digigit tawon.

Digigit Tawon

Hari ini aku cepat berangkat tidur. 
Pukul 19 sudah mengantuk. Tengah malam aku terbangun. Tubuh terasa segar kembali. Kantukku hilang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu.

Setelah menyiapkan sarapan tadi pagi, aku ke depan untuk sapu-sapu. Pukul 06.30. 

Daun mahoni mulai berguguran. Selain membawa sapu lidi dan pengki, aku juga membawa arit untuk nyicil nebas alang-alang dan tanaman rambat yang tumbuh liar. Meski tidak tau kapan baru akan selesai dan bersih semua, aku tak ingin memikirkannya. Cukup lakukan apa yang aku bisa. Andai cuma bisa menebang dua pohon pete cina pun, tidak apa-apa. Yang penting, aku sudah berusaha. Terus bergerak.

Tanggal 24 Juli 2026, anak-anak pindah dari kontrakan. Sewa apartemen tidak diperpanjang lagi.
Anak sulungku menempati rumah yang dia ambil secara mencicil. Beberapa bulan lalu sudah serah terima kunci.
Semoga jadi awal yang baik untuk semuanya.
Semesta memberkahi.

Anak ketigaku di rumah menemani. Dia juga baru balik dari Jakarta, tanggal 22 Juli. Setelah momen piala dunia berakhir dan anak-anak sekolah sudah belajar normal. Pesanan kembali stabil... Bisa ditinggal pulang, kakaknya yang no 2 bisa tangani sendiri. Dia bisa kirim list dan desain dari Cikampek.

Anak keempat berangkat ke Jakarta tanggal 23 Juli.
Untuk bantu angkut-angkut barang.

Mereka atur sendiri, secara bergantian untuk menemaniku. Anak-anak tidak membiarkan aku sendirian di rumah.

Beberapa bulan lalu, saat orderan masih diproses di Cikampek, anakku mendadak diminta kakak tertuanya ke Jakarta, ada yang urgent. Dia harus berangkat, menandatangani dokumen. 

Dia berangkat pukul 14. Dan berjanji, setelah urusan beres, akan langsung balik ke Cikampek lagi.

Sebelum berangkat, dia wanti-wanti padaku.
"Mama jangan ke mana-mana.
Kalau mau belanja atau ke rumah teman, besok aja. Aku antar. Mama di rumah sekarang istirahat sambil nonton YouTube aja ya." Begitu pesannya.

"Iya. Nggak ada rencana ke mana-mana kok. Mama juga lagi males keluar." Ujarku meyakinkan.

Aku nonton film pendek yang lucu-lucu. Setelah bosan, dengerin lagu.Hari itu tidak ada cutting dan packing. 

Tiba-tiba aku dapat telepon dari kurir.
Ada paket. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.30.

Aku keluar ambil paket , sambil lihat kiri kanan jalan.
Aku merasa ranting pohon alpukat itu mengganggu dan harus segera ditebang, karena menghalangi pandangan.

Setelah mengambil paket, terbetik begitu saja di benakku untuk memotong dahan itu. Bosan juga nonton YouTube terus. Biasanya jam segini aku lagi sibuk-sibuknya memilah resi. Aku pun mengambil golok dan siap-siap menebang-nebang. Aku pikir, tidak akan makan waktu lama. Paling setengah jam juga sudah beres.

Tapi di luar dugaan. Baru dua ranting kecil yang kutebang, beberapa ekor tawon keluar dari rimbunnya daun alpukat itu... 
Mengejarku.
Aku berusaha lari sambil mengibas-ngibaskan tangan. 

Ada yang jatuh ke tanah, dan langsung kuinjak mati.
Beberapa terus mengejar dan menggigit di bagian kepala, dahi, mata, pundakku. Aku benar-benar panik.

Dalam kepanikan itu, aku cepat-cepat oleskan kayu putih, melumatkan bawang merah dan bawang putih, lalu menggosok-gosokkannya ke bagian bekas gigitan. Sakitnya jangan ditanya. Berdenyut-denyut. Air mataku keluar sendiri tanpa bisa kutahan. Saking sakitnya...

