sebelumnya." Dia berusaha menjelaskan situasinya. 

Aku tercenung mendengarnya. Kaget, tapi berusaha tetap tenang. Aku coba memahami kesulitan yang sedang dihadapinya. Di sisi lain, aku juga khawatir pada anak keempatku. Saat ini dia sedang skripsi. Bagaimana dia melewati hari esok? Selama ini dia sangat bergantung dari gajinya itu untuk menyokong kebutuhan hidupnya sehari-hari. 

Sejak kuliah smester satu, dia sudah bantu kakak keduanya. Kakak keduanya juga yang bayar uang semesterannya. Juga membayar uang sekolah si bungsu selama duduk di bangku SMA. Tempat tinggal, menjadi tanggung jawab kakak pertama. Kakak ketiga, bantu kasih ongkos dan bayar wi fi. Kami gotong royong supaya roda kehidupan dapat terus berjalan sebagaimana mestinya.

Aku bersyukur untuk itu semua.
Mereka bisa mengatur sendiri sesuai dengan porsinya. Saling melengkapi.

"Kamu coba open komisi untuk gambar kamu. Boleh-boleh saja kita mempertahankan idealisme. Tapi kita juga harus realistis. Hidup terus berjalan. Kita mau minta tolong sama siapa, kalau tidak berusaha menolong diri sendiri? Gunakan skill gambar kamu untuk menyokong kehidupanmu. Sekarang kamu sudah 22 tahun. Pada akhirnya, lambat atau cepat, kamu memang harus bisa mandiri." Kakaknya mencoba memberi pandangan padanya. 

"Mungkin kata-kata koko terdengar keras. Koko melakukan semua ini supaya kamu mulai berpikir, dan keluar dari zona nyaman. Koko mau, kamu mencoba kesempatan lain dengan menggunakan skill kamu sendiri. Itu akan lebih membanggakan. Kalau ngikut koko terus, bakat kamu tidak akan berkembang. Kamu nggak akan maju-maju. 
Pekerjaan kamu bersifat repetitif. Dan, itu bisa bisa dengan mudah diambil alih oleh AI."

"Kamu harus mulai merintis dari sekarang. Buka penawaran. Lebih cepat, lebih baik. Kalau ditunda-tunda terus, tunggu lulus dulu, kamu malah akan kehilangan momentum. Banyak pesaing. Kamu harus bisa lihat peluang dan memulai sesuatu yang baru, unik dan tidak bisa ditiru AI. Toh kamu sudah mulai membangun akun kamu itu sejak dari SMA. Koko pikir, sekarang sudah saatnya untuk menguji kemampuanmu."

"Kalau tidak dimulai dari sekarang, kamu akan kehilangan momentum. Coba aja dulu. Sambil skripsi,  terus asah skill kamu." Ujar kakak keduanya panjang lebar.

Aku mendengar dia  memberi penekanan dua kali tentang kata "momentum."  Kakaknya coba meyakinkan dengan memberi masukan dari sudut pandang yang berbeda. Mendorong adiknya untuk berani mencoba. 

Dhamma mengangguk-angguk. Tampak pasrah. 

Aku tau, jauh di lubuk hatinya, dia pun punya kekhawatiran tentang masa depannya sendiri yang serba tak pasti.

"Iya. Kita nggak pernah tau ke depannya akan jadi seperti apa. Mama rasa, apa salahnya dicoba dulu." Aku ikut meyakinkannya.

Selama ini dia merasa tak enak bila hobi gambarnya itu harus dikomersilkan. Katanya, bertentangan dengan hati nurani.

" Coba aja dulu. Umumkan di akun medsosmu. Mama cuma pesan ya, nanti,  jangan mau terima orderan gambar yang berbau porno. Meskipun kamu sedang butuh duit, dan bayarannya menggiurkan. Itu akan menghancurkan reputasimu. Nggak berkah juga." Aku coba menasehati, agar dirinya dari awal sudah bisa menetapkan batasan yang jelas.

"Iya, Ma. Aku tau." Aku lega mendengar jawabannya. 

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, pada tanggal 4 Juli 2026 dia mulai mengumumkan open komisi gambar.

Selain itu, dia pun dapat tawaran mengajar gambar untuk umum secara on line. Bekerja sama dengan kelompok anak-anak muda lain yang punya passion sama. 

Sambil menunggu pesanan gambar masuk, dia sibuk menyiapkan materi. Membuat video-video. Kelas on line-nya dimulai pada tanggal 16 Agustus 2026. Dan berakhir pada 29 Agustus 2026. Per orang dipungut bayaran Rp 85.000.
Ada 44 orang peserta yang mendaftar.

