Terimakasih Orang-orang Baik
Terimakasih Orang-orang Baik
Perkenalanku dengan Mama Tio, diawali saat aku mengantarkan anak pertamaku, Abhi sekolah.
Persahabatan kami tetap berlanjut, meski anak-anak kami sudah tidak bersekolah di sekolah yang sama.
Aku hadir saat anak-anak Mama Tio menikah. Aku mengenal keluarga mereka dengan cukup baik.
Orangnya baik. Lembut. Pinter masak. Berasal dari Banjarmasin.
Beberapa waktu lalu, tepatnya 4 Mei 2026, Mama Tio meninggal, karena menderita penyakit diabet.
Aku datang ke pemakaman dan rumah duka. Di sana, aku bertemu dengan ketiga putra putrinya dan kedua cucu perempuannya yang sudah beranjak remaja. Shabiya dan Khanza.
Nuning, putri tertuanya banyak bercerita dengan mata berkaca-kaca. Aku coba menghiburnya.
Tampaknya, dia yang mewarisi dan akan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan ibunya. Kami tetap kontakan walau lewat WA.
Saat Abhi masuk SD, aku berkenalan dengan Ibu Dian Trisnawati, asal Bandung. Suaminya dari Yogyakarta.
Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mama Fanny.
Cerita berawal saat anakku ketinggalan bis sekolah, sementara dia sudah tak punya uang. Habis buat jajan.
Waktu itu, aku memang tidak kasih uang jajan dalam jumlah besar. Secukupnya saja. Kira-kira pantas dan cukup untuk anak kelas dua SD. Aku ada bawain bekal nasi juga.
Hari itu, seperti biasa, aku menunggu anakku Abhi, di depan pagar.
Semua sudah turun dari bis sekolah. Tapi wajahnya kok tak tampak. Aku jadi panik. Mana sekolahnya jauh. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Dia masih kecil. Rasanya pengen segera menyusul ke sekolah. Membawa serta kedua adiknya.
Aku buru-buru balik dan bersiap untuk berangkat.
Saat sedang membuka pintu pagar, anakku muncul, turun dari ojek. Aku tanya, ongkosnya berapa. Bapak ojek yang mengantar bilang, kalau ongkosnya sudah dibayar sama ibu-ibu yang nungguin anaknya di sekolah tadi.
Melihat anakku pulang dengan selamat, rasanya lega dan bersyukur banget. Aku jadi penasaran. Siapa ibu-ibu yang baik hati itu?
Esok harinya, aku ke sekolah, bertekad ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih pada orang yang sudah menolong anakku.
Saat bertemu, aku punya kesan yang mendalam pada ibu Dian. Berpembawaan tenang. Senyumnya menyejukkan. Ramah. Ciri khas orang Sunda.
Wajahnya mengingatkanku pada Ana Mutia, teman kuliah yang berasal dari Bogor.
Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata ibu Dian tinggal di komplek perumahan sebelah rumahku. Kami jadi sering bertemu. Apalagi anak ketiga dan keempatku seangkatan dengan anak kedua dan ketiganya.
Begitulah...
Pertemanan kami tetap terjalin baik hingga kini.
Kami suka bepergian bareng. Berburu jajanan jadul ke Pasar Sasagaran, perbumbuan, buah, ikan asin, teri, ke pasar induk Cikopo, atau beli sayuran dan kebutuhan lain ke pasar Cikampek. Ibu Dian yang memboncengku.
Dia hapal tempat-tempat tukang jualan yang bagus tapi bisa kasih harga murah.
Ibu Dian juga pandai memasak.
Kami sering papahare dan rujakan di rumahnya.
Dia juga yang pegang arisan selama bertahun-tahun. Kami percaya padanya.
Suaminya bekerja di Kujang. Sedangkan ibu Dian sendiri berjualan seragam sekolah, dan makanan ringan di rumah. Seperti keripik singkong, cheese stick dengan berbagai rasa.
Sekarang ibu Dian tengah menanti kelahiran cucu pertamanya. Aku bersyukur bisa mengenal dirinya.
Tiap memasukkan anak sekolah, selalu dapat teman baru.
Aku mengenal Mama Yanti, saat anak keempat masuk TK. Mama Yanti berasal dari Makasar. Suaminya orang Bandung, dan bekerja di PLN. Orangnya kalem. Rajin senam.
Anaknya juga lima orang. Tiga perempuan, dua laki-laki.
Mama Yanti suka tanaman. Halamannya terawat dan tertata rapi. Mulai dari sirih yang menjuntai subur di antara dahan pohon mangga, sampai bunga anggrek. Menyejukkan mata yang memandangnya.
Aku pernah diberi bibit pohon kemangi.
Kami tetap kontakan sampai sekarang. Saling menghibur, saling menguatkan. Kami sama-sama single parent. Suaminya pergi mendahului, saat Nanda, putra bungsunya masih berumur dua tahun. Sekarang Nanda sudah mau masuk SMA.