Aku cepat-cepat tanya gugel. Yang terlintas saat itu, bagaimana kalau tawon itu beracun sehingga bisa menyebabkan kematian. Aduh, kan konyol sekali kalau aku meninggal dengan cara seperti ini...gara-gara disengat tawon !

Setelah itu, aku rebus air, untuk mandi.
Berharap, sakitnya bisa berkurang.
Aku terus berdoa dalam hati. Semoga aku mampu menanggung semua rasa sakit ini. Semoga penderitaan ini segera berlalu.

Malamnya, anakku menelepon.
"Mama gimana di rumah, aman-aman aja kan? Sudah makan belum? Urusan aku sudah beres. Nanti pulang diantar kakak no 2. Ini sama kakak pertama menuju kontrakan, untuk menemui adik keempat dan kelima." 

"Ya. Syukurlah.
Aman kok. Belum makan," jawabku singkat.

"Lho, suara Mama kok beda. Coba buka kameranya..." Dia terus memaksa.
Aku tak bisa menolak. Mau tak mau harus menuruti.

"Mama kenapa itu?
Mama lagi nangis?" 

"Nggak. Nggak nangis. Ini lagi nahan sakit. Tadi digigit tawon..." 

"Kok bisa?
Ya udah, ini langsung ke apotik beli obat, dan pulang ke Cikampek. Mama tahan dulu ya..." 

Tepat pukul 00.00 anakku sampai. Bertiga. Si bungsu juga ikut.
Begitu pintu dibuka, anak keduaku tak bisa menahan tawanya.
" Aduh, Mama, Mama...
Tau nggak, Mama kayak baru habis bertinju. Pada bengkak-bengkak begitu..."

Si bungsu mengolesi salep ke bekas sengatan. Lalu aku disuruh minum obat pereda nyeri, demam, dan antibiotik.

"Lain kali, Mama nggak usah ngide yang aneh-aneh." Ujar anak ketigaku. Dia menarik nafas dalam-dalam.

" Mama tuh dah tua. Nggak usah terlalu maksain diri. Apa-apa maunya dikerjain sendiri. Kenapa nggak bisa sedikit bersabar sih? Besok kan bisa. Ranting itu kan nggak ganggu-ganggu banget. Kenapa maksa harus dikerjain sekarang, padahal tau hari sudah mulai gelap? Gitu suruh anaknya sabar. Tapi Mamanya sendiri nggak bisa sabar." Omel si bungsu sembari menyodorkan segelas air putih, kemudian memakaikan kaos kaki dan menyelimutiku.

"Mama nggak tau kalau di situ ada sarang tawonnya. Nggak kelihatan. Mama juga nggak nyangka.
Padahal, niat Mama baik. Kita kan nggak pasang alat penangkal petir.
Sekarang musim hujan. Sementara pohon alpukat itu sudah tinggi sekali. Daunnya rimbun. Khawatir rumah kena petir dan merusak akat-alat elektronik. Kan dulu sudah pernah. Semua lampu rumah putus. Makanya untuk komputer, Papa pasang stabilizer." Aku coba menjelaskan.

"Iya. Tapi semua hal harus Mama kerjakan sendiri. Sekarang Mama tidur. Besok nggak usah buru-buru bangun. Nggak usah mikirin masak. Yang penting, Mama sembuh dulu." 
Aku tak punya energi untuk membantah lagi.

Besok paginya, saat bangun, kedua mataku nyaris tertutup dan tidak bisa melihat. Masih terasa sakit, mual dan sedikit demam. Meski begitu, aku tetap mengucap syukur.
"Terimakasih Semesta. Aku masih bisa bangun. Aku masih hidup."

Dua hari kemudian, rasa nyeri, mual, dan demamnya berangsur-angsur mereda. Bengkaknya pun mengempes.

Kora Baru, Selasa, 28 Juli 2026, Pukul 04.24.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

ibu intan

Kamis, 3 Juli 2025, pukul 21.23.

Bunga Teratai