Kemarin kelas sudah berakhir.
Peserta memberikan pesan dan kesan yang positif
"Aku senang banget, Ma. Ternyata, seperti ini rasanya saat kerja keras kita diapreasiasi," ujarnya semalam, saat duduk di sampingku, menemani aku menyiapkan makan malam.

"Syukurlah. Jangan cepat berpuas diri ya. Selalu bersyukur dan rendah hati." Di setiap ada kesempatan, aku selalu mengingatkan dan mengulang-ulang kata-kata yang sama pada semua anakku. Dia mengiyakan.

Di sisi lain, orderan gambar mulai masuk.
Awal-awal, dari pengikut setia akunnya. Ada dua orang dari Indonesia.

Orderan ketiga, datang dari Amerika. Seorang tentara.
Nilainya 100 dolar, untuk tiga panel gambar.

"Ma, aku dapat orderan dari luar," ujarnya berseri-seri.

"Kamu yakin? Jangan-jangan penipuan. Orderan fiktif. Hati-hati ya. Cek yang bener. Sekarang banyak modus kejahatan. Jangan sembarangan kasih nomor rekening." Aku tak bisa menutupi rasa khawatirku.

"Nggaklah. Aku juga sudah tanya teman-teman lain yang open komisi juga dan dapat customer dari luar. Aman, Ma. Ada chatnya juga. Dia sudah bayar uang muka. Sebagian lagi saat gambar selesai."

"Dia transfer pakai apa?" Otakku masih dipenuhi oleh berita-berita tentang money laundry. Kita orang biasa. Takut banget kalau sampai kenapa-kenapa.

"Pay Pal. 
Besok aku mau ke bank, untuk upgrade ATM aku. Biar dari Pay Pal, aku bisa transfer ke norek aku dalam bentuk rupiah. Sewaktu-waktu aku butuh, aku bisa tarik."
 
"Ya, semoga semua aman dan baik-baik saja." Dalam hati, aku tak henti-hentinya berdoa. Semoga anak ini diberkahi, jalannya dimudahkan.

Orderan gambar mengalir terus. Semua dari luar. Bahkan ada yang pesan tiga batch gambar sekaligus.
Semesta menjaga kami dengan cara tak terduga.

Aku coba membantunya dengan mengurus makannya.
Berusaha menjaga asupan gizinya. Jangan sampai dia jatuh sakit. Karena sering begadang dikejar-kejar deadline. Mengecek jam tidurnya. Mengingatkan jadwal bimbingan, sekalian mengecek progresnya. Dan tentu saja, selalu berdoa untuknya. Semoga dia bisa melewati masa-masa sulit ini dengan baik.
Hanya itu yang bisa kulakukan.

Hampir dua bulan berlalu.
Kami semua sibuk.
Si bungsu juga jadwalnya penuh dengan kuliah, sambil kasih les basic Mandarin, baik secara on line mau pun on site. Murid-muridnya mulai dari anak-anak TK sampai kelas tiga SD.
Kami semua kerja keras. Kami semua berjuang.

Suatu siang, anak ketigaku, sekaligus yang mengatur keuanganku,  mengatakan, bahwa anak keempatku mentransfer sejumlah uang ke norekku.

"Dia nggak ada bilang apa-apa tuh ke Mama." Aku setengah tak percaya. Rasanya terharu. Dia lagi di Jakarta, bimbingan.
Padahal selama ini dia juga suka bantu beli beras dan telur setiap habis gajian dari kakaknya.

"Kamu kok transfer segala ke Mama? Apa untuk kamu sendiri cukup?" Tanyaku dengan nada khawatir. Ada perasaan nggak tega juga.

"Aman, Ma. Tenang aja. Yang penting, Mama doain aku terus. Biar orderan gambar aku masuk terus. Tak putus." Mendengar suaranya di seberang sana, air mataku jatuh begitu saja. Dia makin dewasa dan matang pemikirannya...
Terimakasih Semesta...

Saat aku sedang mengecek pesan-pesan masuk, anak keempatku menghampiri. Berlutut di lantai.
Kemudian dia bernamaskara. Dengan sikap bersoja, dia berkata...
"Mama, terimakasih untuk dukungan dan doa Mama selama ini.
Aku bisa sampai di titik ini, semua berkat doa Mama..." 

Kuusap kepalanya beberapa saat. Kemudian menyuruhnya berdiri.
Aku tak mampu berkata-kata...

Terimakasih Semesta untuk semua berkahmu.
Kami bisa bertahan sampai hari ini.
Kami selalu dicukupkan dan dijaga lewat jalan yang tak terduga, bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya...
Rezeki itu dititipkan lewat tangan-tangan anakku...

Kota Baru, Senin, 31 Agustus 2026, pukul 13:18.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengukuhan Ulan sebagai guru besar

Bunga Teratai

ibu intan