lupa

Lupa

Setelah anak-anak tak ada lagi yang bersekolah, aku jarang memperhatikan pergantian hari dan tanggal.
Aku jadi sering lupa hari dan  tanggal sekarang.

Kalau dulu, aku mengingat hari dan jadwal pelajaran anakku dengan baik.

Tidak hanya untuk menyiapkan seragam yang mau dipakai sesuai dengan hari, tapi hapal sama mata pelajaran yang akan diikuti.
Aku khawatir mereka lupa hari pengumpulan tugas atau ulangan harian.

Setiap bangun pagi, hal pertama yang kulakukan adalah mengisi botol minum mereka. 
Lalu, menyiapkan bekal untuk dibawa.

Sekolah mewajibkan anak-anak bawa bekal dari rumah. Tidak boleh jajan. Bupati Purwakarta saat itu, KDM, mengatakan, tidak ada makanan yang lebih baik dibanding makanan yang disiapkan oleh ibu sendiri. Karena dimasak dengan cinta.

Bagus juga sih peraturan seperti itu.
Membangun kedekatan emosi antara orangtua dan anak, kebersamaan dengan teman-teman sekolah, hemat, bersih dan mencegah hal-hal tak diinginkan di kantin sekolah. Seperti : membuka peluang bagi anak-anak remaja yang sedang bertumbuh itu, untuk merokok dan lain-lain. Dan tentu saja, untuk  meminimalisir jurang perbedaan antara siswa yang mampu dan kurang mampu.

Dengan bawa bekal, diharapkan bisa menggerakkan semangat menabung siswa. Untuk membantu persiapan biaya pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Momen makan bersama dengan duduk bersila di selasar, menurutku, merupakan pemandangan yang indah. Begitu bersahaja. Mengalir natural. 

Mereka makan dengan lahap, sambil sesekali diselingi celetukan ringan yang mengundang tawa. Para guru juga berbaur dan duduk di lantai selasar, makan bersama anak-anak. Mungkin, kelak akan jadi kenangan yang indah bagi mereka.

Bekal yang paling disukai sama anak-anakku adalah kentang goreng, dipotong jari-jari. Hanya diberi bumbu garam dan irisan bawang putih.

Aku selalu minta suamiku untuk beli kentang di pasar induk Cikopo. Aku tak bisa naik motor. 

Harga lebih murah, dengan pembelian minimal 10 kg. Saat itu, harga kentang berkisar antara Rp 8.000 - Rp 12.000/kg.
Sekarang, sudah jadi Rp18.000 - Rp22.000/kg.

Setelah anak-anak lulus, dan kuliah di luar kota, aku pun cukup beli 2 kg kentang sebagai stok makanan di rumah.

Dulu, tak jarang anakku minta dibawakan lebih, agar bisa dimakan bareng temannya. Mereka memang suka tukar-tukaran bekal.

Setelah menua, pikiran suka melompat-lompat ke mana saja. 

Kadang, aku teringat pada masa-masa sibuk itu, bangun jam tiga pagi, rebus air, menanak nasi, menyiapkan bekal dan sarapan sebelum mereka berangkat sekolah.

Waktu cepat sekali berlalu...

Kadang melompat lagi, mengenang masa kecilku di kampung, atau teringat saat menimba air dengan kerekan di Sekeloa dulu...

Kenangan itu datang silih berganti. Bagian dari perjalanan hidupku.

Bersyukur, aku masih bisa bertahan sampai hari ini.

Kota Baru, Senin, 13 Juli 2026, Pk 15:53.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

ibu intan

Kamis, 3 Juli 2025, pukul 21.23.

memasuki usia 60 tahun