defenisi bahagia

Bahagia

Hari ini Mas Sugi mengangkat topik tentang "Bahagia", dibagikan ke grup angkatan kami  dan dibahas dari berbagai sudut pandang.

Tadi aku bersih-bersih di depan. Cabut-csbut rumput dan menyapu daun-daun kering yang rontok, lalu membakarnya. Lumayan, jadi terlihat lebih lapang.

Meski capek, tapi ada rasa lega. Aku mulai sapu-sapu dari pk 6, dan pulang ke rumah pk 10. Dhamma, anak keempatku, tiga kali mengecekku ke depan sambil membawakan minum. Mungkin dia khawatir aku kecapean lalu pingsan.

Saat bersih-bersih itu, Bu Puri kirim soto. Radya, anak keduanya yang mengantar. Keluarga mereka selalu baik. 

Tiap masak sesuatu, Bu Puri selalu mengirimkannya untukku. Padahal, aku nggak kasih apa-apa.
Katanya , suka ingat aja ke cici kalau lagi masak sesuatu. Biar sedikit juga, pengen ngasih, biar bisa nyicipin. 
Jadi terharu...
Semoga Bu Puri dan keluarga selalu diberkahi.

Sotonya  langsung kumakan setelah pulang dari bebersih di depan.
Terimakasih Bu Puri...

Diingat seseorang juga menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Jadi merasa, ada yang tulus sayang dan peduli sama kita.
Bersyukur, dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Jadi penyemangat hidup. Dan merasa, hidup kita bermakna.

Tiap orang punya defenisi yang berbeda-beda tentang bahagia.
Karena...
Tiap orang punya porsinya sendiri.
Dan tiap orang punya versi bahagianya sendirinya pula.

Bagiku, melihat anak-anak tumbuh sehat, kuliah lancar dan segala sesuatunya berjalan baik, sudah cukup buatku. 

Di usiaku sekarang,  kebutuhanku juga tidak banyak. Aku merasa sudah cukup. Tidak ada hal yang harus kukejar lagi.

Sekarang, berusaha supaya bisa tetap sehat, tetap bisa menolong diri sendiri. Syukur-syukur , sisa usiaku masih bisa memberi manfaat pada sesama.

Kota Baru, Minggu, 21 Juni 2026, Pk 15:02.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamis, 3 Juli 2025, pukul 21.23.

ibu intan

memasuki usia 60 tahun