Kedekatanku dengan Bu Puri terbangun saat putri bungsuku masuk TK. Orangnya ceria. Selalu optimis dan terus terang. Aku suka melihat saat dia tertawa. Bu Puri itu orang Jawa Betawi. Suaminya, Pak Sandy, dari Bandung,
Aku mengenalnya sebagai penjual MLM produk Tupperware.
Dia menawari aku.
Saat aku ambil Tupperware darinya, Bu Puri langsung memberi potongan sebesar 30%. Tanpa kuminta. Padahal, aku bukan membernya.
Sedangkan sebelum-sebelumnya, aku beli Tupperware pada teman berbeda, yang sudah lebih dulu kukenal dan kupercaya. Bahkan, aku sudah masuk jadi member atas anjurannya, dengan membeli produk tertentu dengan nilai yang sudah ditetapkan.
Dari situ, mataku jadi terbuka.
Kok aku nggak dikasih diskon, padahal aku membernya? Aku selalu diberi harga seperti yang tertera di katalog.
Begitulah, kadang kepercayaan membuta bisa membuat kita kecewa sendiri. Jadi pelajaran buatku.
Mungkin, dengan cara ini, Semesta melindungiku. Menjauhkan aku dari orang yang tidak tulus berteman denganku.
Setelah itu, memang mulai muncul beberapa hal yang tadinya tak terpikirkan olehku. Mulai asuransi, dan pinjam barang-barangku tidak dikembalikan. Ternyata, bukan hanya aku yang kena, beberapa teman lain juga mengeluhkan hal yang sama.
Begitulah...
Seleksi alam terjadi dengan cara unik dan tak terduga.
Sejak saat itu, setiap kali butuh tempat bekal atau minum, aku lebih memilih beli sama Bu Puri. Dia jujur dan tidak serakah. Tidak memanfaatkan teman sendiri. Aku jadi respek pada sikapnya itu.
Bu Puri juga membantu menukarkan tempat minum yang rusak dengan yang baru.
Dia yang mengurus sendiri ke leadernya. Setelah berhasil menukarkannya, dia serahkan padaku. Dan aku tidak perlu membayar lagi.
Selain berjualan Tupperware, Bu Puri juga menyediakan gas. Belakangan aku pun langganan beli gas padanya.
Saat gas sulit di pasaran, dia selalu menyisihkan satu atau dua tabung untukku. Sehingga aku tidak perlu pusing soal gas.
Belakangan Bu Puri pindah. Ke perum Kebon Kembang.
Tapi kami tetap kontakan hingga sekarang. Meski sudah beda desa.
Dia masih tetap suka mengirimiku makanan. Seperti bala-bala, kwetiau goreng, soto, atau jambu air kalau lagi musim.
Saat senggang, aku pun suka mengunjunginya. Ngobrol-ngobrol, ketawa bareng, untuk menghilangkan penat dari rutinitas kerja sehari-hari.
Mama Rama, sosok perempuan energik lain yang kukenal. Terbilang cukup dekat denganku. Dia berasal dari Wonogiri, suaminya dari Kebumen.
Mama Rama selalu menawarkan diri untuk membantu.
Mungkin terbiasa dengan perannya sebagai kader posyandu. Suaminya menjabat sebagai ketua RT di lingkungannya.
Meski beda RT, RW, tapi kami masih ada di satu desa.
Saat aku mengurus surat keterangan untuk tunjangan janda, Mama Rama menawarkan diri menemaniku ke kantor desa. Begitu juga saat anak bungsuku Ehi mau bikin KTP. Lagi-lagi Mama Rama mengajak untuk berangkat bareng. Katanya, Rama juga mau urus KTP dan SIM. Biar sekalian. Bareng ke Disdukcapil Karawang.
Mama Rama selalu bilang, "Jangan sungkan, Mi. Kalau perlu apa-apa, Mami bilang aja. Nanti, biar aku yang antarin..." Aku terharu mendengar kata-katanya itu.
Bapak Warsito, kukenal sejak anak-anak masih kecil dan sering sakit-sakitan. Berasal dari Jawa Timur. Istrinya orang Palembang. Dia bekerja di sebuah apotek, yang ada praktek dokternya juga.
Istrinya Fitri, seorang apoteker, bekerja di tempat yang sama.
Mereka suka kutitipi beli obat atau vitamin.
Kalau ada resep obat yang tak kumengerti, mereka bantu menjelaskan.
Aku bersyukur mengenal mereka. Mungkin ini cara Semesta menjaga aku, dengan menghadirkan orang-orang baik dalam hidupku.
Mungkin karena kami sama-sama perantau di Cikampek ini, sehingga ada perasaan senasib. Saudara jauh. Yang dekat ya tetangga. Teman yang sudah seperti saudara sendiri.
Ada beberapa teman lain yang baik padaku juga. Seperti Mama Abel, Mama Caca, Mama Steven, Mama Al. Anak mereka teman sekelas anakku yang bungsu.
Ada yang dari TK sampai SMP bareng.
Aku berusaha mengenal orangtua teman anakku juga. Biar kita bisa saling berbagi informasi dan saling menjaga.
Terimakasih orang-orang baik...🙏🙏
Kota Baru, Sabtu, 12 Juli 2026, Pk 13:36.
Komentar
Posting Komentar